Friday, 9 January 2015

Manfaat dan Mudhorot Dihentikannya Pelaksanaan Kurikulum 2013 Sementara




Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) no. 160 pasal 1 yang menyatakan bahwa,
Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013.

Dan pasal 2 nya
(1) Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama 3 (tiga) semester tetap menggunakan Kurikulum 2013.
(2) Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan satuan pendidikan rintisan penerapan Kurikulum 2013.
(3) Satuan pendidikan rintisan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berganti melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 dengan melapor kepada dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota sesuai dengan
kewenangannya.

Maslahat bagi guru dan siswa mungkin siswa di masa depan akan diberikan kurikulum yang terbaik yang telah dievaluasi sehingga ketika diberlakukan sudah tidak ada lagi kekurangan baik dalam isi buku maupun masalah penilaian. Dampak positif yang lainnya mungkin kesiapan guru yang akan lebih disiapkan lagi untuk kelak melaksanakan kurikulum 2013 dengan terus melakukan pelatihan-pelatihan supaya sikap, kemampuan, dan mental guru benar-benar siap sehingga bisa dengan sikap, mental dan kemampuan yang sudah terlatih guru bisa lebih optimal dalam melaksanakan isi kurikulum 2013 sehingga dapat membantu siswa dalam mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
Sedangkan dari segi’mudharat’ nya adalah siswa akan dibuat bingung oleh sistem kurikulum yang berubah-rubah dalam waktu yang sangat singkat. Baru saja siswa beradaptasi dengan metode dan pendekatan belajar yang disusun oleh kurikulum 2013 harus terpaksa kembali lagi ke metode dan pendekatan belajar yang disusun kurikulum 2006. Sebenarnya isi pembelajaran yang disusun oleh kurikulum 2013 sudah berimbang dalam mengakomodir berbagai aspek perkembangan siswa seperti kognitif, afektif dan psikomotornya. Siswa juga dilatih berpikir dan berjiwa peneliti dengan pendekatan saintifiknya. Hanya saja, di lapangan para praktisi, yaitu guru sangat keberatan dengan sistem penilaian yang dianggap memberi beban yang terlalu banyak pada guru dalam aspek penilaian. Selain dari kebingungan siswa dalam proses belajarnya, ‘penundaan’ kurikulum 2013 juga telah menyia-nyiakan anggaran/ biaya yang dikeluarkan pemerintah dari APBN. Buku yang sudah tersedia juga akhirnya menjadi tidak terpakai. Banyak biaya yang dikeluarkan menjadi tidak manfaat.

SpartAce Couple: I Only Care About You


My writing about SpartAce Couple now is about how they care each other. I re-watch old episodes and paid more attention  to this couple scene and gladly found out that they actually care about each other. Remember last end year episode which JH only gave towel to KJK. And also after JH did something rude to JK during the game, she would hug him.
When Suzy came as a guest in ep hallyu, JK seemed protect JH from something I dunno what. But his reaction made me think that he's a real gentleman.


In ep. 103 when JH's tee was wet, she put a towel on JK's back so she would not make JK's tee wet too or dry it I dunno which one. It's so heartwarming scene and I can feel JH care a lot about her man (lol). Look Shin Se Kyung gaze, maybe she thought that JH was really caring to JK, it must be something beside her action...lolol

More...When JK did a game in ep. 164 and had to cover his eyes eat unhealthy food, JH reminded him that it was fried food.


More... In ep 178, after JK finished the game crossing Han river and got wet, JH gave him a towel and warm his hand by holding his hand.

