بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Wednesday, 22 June 2016

Mertua Vs. Menantu

Kemarin ini dapet 'pesan' dari seorang akhwat. Ceritanya akhwat ini dulu yang jadi 'comblang' temen saya menikah dengan bisa dibilang tetangganya lah. Akhwat ini sudah lama mengenal keluarga si ikhwan. Singkatnya akhwat ini bercerita bahwa mertua dari akhwat (temen saya) yang dia comblangin itu tidak sesuai dengan ekspektasi si mertua. Sang mertua 'curhat' kalau sejak menikah anak lelakinya itu tidak diperlakukan selayaknya seorang suami. Si menantu, bukannya melayani suami dengan mencuci pakaiannya malah menuruh si suami mencuci pakaiannya. Sang mertua juga komplain kalau menantunya itu tidak sopan dan kerap menyakiti dirinya. Dibilang kalau menantunya itu bicaranya high class, kalau pergi bekerja tidak pernah pamit, gak mau kerja bantuin pekerjaan rumah, dan pernah sakit hati oleh ayah si menantu. Intinya tuh menantu gak ada bagus-bagusnya dimata sang mertua. Nah akhwat 'mak comblang' ini meminta saya untuk menyampaikan hal ini kepada si menantu (teman saya) supaya dia merubah sikapnya. Dan yang paling ngeri itu, si mertua sampai berucap agar anak dan menantunya itu gak dikasih anak...widiiiiih kan ngeri tuuuuh...

Nah, kita gak bisa kan cuman mendengar keterangan dari 1 pihak saja, yaitu mertua saja. Kita juga harus tau keterangan dari pihak menantu. Karena belum tentu si menantu itu gak ada salah 100% dan belum tentu si mertua juga betul 100%.

Sang menantu itu teman saya, dan pastinya dia juga sering curhat masalah dia dan mertuanya. Dia cerita kalau mertua itu memperlakukan dia seperti pembantu. Sangat sering cucian piring dari pagi itu tetap kotor tak tercuci sampai sore karena si mertua mengharapkan si menantu lah yang mencuci piring-piring kotor tersebut. Padahal mertuanya hanya diam di rumah seharian tapi cucian piring diserahkan kepada si menantu. 

Perihal kewajiban cuci mencuci, teman saya ini bilang bahwa ada kesepakatan antara dia dan suaminya dalam membagi tugas rumah karena memang mereka berdua bekerja. Disepakatilah bahwa si suami mencuci baju dan si istri menyetrika baju. Wajar dong kalau suami dan istri mempunyai kesepakatan.

Nah yang jadi persoalan itu perbedaan cara pikir, cara pandang antara mertua dan menantunya ini. Sang mertua beranggapan bahwa semua pekerjaan rumah tangga itu harus dikerjakan oleh istri. You know lah pandangan kolot ini. Yah namanya juga orangtua, dengan pandangan maaf yah menurut saya itu udah kuno kalau beranggapan bahwa istri yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Kok kesannya menantu itu pembantu gratisan. Saya sih bukannya membela teman saya itu. Cuman yah gak enak banget sih udah kerja seharian di luar eeeeh masih disuruh beresin kerjaan rumah juga. 

Tapi yah memang begini resiko tinggal dengan mertua, pasti banyak salah pahamnya. Makanya kalau udah menikah banyak yang bilang walaupun ngontrak sebaiknya tinggal terpisah dengan orangtua. Karena memang intervensi orangtua itu tinggi sekali jika pasangan suami istri tinggal dengan orangtua. Apalagi jika orangtuanya itu berpandangan kolot bin kuno.
Tapi yah ada baiknya juga sih kalau emang terpaksa tinggal dengan orangtua, menantu harus dobelin kadar sabarnya. Harus banyak ngalah walaupun sakit hatinya tiap hari. Tapi emang dari sejarahnya sangat jarang sekali, hubungan yang harmonis antara mertua perempuan dan istri. Emang dari sananya udah begitu, selalu saja ada tegangan listrik yang memercik. Dan yang ngenesnya selalu menantu yang dipojokkan...hiks

Bagi saya yang masih asyik melajang, jadi tambah tantangan baru nih. Harus mempersiapkan dan mempelajari bagaimana cara menangani mertua yang gak oke...hahahha. Mudah-mudahan sih prakteknya as easy as teorinya. Kalau kita baca-baca trik dan tips menghadapi mertua kan kayaknya gampang gampang saja. Yah mudah-mudahan nanti kalau menikah, mertuanya asyik, Atau kalau bisa mertuanya jauh aja di luar kota, pulau atau sekalian aja di luar negeri.

p.s: Sorry nih ilustrasi mertuanya menyeramkan...hahahha

Monday, 13 June 2016

Korean Children Song: Butterfly

Song Minguk's favourite Song 


Butterfly


나비야 나비야 (nabiya nabiya)
[Hey butterfly, Hey butterfly]
이리 날아 오너라 (iri nara onuhra)
[come fly over here]
노랑 나비, 흰 나비 (norang nabi huin nabi)
[yellow butterfly white butterfly]
춤을 추며 오너라 (choomul choomyuh onuhra)
[Dance while you come]
봄바람에 꽃잎도 (bombarameh ggotipdo)
[in the spring wind the flower petals as well]
방긋방긋 웃으며 (banggeut banggeut ooseumyuh)
[smiling, smiling while laughing]
참새도 짹짹짹 (chamsedo jjekjjekjjek)
[the sparrows also chirp chirp chirp]
노래하며 춤춘다 (norehamyuh choomchoonda)
[singing as they dance]



Jageun Byeol/ (Twinkle Twinkle Little Star)
반짝 반짝 작은 별
아름답게 빛나네
서쪽 하늘에서도
동쪽 하늘에서도
반짝 반짝 작은 별
아름답게 빛나네banjjag banjjag jageun byeol 
aleumdabge bichnane 
seojjog haneuleseodo 
dongjjog haneuleseodo 
banjjag banjjag jageun byeol 
aleumdabge bichnane


Gom Se Mari (Three Bears)
곰 세 마리가 한집에 있어
아빠곰 엄마곰 애기곰 
아빠곰은 뚱뚱해
엄마곰은 날씬해
애기곰은 너무 귀여워
으쓱으쓱 잘한다
Gom se maliga hanjib-e iss-eo 
appagom eommagom aegigom 
appagom-eun ttungttunghae 
eommagom-eun nalssinhae 
aegigom-eun neomu gwiyeowo 
eusseug-eusseug jalhanda


Ageotte (Crocodiles)정글 숲을 지나서 가자. 
엉금엉금 기어서 가자 
늪 지대를 지나서 가면 
악어떼가 나올라 악어떼! 

정글 숲을 지나서 가자. 
엉금엉금 기어서 가자 
늪 지대를 지나서 가면
악어떼가 나올라 악어떼!
Ageotte 
jeonggeul supeul jinaseo gaja. 
eonggeumeonggeum gieoseo gaja 
neup jidaeleul jinaseo gamyeon 
ageottega naolla ageotte! 

jeonggeul supeul jinaseo gaja. 
eonggeumeonggeum gieoseo gaja 
neup jidaeleul jinaseo gamyeon 
ageottega naolla ageotte!


Tyranno Song

쿵쿵 쿠구쿵쿵 공룡이 나타났다! 
kungkung kugukungkung gongryongi natanatda

나는야 폭군 티라노사우루스
na nn ya pokgun tyrannosaurus

몸길이 15미터, 키는 5미터 몸무게 7톤
momgili sipometer ki nn ometer mommuge chilton (uwa!)

날카로운 이빨 
nalkaroun ibbal (samsim sentina doendae!)

강력한 턱으로
kang ryuk han teok uro

냠냠 냠냠 먹이를 뜯어먹지
nyamnyam nyamnyam meok i ll dduder meokji (uu)

내 별명은 폭군 도마뱀 티라노사우루스
nae byulmyung un pokgun domabaem tyrannosaurus

쿵쿵 쿵쿵쿵 나타나면 
kungkung kungkungkung natanamyun

벌벌 벌벌 모두들 도망치지
beolbeol beolbeol modudl domang chiji (uak!)

2절
쿵쿵 쿠구쿵쿵 공룡이 나타났다! 
kung kung kugukungkung gongryongi natanatda

나는 날쌘 사냥꾼 티라노사우루스
na nn nalssan sa nyang kkun tyrannosaurus

거대한 꼬리로 중심을 잡고
gerdaehan kkoriro jungsim ul japgo

재빨리 달려나간다. 
jaeppalli dalryer naganda (sisok osipkilo uwa)

날카로운 시선 
nalkaroun siseon (saram cher reom bolsu itdae)

한번 물은 사냥감은
hanbeon mul un sa nyang gam un 

절대 절대 놓치지 않지
juldae juldae notchiji anchi

그러니 빨리 도망쳐 
gruni bballi domang chyer (uak!)

하지만 내게도 비밀은 있어 
hajiman naegedo bimilun it er

앞 다리가 짧지. 
apdariga jjal jji (yakhae yakhae!)

네발로 걷기도, 먹이잡기도 안 되지만 
sebalro keogido meok i japkido an doijiman (ohye!)

쿵쿵 나는야 티라노사우루스!
kungkung Na nn ya tyrannosaurus (uak!)


credit: KEBIKIDS
SkySea TV

Tuesday, 31 May 2016

PENGGUNAAN MEDIA BIG BOOK DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KALIMAT SEDERHANA SISWA KELAS 2 SEKOLAH DASAR

Judul:
PENGGUNAAN MEDIA BIG  BOOK DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KALIMAT SEDERHANA SISWA KELAS 2 SEKOLAH DASAR




Abstrak

Keterampilan menulis adalah keterampilan yang penting untuk dikuasai tapi juga paling sulit untuk dikuasai. Keberhasilan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah banyak ditentukan kemampuannya dalam menulis. Oleh karena itu, pembelajaran menulis mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam proses pembelajaran bahasa. Kurangnya penggunaan media yang cocok dan kurangnya latihan menjadi alasan rendahnya keterampilan menulis siswa. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah penggunaan media big book dalam meningkatkan keterampilan menulis kalimat sederhana di kelas 2 sekolah dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dan hasil belajar dari keterampilan menulis kalimat sederhana dengan menggunakan media big book. Observasi dan analisis data digunakan sebagai desain dan prosedur penelitian dan diperkuat oleh Siklus Perbaikan Pembelajaran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa media big book berhasil membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan mereka dalam menulis kalimat sederhana. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatkan nilai rata-rata. Pada pra-siklus diperoleh nilai rata-rata 55,45, pada siklus I meningkat menjadi 74,85 dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 78,48.