Tuesday, 30 December 2014

Perkembangan Kurikulum 2013 dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Siswa



Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) no. 160 pasal 1 yang menyatakan bahwa,
Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013.
Berdasarkan Permendikbud tersebut, maka keberlangsungan kurikulum 2013 menjadi tidak jelas kapan akan diberlakukan kembali. Menurut menteri pendidikan, isi dari kurikulum 2013 perlu dikaji ulang dan dievaluasi dengan waktu pengkajian ulang yang belum ditentukan.
Dampaknya bagi perkembangan siswa tentu saja berdampak positif dan negatif. Dampak positifnya mungkin siswa di masa depan akan diberikan kurikulum yang terbaik yang telah dievaluasi sehingga ketika diberlakukan sudah tidak ada lagi kekurangan baik dalam isi buku maupun masalah penilaian. Dampak positif yang lainnya mungkin kesiapan guru yang akan lebih disiapkan lagi untuk kelak melakasanakan kurikulum 2013 dengan terus melaksanakan pelatihan-pelatihan agar supaya sikap, kemampuan, dan mental guru benar-benar siap sehingga bisa dengan optimal membantu siswa dalam mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Sedangkan dampak negatif nya adalah siswa akan dibuat bingung oleh sistem kurikulum yang berubah-rubah dalam waktu yang sangat singkat. Baru saja siswa beradaptasi dengan metode dan pendekatan belajar yang disusun oleh kurikulum 2013 harus terpaksa kembali lagi ke metode dan pendekatan belajar yang disusun kurikulum 2006. Sebenarnya isi pembelajaran yang disusun oleh kurikulum 2013 sudah berimbang dalam mengakomodir berbagai aspek perkembangan siswa seperti kognitif, afektif dan psikomotornya. Siswa juga dilatih berpikir dan berjiwa peneliti dengan pendekatan saintifiknya. Hanya saja, di lapangan para praktisi, yaitu guru sangat keberatan dengan sistem penilaian yang dianggap memberi beban yang terlalu banyak pada guru dalam aspek penilaian.

Pengaruh Kualitas Guru Terhadap Perkembangan Siswa



Guru, digugu dan ditiru. Itilah tersebut saya pribadi berpendapat tepat sekali karena siswa benar-benar melakukan apa yang dikatakan ataupun yang dilakukan oleh guru. Pernah suatu kali saya mengkritik guru Bahasa Inggris dari adik saya tentang pengucapan kata, tidak mengherankan adik saya lebih menurut apa yang dikatakan oleh gurunya dibandingkan nurut kepada saya, padahal saya juga guru Bahasa Inggris. Ya itu lah alasan kenapa saya bisa mengatakan bahwa Guru itu digugu dan ditiru. Hanya saja, saya meilhat permasalah kualitas guru di Indonesia yang tidak merata dan pengaruhnya pada perkembangan siswanya kelak. Berikut akan saya coba kemukakan tentang pengaruh mutu guru yang masih rendah terhadap pencapaian prestasi belajar siswa dan efek jangka panjang perkembangan siswa.
Menurut Slameto (1995:56-62), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi 2 golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Fakor intern adalah faktor-faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu.
Dalyono (1997:55) mengemukakan faktor-faktor yang menentukan pencapaian hasil belajar adalah:
a) Faktor internal (yang berasal dari dalam diri) seperti kesehatan, intelegensi dan
bakat, minat dan motivasi, cara belajar.
b) Faktor eksternal (yang berasal dari luar diri) seperti keluarga, sekolah, masyarakat, lingkungan sekolah.

Berdasarkan faktor yang menpengaruhi prestasi belajar, maka kualitas guru termasuk dalam faktor eksternal. Kualitas guru yang rendah tentu saja akan berpengaruh pada prestasi belajar dan perkembangan siswa. Guru yang tidak bisa mengembangkan metode atau cara mengajarnya akan menyulitkan siswa dalam mengembangkan potensinya. Guru yang tidak memperhatikan aspek kecerdasan majemuk siswa dan hanya berkutat pada pengajaran tradisional tentu tidak akan bisa atau sulit untuk menemukan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa-siswanya. Guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya juga tidak akan maksimal dalam memberikan pelajaran. Guru yang tidak memiliki wawasan tentang perkembangan anak, kemungkinan akan kesulitan dalam menemukan dan mengembangkan potensi anak didiknya di sekolah sehingga kecerdasan dan potensi siswa yang diajarkannya tidak akan terkembangkan dengan baik. Sebagai contoh, guru yang tidak memilki wawasan tentang kecerdasan majemuk tenta saja akan kesulitan untuk menilai kecerdasan sebenarnya dari masing-masing siswa. Potensi dan kecerdasan siswa dalam bidang populer seperti bahasa dan matematika saja yang mungkin akan diperhatikan oleh guru sedangkan siswa dengan kecerdasan lain seperti kinestetik, musical, naturalis, dan lainnya tidak terperhatikan oleh guru sehingga potensi siswa dengan kecerdasan lain diluar bahasa dan matematika-logis akan dianggap tidak berprestasi. Padahal jika guru mampu untuk mengenal, mengidentifikasi, dan mengembangkan potensi siswa dengan kecerdasa lain maka siswa dengan kecerdasan selain bahasa dan matematika-logis juga akan mencapai prestasi dengan caranya sendiri.