Kata kunci: kalimat sederhana, keterampilan menulis, media big book

Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai. Dengan keterampilan menulis yang cakap seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasannya untuk maksud dan tujuannya. Dalam menulis siswa memiliki tugas untuk menyusun kata dan kalimat dengan tepat agar tulisannya dapat dipahami oleh pembaca dengan jelas.
Meskipun telah disadari bahwa penguasaan bahasa tulis mutlak diperlukan dalam kehidupan modern, dalam kenyataannya pengajaran keterampilan menulis kurang mendapatkan perhatian. Pelajaran menulis kalimat atau mengarang sebagai salah satu aspek dalam pengajaran bahasa Indonesia kurang ditangani secara sungguh-sungguh. Akibatnya keterampilan menulis siswa kurang memadai. Keterampilan menulis merupakan ketrampilan berbahasa yang sangat penting bagi siswa, disamping keterampilan berbahasa lainnya, baik selama mereka menikuti pendidikan di berbagai jenjang maupun dalam kehidupannya nanti di masyarakat. Keberhasilan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah banyak ditentukan kemampuannya dalam menulis. Oleh karena itu, pembelajaran menulis mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam proses pembelajaran bahasa. Menurut syafi’e (dalam Saddhono dan Slamet: 2014, 150) keterampilan menulis harus dikuasai oleh anak sedini mungkin dalam kehidupannya di sekolah.
1. Identifikasi Masalah
Dalam menulis siswa memiliki tugas untuk menyusun kata dan kalimat dengan tepat agar tulisannya dapat dipahami oleh pembaca dengan jelas. Sayangnya, masih banyak siswa sekolah dasar kesulitan untuk menyusun kata-kata menjadi kalimat atau menyusun beberapa kalimat menjadi sebuah paragraf. Sehingga muncul pernyataan bahwa Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang dirasa paling sulit dibandingkan keterampilan berbahasa lainnya seperti, menyimak, berbicara dan membaca.
Kesulitan siswa sekolah dasar, khususnya di kelas rendah adalah menentukan subjek, predikat, objek atau keterangan dalam sebuah kalimat. Masih banyak diantara siswa sekolah dasar kelas rendah menulis sebuah kalimat tanpa struktur kalimat yang lengkap. Diantara siswa tersebut masih banyak yang kurang tepat dalam memilih subjek, predikat ataupun objek dari sebuah kalimat. Beberapa siswa tidak menempatkan subjek dalam kalimatnya. Beberapa siswa yang lainnya kurang tepat dalam menempatkan kata kerja atau predikatnya.
2. Analisis Masalah
Belum berkembangnya pembelajaran menulis di sekolah dasar bisa dikarenakan belum optimalnya penggunaan media yang mendukung siswa untuk belajar menulis lebih baik. Masih banyak guru yang belum mampu menggunakan media yang tepat untuk dapat membantu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Kurangnya latihan menulis juga bisa menjadi sebab dari rendahnya keterampilan menulis siswa. Padahal keterampilan menulis siswa itu bisa meningkat jika siswa tersebut latihan dengan intens. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartati dan Cuhariah (2015: 167) yang menyatakan bahwa latihan menulis dengan berbagai ragam latihan mutlak harus dilakukan untuk menguasai keterampilan menulis
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Siswa kelas awal memiliki karakteristik yang berbeda dengan siswa kelas lanjutan. Siswa kelas awal memiliki rentang konsentrasi yang pendek sehingga dibutuhkan alat atau media pendukung yang mampu membuat mereka tertarik dengan pelajarannya. Pembelajaran menulis di kelas awal memerlukan alat atau media yang dapat membantu siswa dalam mengoptimalkan keterampilan menulisnya. Media pembelajaran yang menarik seperti gambar, grafik, video atau objek yang menarik perhatian akan mampu membantu proses belajar menulis siswa kelas awal dengan optimal.
Salah satu media yang bisa digunakan dalam proses belajar dan mengajar bahasa, khususnya menulis permulaan di kelas adalah Big Book.
            Dengan penggunaan media Big Book, diharapkan dapat menjadi alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh guru dalam mengajarkan pembelajaran menulis dan sebagai pemecahan masalah bagi siswa yang kesulitan meningkatkan keterampilan menulisnya.
            Penggunaan media Big Book ini juga menjadi prioritas dalam upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis kalimat siswa kelas 2 Sekolah Dasar.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah penelitian dapat diidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut:
1. Rendahnya keterampilan menulis siswa.
2. Penggunaan model pembelajaran yang digunakan belum bervariasi dan bermakna.
3. Proses penyampaian materi pelajaran belum mengembangkan keterampilan siswa dalam menulis. 
            Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana proses proses pembelajaran menulis kalimat sederhana siswa sekolah dasar kelas 2 dengan menggunakan media Big Book?
2. Seberapa besar hasil belajar menulis kalimat sederhana siswa sekolah dasar kelas 2 dengan menggunakan media Big Book?
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal berikut:
1. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran menulis kalimat sederhana dengan menggunakan media Big Book.
2. Untuk mendeskripsikan hasil belajar menulis kalimat sederhana siswa sekolah dasar kelas 2.
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat kepada pihak-pihak yang berkaitan dalam pendidikan.
1. Bagi guru, dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penggunaan media Big Book di dalam kelas yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembelajaran menulis.
2. Bagi siswa, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menumbuhkan keaktifan dan interaksi siswa dalam pembelajaran menulis, serta memotivasi siswa untuk belajar menulis dengan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis dan menulis. 
3. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran menulis pada siswa sekolah dasar.
4. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran tentang penggunaan media Big Book dalam pembelajaran, untuk digunakan sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya.

Kajian Pustaka
A. Media Pembelajaran
1. Hakikat Media
Media adalah alat penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Gerlach dan Ely dalam Sundayana (2014:14) menyatakan bahwa media jika digunakan dengan tepat akan membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Menurut Hamidjoyo dalam Sundayana (2014:4) menyatakan batasan media sebagai bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebarkan ide, gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan dan pendapat yang dikemukakan itu sampai pada penerima yang dituju. 
2. Fungsi Media dalam Proses Pembelajaran
Sadiman dalam Sundayana (2014:5) menyatakan bahwa media mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.      Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalitas
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra.
3.      Menimbulkan gairah belajar.
4.      Memungkinkan anak untuk belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya.
5.      Memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.
6.      Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar.
7.      Pembelajaran dapat lebih menarik.
8.      Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar.
9.      Waktu pelakasanaan pembelajaran dapat diperpendek.
10.  Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.
11.  Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan.
12.  Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.

B. Big Book Sebagai Media Pembelajaran Menulis
Big Book atau buku besar adalah buku bacaan yang memiliki ukuran, tulisan, dan gambar yang besar. Ukuran Big Book beragam dari mulai ukuran A3, A4, A5 atau dengan ukuran yang lebih besar lagi. Ukuran Big Book harus mempertimbangkan segi keterbacaan seluruh siswa di kelas. Big Book dapat digunakan di kelas awal karena Big Book memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru dapat memilih Big Book dengan isi cerita atau topik yang disesuaikan dengan minat siswa atau sesuai dengan tema pelajaran. (Buku Sumber untuk Dosen LPTK, Draft Januari 2014: 42)
Menurut Karges-Bone dalam Buku Sumber untuk Dosen LPTK, (2014: 43), sebuah Big Book akan membuat pembelajaran bahasa lebih efektif jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Cerita singkat (10-15 halaman), (2) Pola kalimat jelas, (3) Gambar memiliki makna, (4) Jenis dan ukuran huruf jelas terbaca, dan (5) Jalan cerita mudah dipahami.
            Penggunaan Big Book dalam pembelajaran bahasa memiliki beberapa tujuan, yaitu:
1.      Memberi pengalaman membaca.
2.      Membantu siswa memahami buku.
3.      Mengenalkan berbagai jenis bahan bacaan kepada siswa.
4.      Memberi peluang kepada guru memberi contoh bacaan yang baik.
5.      Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
6.      Menyediakan contoh teks yang baik untuk digunakan siswa.
7.      Menggali informasi. (www.prioritaspendidikan.org)
Dengan ukurannya yang besar disertai gambar yang menarik, dalam proses pembelajaran bahasa, Big Book memiliki beberapa keuntungan, seperti:
1.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran bahasa yang menyenangkan.
2.      Memungkinkan siswa melihat tulisan yang sama ketika guru membaca tulisan yang ada dalam Big Book.
3.      Memungkinkan siswa secara bersama-sama memberi makna pada setiap tulisan yang ada dalam Big Book.
4.      Membantu siswa untuk memahami hubungan antara bahasa lisan dan tulisan.
5.      Mengembangkan semua aspek bahasa.
6.      Dapat diselingi percakapan yang relevan mengenai isi cerita  dalam Big Book bersama siswa sehingga terjadi proses belajar yang interaktif. Topik bacaan akan berkembang sesuai dengan pengalaman dan imajinasi siswa. (Buku Sumber untuk Dosen LPTK, Draft Januari 2014: 44)
Berikut adalah langkah-langkah membuat Big Book.
1.      Siapkan kertas minimal berukuran A3 sebanyak 8-10 halaman atau 10-15 halaman, spidol warna, lem dan kertas HVS.
2.      Tentukan topik cerita.
3.      Kembangkan topik cerita menjadi cerita untuh dalam kalimat-kalimat singkat.
4.      Tentukan gambar atau ilustrasi untuk setiap halaman.
5.      Buatlan desain cerita dan gambar/ ilustrasi.
6.      Tuliskan kalimat singkat di atas kertas HVS.
7.      Tempelkan setiap kalimat tersebut di halaman yang sesuai dengan gambar/ilustrasi.
8.      Ide cerita Big Book dapat diambil dari kejadian-kejadian yang terjadi sehari-hari di kehidupan siswa. Ide yang lain juga bisa diambil dari informasi penting yang berisi pengetahuan, prosedur, atau jenis teks lainnya yang sesuai dengan tema di setiap kelas yang sesuai dengan kurikulum yang dikembangkan.
(Buku Sumber untuk Dosen LPTK, Draft Januari 2014: 45)

C. Menulis
1. Hakikat Menulis
Menulis bisa dikatakan sebagai kegiatan yang membentuk simbol-simbol. Tetapi menulis lebih dari sekedar memproduksi simbol grafis, seperti berbicara yang diartikan bukan hanya sebagai produksi suara. Simbol-simbol ini harus disusun, berdasarkan konvensi tertentu, untuk membentuk kata-kata dan kata-kata disusun untuk membentuk kalimat.
Menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai (Tarigan, 1986:15). Menulis, menurut McCrimmon (dalam Saddhono dan Slamet: 2014, 151), merupakan kegiatan menggali pikiran dan perasaan mengenai suatu objek, memilih hal-hal yang akan ditulis, menentukan cara menuliskannya sehingga pembaca dapat memahaminya dengan mudah dan jelas.
Slamet (2008:72) mengemukakan kemampuan menulis yaitu kemampuan berbahasa yang bersifat produktif; artinya, kemampuan menulis ini merupakan kemampuan yang menghasilkan; dalam hal ini menghasilkan tulisan.
Menurut Solehan, dkk (2008: 9.4) kemampuan menulis bukanlah kemampuan yang diperoleh secara otomatis. Solehan menjelaskan bahwa kemampuan menulis seseorang bukan dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh melalui tindak pembelajaran. Berhubungan dengan cara pemerolehan kemampuan menulis, seseorang yang telah mendapatkan pembelajaran menulis belum tentu memiliki kompetensi menulis dengan andal tanpa banyak latihan menulis.
Menurut Nurgiyantoro (2014: 422), aktivitas menulis merupakan sebuah bentuk manifestasi kompetensi berbahasa paling akhir dikuasai pembelajar bahasa setelah kompetensi menyimak, berbicara dan membaca. Dibandingkan ketiga kompetensi bahasa tersebut, kompetensi menulis bisa dikatakan lebih sulit untuk dikuasai bahkan oleh penutur asli bahasa yang bersangkutan sekalipun. Hal ini disebabkan karena kompetensi menulis menghendaki penguasaaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi dari tulisan. Baik unsur bahasa maupun unsur isi pesan harus terjalin sedemikian rupa sehingga menghasilkan tulisan yang runtut, padu dan berisi.
Kegiatan menulis menghendaki orang untuk menguasai lambang atau symbol-simbol visual dan aturan tata tulis, khususnya yang menyangkut masalah ejaan. (Nurgiyantoro:2014, 423)
Pada dasarnya menulis itu bukan hanya melahirkan pikiran atau perasaan saja, melainkan juga merupakan pengungkapan ide, pengetahuan, ilmu dan pengalaman hidup seseorang dalam bentuk bahasa tulis. Oleh karena itu, menulis bukanlah merupakan kegiatan yang sederhana dan tidak perlu dipelajari, tetapi harus dikuasai.
Penguasaan terhadap menulis berarti keterampilan untuk mengetahui dan memahami struktur bahasa yang sesuai dengan kaidah yang berlaku. Keterampilan tersebut adalah sebagian dari persyaratan keterampilan menulis seseorang untuk mengetahui, memahami, dan menggunakan unsur-unsur kata, kalimat, paragraf, serta tata tulis menulis.(Saddhono dan Slamet:2014, 153)
Menulis pada hakikatnya adalah melukiskan lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami seseorang untuk dibaca orang lain yang dapat memahami bahasa dan lambang grafis tersebut.
2. Pembelajaran Menulis di SD
Pembelajaran menulis di SD dilaksanakan sejak kelas I sampai dengan kelas VI. Kegiatan menulis tidak dapat terlepas dari kegiatan bahasa lainnya seperti kegiatan membaca, menyimak dan berbicara. Pada pelaksanaan pembelajaran guru harus dapat memadukan keempat unsur kebahasaan tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Rofi’udin dan Zuchdi (1998: 80-81), mengungkapkan bahwa pembelajaran menulis di SD dibagi menjadi dua kategori yaitu pramenulis dan menulis.
1) Pramenulis meliputi:
a) melemaskan lengan dan menulis di udara,
b) memegang pensil dengan benar,
c) melemaskan jari dengan mewarnai, menjiplak, dan melatih
dasar menulis,
d) melemaskan jari dengan cara menuliskan huruf di pasir, di meja,
dan di udara.
2) Pembelajaran menulis permulaan meliputi:
a) penulisan huruf,
b) penulisan kata,
c) penggunaan kalimat sederhana,
d) tanda baca (huruf kapital, titik, koma, tanda tanya).
3. Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan yang harus dikuasai. Dengan keterampilan menulis yang cakap seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasannya untuk maksud dan tujuannya. Dalam menulis siswa memiliki tugas untuk menyusun kata dan kalimat dengan tepat agar tulisannya dapat dipahami oleh pembaca dengan jelas. Keterampilan menulis merupakan salah satu jenis keterampilan yang harus dimiliki siswa karena kemampuan menulis berpengaruh terhadap pembentukan kemampuan berbahasa lain, yaitu membaca, menyimak, dan berbicara.
            Keterampilan menulis tidak dapat dicapai dengan mudah. Untuk mendapatkan keterampilan menulis yang baik diperlukan latihan yang intens dan berkelanjutan. Latihan menulis itu banyak bentuknya. Seperti yang disampaikan oleh Hartati dan Cuhariah (2015: 167), berikut adalah beberapa ragam latihan menulis yang dapat dilakukan oleh siswa, yaitu: latihan menyalin, dikte/ imla, melengkapi dan mencocokan gambar dengan tulisan, dan mengarang sederhana.
Zuchdi dan Budiasih (1996: 62) menjelaskan bahwa kemampuan menulis merupakan jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat produktif, yaitu menghasilkan tulisan. Menulis memerlukan kemampuan kompleks, yaitu kemampuan berpikir secara teratur dan logis, kemampuan mengungkapkan gagasan secara jelas dengan menggunakan bahasa yang efektif, dan kemampuan menerapkan kaidah tulis-menulis dengan baik. Kemampuan ini meliputi diksi, ejaan, kaidah kebahasaan dan sistematika penulisannya.
Suriamiharja, dkk (1996: 1), mengemukakan bahwa keterampilan menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafik yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis adalah keterampilan seseorang dalam menyampaikan pesan, ide atau gagasan secara tertulis agar dapat dimengerti oleh orang lain.
4. Pengertian Menulis Kalimat Sederhana
J.S Badudu dan Zain (1996: 603) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, mengemukakan bahwa kalimat yaitu “susunan kata atau kelompok kata yang teratur dan mengandung maksud atau pikiran yang jelas”. W.J.S. Poerwadarminta, (1984: 883) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, mengemukakan bahwa sederhana yaitu “tidak banyak seluk beluknya, tidak banyak pernik”.
Berdasarkan pengertian di atas maka kalimat sederhana diartikan sebagai kesatuan ujaran yang terdiri dari beberapa kata dan mengandung maksud tertentu.
Pembelajaran menulis di SD kelas awal merupakan pembelajaran menulis permulaan yang difokuskan pada penulisan huruf, kata, penggunaan kalimat sederhana, dan tanda baca yang meliputi huruf kapital, titik, koma, dan tanda tanya (Rofi’uddin dan Zuchdi, 1998: 80).
Berdasarkan penjelasan di atas, kegiatan menulis kalimat sederhana yaitu kegiatan menulis permulaan yang terdiri dari beberapa kata dan mengandung maksud tertentu.
5. Evaluasi Pembelajaran Menulis
Penilaian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran di kelas. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana dikutip oleh Nurgiyantoro (2010: 9) dikemukakan bahwa penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.
Guru dapat menggunakan berbagai cara penilaian untuk mengetahui perkembangan belajar siswa. Pada pembelajaran menulis evaluasi dapat dilakukan melalui dua macam cara, yakni dengan tes dan non tes. Teknik tes maupun non tes dapat digunakan untuk mendapatkan informasi atau data tentang siswa yang dinilai. Dalam hal ini guru harus menentukan kapan harus menggunakan tes dan kapan menggunakan non tes.

Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran
A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian serta Pihak yang Membantu
1. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 2 sebanyak 33 orang yang terdiri dari 25 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.
2. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SDN Cicadas 8 Kota Bandung kelas 2 yang beralamat di Jl. Asep Berlian No. 33 Bandung
3. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2016 sampai dengan 26 April 2016.
            B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Prosedur Penelitian Tindakan Kelas II ini terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilakukan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Hasil ulangan Bahasa Indonesia mengenai menulis kalimat dan hasil observasi awal digunakan sebagai bahan tindakan pada siklus 1 dalam rangka meningkatkan aktivitas siswa pada pokok bahasan menulis kalimat.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti kemudian melakukan refleksi atas tindakan yang telah dilakukan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan atas tindakan yang telah dilakukan, maka rencana tindakan perlu disempurnakan lagi agar tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekadar mengulang dari apa yang telah dilakukan sebelumnya. Demikian seterusnya sampai masalah yang diteliti dapat diatasi. Berikut adalah pelaksanaan tindakan kelas menurut I.G.A.K Wardhani:
1. Perencanaan Tindakan
Pada kegiatan ini yang dilakukan peneliti meliputi penyusunan rancangan tindakan seperti RPP, menyiapkan metode yang sesuai dengan konsep yang  dibahas serta instrumen penilaian yang akan digunakan.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tahap ini merupakan penerapan dari rancangan yang telah dirancang pada tahap perencanaan. Pelaksanaan tindakan ini terdiri dari proses belajar mengajar, evaluasi/ observasi dan refleksi yang dilakukan pada setiap siklusnya.
Prosedur umu pembelajaran yang ditempuh untuk perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Memulai pembelajaran dengan menarik perhatian siswa, memotivasi siswa, mengaitkan pelajaran dengan pengalaman siswa, dan menggambarkan garis besar materi dan kegiatan pembelajaran.
b. Melakukan pembelajaran sesuai dengan tujuan atau hakikat materi pembelajaran, perkembangan dan kebutuhan siswa, situasi dan lingkungan belajar.
c. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media Big Book.
d. Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan secara klasikal.
e. Merancang pengelolaan kelas dengan menentukan penataan ruang dan fasilitas belajar serta pengorganisasian siswa secara klasikan.
f. Melaksanakan penilaian pembelajaran.
g. Menyimpulkan hasil pembelajaran.
h. Melakukan tindak lanjut pembelajaran.
Prosedur khusus pembelajaran yang ditempuh untuk perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pokok bahasa menulis kalimat sesuai dengan inti pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Secara klasikal siswa membaca cerita melalui media Big Book.
b. Siswa dan guru bersama-sama membaca dengan bantuan media Big Book.
c. Siswa secara berkelompok membaca cerita melalui media Big Book.
d. Siswa melakukan latihan menulis kalimat berdasarkan gambar.
e. Guru membimbing siswa dalam melakukan latihan menulis kalimat.
f. Siswa melakukan latihan menulis kalimat dengan berdasarkan gambar yang dibuatnya sendiri.
g. Siswa membuat Big Book dengan menggambar dan menulis kalimat sendiri sesuai dengan gambar yang dibuatnya.
h. Guru melakukan penilaian proses terhadap siswa pada kegiatan yang ditugaskan guru.
i. Guru memeriksa, menilai dan melaporkan hasil kerja siswa serta memberikan penghargaan terhadap hasil kerja siswa dengan kinerja baik.
3. Observasi
Dalam pelaksanaan tindakan kelas observasi dilaksanakan setelah melihat hasil dari penelitian tersebut kemudian hasil pengamatan tersebut dikumpulkan yang selanjutnya dianalisis apakah hasilnya baik atau kurang baik. Namun demikian kegiatan observasi dalam penelitian tindakan kelas dapat disejajarkan kedudukannya dengan kegiatan pengumpul data dalam penelitian formal.
Dilihat dari cara melakukannya, menurut  Wardhani (2014 : 2.25) observasi dapat dibedakan sebagai berikut :
1.    Observasi terbuka , dalam observasi terbuka pengamat tidak menggunakan kertas observasi, melainkan hanya menggunakan kertas kosong untuk merekam pelajaran yang diamati.
2.    Observasi terfokus, observasi terfokus secara khusus ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran.
3.    Observasi terstruktur, observasi terstruktur menggunakan instrument observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda (v) pada tempat yang disediakan.
4.    Observasi sistematik, lebih rinci dari observasi terstruktur dalam kategori data yang diamati.
Sasaran dilakukannya observasi adalah untuk menemukan hal-hal berikut:
a.    Seberapa jauh pelaksanaan tindakan telah sesuai dengan rencana tindakan yang ditetapkan sebelumnya.
b.   Seberapa banyak pelaksanaan tindakan telah menunjukkan tanda-tanda akan tercapainya tujuan tindakan.
c.    Apakah terjadi dampak tambahan atau lanjutan yang positif meskipun tidak direncanakan. Hal ini perlu diikuti dengan upaya untuk lebih mengintensifkannya.
d.   Apakah terjadi dampak sampingan yang negatif sehingga merugikan atau cenderung mengganggu kegiatan lainnya.
Pada tahap observasi ini kegiatan yang dilakukan peneliti adalah menghimpun data dengan menggunakan alat pengumpul data yang telah dipersiapkan untuk dapat menghasilkan temuan dan masukan selama penelitian berlangsung dalam upaya untuk merencanakan kembali tindakan yang akan dilakukan dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
4. Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan analisis sintetis, interpretasi, dan eksplanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang diperoleh  sehingga data yang tercatat maupun yang tidak tercatat tetapi sempat terekam oleh peneliti, dikonfirmasikan dan dianalisis serta dievaluasi untuk dimaknai supaya dapat diketahui pelaksanaan tindakan yang telah disebut dapat dicapai atau belum agar peneliti mendapatkan kejelasan tindakan baru yang akan dilakukan kemudian. Kegiatan refleksi, merupakan kegiatan untuk menemukan hal-hal tertentu untuk kemudian dilanjutkan membuat perencaaan baru untuk melakukan tindakan baru. Bila ada hal-hal yang perlu perubahan atau penyempurnaan, maka akan dirumuskan bagian mana dari rancangan tindakan yang membutuhkan perubahan atau perbaikan tersebut sehingga aspek-aspek yang sudah baik akan menjadi lebih baik lagi, dan aspek yang belum baik akan diupayakan supaya menjadi baik. Penyempurnaan ke arah perbaikan tindakan selanjutnya dirumuskan untuk dituangkan ke dalam rencana tindakan baru.
Untuk siklus II (tindakan II) dalam penelitian tindakan ini dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi dari siklus I, sehingga masing-masing siklus saling keterkaitan. Siklus II merupakan modifikasi dari siklus I. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sehingga indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dengan kata lain kekurangan atau kelemahan yang ditemui pada siklus I dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk perbaikan pada siklus II.
C. Teknik Analisis Data
1.      Data tingkat pemahaman siswa dikumpulkan dengan menggunakan lembaran observasi.
2.      Data prestasi belajar siswa diperoleh dari hasil tulisan siswa pada akhir proses pembelajaran.
3.      Pencatatan dilakukan oleh guru yang bersangkutan dan selama proses pembelajaran berlangsung.
4.      Semua hasil observasi, pencatatan dan hasil tulisan siswa pada siklus pertama dibandingkan dengan hasil siklus kedua.
Pengolahan data dapat diperoleh dari :
1. Observasi
            Observasi dilakukan untuk melakukan pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran atau pada saat proses pembelajaran berlangsung. Yang diamati adalah proses pembelajaran menulis kalimat sederhana dengan bantuan media Big Book.
2. Tes
            Hasil belajar siswa diperolah dari tes dengan menggunakan perhitungan yang dilakukan pada akhir pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menulis kalimat sederhana sesuai dengan gambar yang diberikan. Berikut rumus penskoran kemampuan siswa yang diadaptasi dari Depdikbud (1995) dan Depdiknas (2002).
0
Keterangan:       
 N                    = Nilai dengan rentangan 10-100
                               = Jumlah skor yang diperoleh siswa
                          = Jumlah skor maksimum yang akan diperoleh
Hasil dan Pembahasan
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
            Pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini terdiri dari 2 siklus. Dalam bab ini akan membahas tentang hasil penelitian dan pembahasan terhadap temuan-temuan yang dilakukan pada saat penelitian perbaikan pembelajaran.
a) Deskripsi Siklus 1
Pada siklus I terdiri dari 5 tahap tindakan. Tahap-tahap tindakan dalam siklus I terdiri dari:
1. Rencana Tindakan (planning)
Rencana tindakan yang dilakukan pada siklus 1 adalah sebagai berikut:
a.       Menyiapkan perangkat pembelajaran seperti rencana pelaksanaan pelajaran (RPP), dan instrumen penelitian seperti lembar observasi, soal, dan kunci jawaban.
b.      Mengadakan pembagian tugas antara peneliti dan observer. Peneliti sebagai pelaksana tindakan. Observer pada penelitian ini adalah teman sejawat yang bertugas sebagai pengamat dan melaporkan hasil pengamatan dengan mengisi lembar observasi.
c.       Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini menggunakan media Big Book.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan pada hari Selasa , 22 Maret 2016, jam ke 1 , pukul  09.30. Pertemuan pertama berlangsung selama 1 x 35 menit.
a. Tahap pendahuluan
·         Guru menginformasikan tentang media pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu pembelajaran Bahasa Indonesia dengan fokus menulis dengan menggunakan media Big Book.
·      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran sesuai dengan indikator, yaitu menulis kalimat sederhana.
·        Guru mengkondisikan kelas pada situasi belajar
·        Guru menyampaikan tujuan pembelajaran sesuai dengan indikator
·        Guru mengarahkan alur kegiatan pembelajaran.
b. Tahap Kegiatan Inti
·         Siswa dan guru membaca kalimat yang ada dalam Big Book bersama-sama.
·         Siswa melihat gambar dalam Big Book.
·         Siswa membaca kalimat dalam sebuah cerita di dalam Big Book.
·         Siswa berlatih menuliskan kalimat sederhana dengan SPOK yang jelas.
·         Siswa berlatih menulis sesuai dengan gambar yang diberikan.
c. Tahap Penutup
Aktivitas yang terjadi antara lain:
·         Refleksi proses dan hasil belajar,
·         Bersama-sama menyimpulkan materi pembelajaran
·         Guru melaksanakan penilaian.
·         Guru melakukan tindak lanjut.
3. Pelaksanaan Pengamatan (Observasi)
            Pada saat pembelajaran berlangsung dilakukan observasi terhadap aktivitas siswa oleh observer dengan format observasi yang telah disediakan. Setiap 15  menit sekali pengamat mengamati aktivitas siswa, dan menandai aspek aktivitas yang dominan yang dilakukan siswa pada lembar observer, serta memantau jalannya tes evaluasi pada akhir pembelajaran. Pengamatan terhadap aktivitas siswa dilaksanakan sejak dimulainya kegiatan pembelajaran.
4. Pelaksanaan Refleksi 
a.       Melakukan pencatatan hasil observasi
b.      Melakukan skoring dan penilaian terhadap hasil tes.
c.       Melakukan analisis terhadap hasil observasi dan tes.
d.      Mendiskusikan hasil analisis dengan kolaborator
e.       Mendiskusikan langkah-langkah perbaikan yang harus dilakukan pada siklus II.
5. Identifikasi Masalah
Pada tahap ini peneliti mengidentifikasi permasalahan yang menjadi kendala dalam pelaksanaan tindakan siklus I yang harus diperbaiki pada siklus II yaitu sebagai berikut:
a.       Hasil tulisan siswa belum lengkap subjek, predikat, objek, dan keterangannya.
b.      Siswa belum mampu menulis kalimat dengan kreatif.
c.       Hasil tes belum memenuhi standar KKM.
Penilaian keterampilan menulis kalimat sederhana siswa  diperoleh dari nilai hasil tes sebelum dan sesudah dilaksanakan tindakan. Hasil penilaian keterampilan siswa dalam menulis kalimat sederhana dapat di lihat dari meningkatnya nilai rata-rata siswa pada siklus I jika dibandingkan dengan nilai rata-rata siswa sebelum dilaksanakan tindakan. Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh peneliti dapat terlihat bahwa hasil belajar siswa tentang menulis kalimat sederhana meningkat, hal ini terlihat dari rata-rata nilai yang diperoleh siswa saat pra-siklus sebesar 55,46 setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan media Big Book telah  meningkat menjadi 74, 85.
Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM di pra-siklus hanya sebanyak 8 orang atau hanya 24% saja, sedangkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM setelah mendapatkan tindakan berupa penggunaan media Big Book dalam belajar menulis kalimat sederhana meningkat menjadi 26 siswa atau mencapai 78% dari 33 siswa.
Hasil dari observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran didapatkan hasil bahwa selama proses pembelajaran berlangsung, siswa terlihat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media Big Book.
b) Deskripsi Siklus II
Pelaksanaan siklus II mengikuti alur pelaksanaan pada siklus I, yaitu :
1. Rencana Tindakan
            Berdasarkan hasil refleksi siklus I, maka rencana tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut:
1)   Pada tahap apersepsi, memfokuskan untuk membuat kalimat dengan penggunakan SPOK yang jelas
2)   Pada tahap kegiatan inti, agar potensi siswa lebih tergali, guru membebaskan siswa untuk membuat gambar dan kalimat sendiri sehingga krativitas siswa lebih terlatih.
2. Pelaksanaan Tindakan
            Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilaksanakan pada hari Selasa, 29  Maret 2016, Jam ke 1, pukul 09.30. Pertemuan kedua berlangsung selama 1 x 35 menit.
a. Tahap pendahuluan
·         Guru menyampaikan tujuan pembelajaran sesuai dengan indikator, yaitu membuat kalimat sederhana.
·         Guru mengkondisikan kelas pada situasi belajar
b. Tahap Kegiatan Inti
·         Guru dan siswa bersama-sama membaca melalui media Big Book.
·         Siswa menggambar sendiri situasi yang diinginkan.
·         Siswa menulis kalimat sederhana sesuai dengan gambar yang dibuatnya.
·         Siswa bersama-sama membuat Big Book dengan gambar dan kalimat sendiri secara berkelompok
c. Tahap Penutup
·         Refleksi proses dan hasil belajar,
·         Guru melaksanakan penilaian.
·         Guru melakukan tindak lanjut.
3. Pelaksanaan Pengamatan (Observasi)
Untuk mendapatkan data yang objektif, observasi dilakukan bekerjasama dengan Kolaborator (mitra kerja) guru kelas 3. Langkah-langkah observasinya, yaitu sebagai berikut :
a.    Mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah dipersiapkan.
b.    Mengamati secara seksama bagaimana siswa menggambar dan membuat kalimat berdasarkan gambar yang dibuatnya .
c.    Memantau pelaksanaan kerja siswa.