Monday, 29 December 2014

Problematika Guru di Indonesia

Kondisi guru di Indonesia saat ini tidak begitu baik. Menurut pemerhati pendidikan, Abduh Zen, dari Uji Kompetensi Awal (UKA) dan Uji Kompetensi Guru (UKG) menunjukkan bahwa hasilnya dibawah rata-rata sehingga dia menyebutkan bahwa kondisi guru di Indonesia memprihatinkan. (news.liputan6.com)
Menurut data Kemendiknas 2010 54% Guru di Indonesia Tidak Memiliki Kualifikasi yang Cukup untuk Mengajar. Secara kuantitas, jumlah guru di Indonesia cukup memadai. Namun secara distribusi dan mutu, pada umumnya masih rendah.  Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan ini cukup memprihatinkan, dengan prosentase lebih dari 50% di seluruh Indonesia.
Berdasarkan Teacher Emplyment & Development, World Bank 2007, 34% Sekolah di Indonesia Kekurangan Guru. Distribusi Guru tidak merata. 21% sekolah di perkotaan kekurangan Guru. 37% sekolah di pedesaan kekurangan Guru. 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan Guru dan 34% sekolah di Indonesia yang kekurangan Guru. Sementara di banyak daerah terutama perkotaan terjadi kelebihan Guru.
Menurut Analisis Data Guru 2009, Ditjen PMPTK 2009, sebaran indeks kualitas Guru di Indonesia setengah nilai maksimal indeks dimana nilai maksimal adalah 11.
(http://indonesiaberkibar.org/id/fakta-pendidikan)

Faktor – faktor yang mempengaruhi kondisi rendahnya kualitas guru.
·      Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh guru, Masih ada guru dengan latar belakang pendidikan SPG (setingkat SMA) dan enggan untuk meneruskan tingkat pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena alasan usia. (http://indonesiaberkibar.org/id/fakta-pendidikan)
·   Guru mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya atau disiplin ilmu yang dipelajarinya. (http://indonesiaberkibar.org/id/fakta-pendidikan)
·   Sikap guru yang tidak mau berkembang. Masih ada guru-guru yang merasa enggan untuk melakukan terobosan dalam aktivitas mengajarnya. Dengan alasan pengalaman berahun-tahun dalam mengajar, beberapa guru menolak inovasi terbaru untuk mengajar.
·      Keterampilan guru dalam bidang IT yang masih rendah. Masih ada beberapa guru yang tidak bisa menggunakan IT dalam aktivitas mengajarnya padahal di zaman sekarang ini guru dituntut untuk menguasai setidaknya dasar-dasar dari IT.
·         Penyebaran guru yang tidak merata di berbagai daerah sehingga penumpukkan jumlah guru dan kekurangan jumlah guru terjadi.
·      Akses informasi yang tidak berimbang antara guru di perkotaan dan di daerah. Guru yang berada di perkotaan dengan mudah mendapatkan berbagai macam pelatihan sedangkan guru yang berada di daerah, terutama daerah terpencil sulit untuk mendapatkan akses informasi dan sulit atau jaran mendapatkan pelatihan.