4. Pelaksanaan refleksi (reflection).
a.    Melakukan pencatatan hasil observasi
b.    Melakukan penilaian terhadap hasil kerja.
c.    Melakukan analisis terhadap hasil observasi dan tes.
d.   Mendiskusikan hasil analisis dengan kolaborator
e.    Membandingkan hasil pembelajaran siklus I dengan siklus II.
Berdasarkan dari penilaian hasil belajar di siklus II, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa tentang menulis kalimat sederhana meningkat. Terlihat dari rata-rata nilai yang diperoleh siswa saat pra-siklus sebesar 55,46 setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan bantuan media Big Book telah  meningkat menjadi 78,48. Nilai rata-rata hasil belajar siklus 2 pun terlihat meningkat dibandingkan dengan nilai rata-rata hasil belajar siklus 1. Nilai rata-rata siklus 1 adalah 74.85 sedangkan nilai rata-rata hasil belajar di siklus 2 menjadi 78,48. Selain nilai rata-rata yang meningkat, kreativitas siswa dalam membuat kalimat sederhana pun semakin meningkat dikarenakan siswa dibebaskan untuk menggambar dan membuat kalimat sederhana berdasarkan gambar yang dibuatnya sendiri.
Jumlah siswa yang mencapai nilai KKM setelah mendapat perbaikan pembelajaran di siklus II adalah 28 siswa, atau mencapai 84% dari 33 siswa.
Hasil dari observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran didapatkan hasil bahwa selama proses pembelajaran berlangsung, siswa terlihat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media Big Book.
Berdasarkan penilaian di pra siklus, siklus I dan siklus II, didapat hasil yang memperlihatkan bahwa terdapat peningkatkan dalam nilai hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan, setelah diberikan tindakan pada siklus I dan siklus II. Rata-rata nilai siswa pada pra-siklus adalah 55,45, pada siklus I meningkat menjadi 74,85 dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 78,48.
Secara rinci, kenaikan tingkat keterampilan menulis kalimat sederhana siswa melalui penggunan media Big Book yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata siswa, digambarkan dalam grafik di bawah ini:
Grafik Peningkatan rata-rata hasil belajar siswa

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan pada deskripsi, analisis, dan refleksi penelitian yang dilakukan, dapat ditemukan bahwa terdapat beberapa hal penting dalam pelaksanaan penelitian ini. temuan-temuan penting yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1. Siswa terlihat antusias ketika menggunakan media Big Book dalam proses pembelajarannya. Media Big Book baru pertama kali digunakan di kelas sehingga hal ini menumbuhkan rasa penasaran (curiosity) siswa.
2. Dengan melihat gambar yang ada di dalam Big Book dan kalimat sederhana yang menyertainya membuat siswa menjadi tertantang untuk membuat kalimat juga berdasarkan gambar.
3. Jumlah media Big Book yang terbatas membuat siswa saling berebut untuk mendapatkan giliran menggunakan media Big Book.
4. Pada siklus II, siswa diberi kebebasan untuk membuat gambar dan kalimat berdasarkan gambar yang dibuatnya sendiri. Hal ini memberikan pengaruh yang positif pada siswa. Siswa menjadi lebih kreatif membuat kalimat dan mampu membuat kalimat berdasarkan pada gambar yang dibuatnya sendiri.
Berdasarkan temuan-temuan di atas, penggunaan media Big Book telah berhasil dalam meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis kalimat sederhana. Hal ini juga terbukti pada nilai rata-rata siswa yang mencapai 74,85 pada siklus I dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 78,48.
Berdasarkan observasi yang dilakukan dapat ditemukan juga bahwa selama proses pembelajaran berlangsung, terbatasnya jumlah media Big Book mempengaruhi jalannya kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini mengakibatkan kurang tertibnya siswa dalam menggunakan media Big Book sehingga terjadi saling rebutan antar siswa.

Simpulan dan Saran Tindak Lanjut
A. Simpulan
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah diuraikan secara rinci dalam Bab IV, maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai penelitian perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan media Big Book menjadikan suasana belajar menjadi lebih menyenangkan yang dibuktikan dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh siswa dalam menggunakan media Big Book.
2. Penggunaan media Big Book telah berhasil meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis kalimat sederhana, karena penggunaan media Big Book telah memberikan bentuk pembelajaran yang konkrit kepada siswa dan membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajarannya.
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media Big Book dapat meningkatkan keterampilan menulis kalimat sederhana siswa kelas 2 di SDN Cicadas 8 Bandung.


B. Saran dan Tindak Lanjut
Berdasarkan kajian pustaka dan temuan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat dikemukakan beberapa saran yang bermanfaat sebagai berikut :
1.      Dalam melaksanakan pembelajaran, hendaknya guru mempertimbangkan perkembangan siswa sebagai acuan dalam pemilihan strategi, metode, dan media pembelajaran.
2.      Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya dalam pengembangan kemampuan menulis, hendaknya guru lebih memberi kebebasan kepada siswa untuk lebih ekspresif sehingga dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menulis.
3.      Bagi para peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk disempurnakan lagi untuk meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada kemampuan menulis kalimat sederhana di sekolah dasar.
4.      Untuk rekan sejawat guru SD, diharapkan pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia dapat menggunakan media Big Book.
Untuk tindak lanjut dari penelitian ini, diharapkan penelitian ini bisa diseminasikan dan dipublikasikan dalam jurnal sehingga penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan penggunaan media Big Book dalam pembelajaran menulis kalimat sederhana di sekolah dasar.

Daftar Pustaka

Arikunto, S. (2008). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Depdiknas. (2005). Kurukulum 2004. Jakarta
Depdiknas. (2003). Kurikulum 1994. Jakarta
Hartati, T & Cuhariah, Y. (2015). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung . UPI Press.

J.S Badudu dan Zain (1996). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.

Nurgiyantoro, B. (2014). Penilaian Pembelajaran Berbahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta. BPFE Yogyakarta.
Rofi’uddin, A dan Zuchdi, D. (1998). Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Depdikbud.
Saddhono, K & Slamet, Y. (2014). Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Indonesia. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Semi, A. (2007). Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Bandung: Angkasa.

Slamet, Y. (2008). Dasar-dasar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar. Surakarta:UNS Press

Solehan T.W, dkk. (2008). Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sundayana, R. (2015). Media dan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika. Bandung: Alfabeta
Suriamiharja, dkk. 1996. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan
Menengah bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.

Syarif, Zulkarnaini & Sumarno. (2009). Pembelajaran Menulis. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Tarigan, D & Tarigan H. G. (1986). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.

Tarigan, H G. (1990). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung . Angkasa.

Tim USAID. (2014). Buku Sumber untuk Dosen LPTK , Pembelajaran Literasi Awal di LPTK. USAID
Wardhani, IGAK. (2014). Penelitian Tindakan Kelas. Banten:UT
W.J.S Poerwadarminta. (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.

Zuchdi, D dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
di Kelas Rendah. Jakarta : Dirjen Dikti dan Depdikbud.