بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Tuesday, 23 June 2015

Kebijakan Nasional Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar



Memperhatikan situasi dan kondisi karakter bangsa yang semakin memprihatinkan, pemerintah mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan karakter bangsa seharusnya menjadi arus utama pembangunan nasional. Artinya, setiap upaya pembangunan harus selalu dipikirkan keterkaitan dan dampaknya terhadap pengembangan karaker. Hal itu tercermin dari misi pembangunan nasional yang memosisikan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007), yaitu terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan prilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotongroyong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.
Dalam rangka pembangunan karakter peserta didik, pemerintah menerapkan strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan. Secara makro pengembangan karakter dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. Pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat karakter yang digali, dikristalisasikan, dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan
(1) filosofis: Pancasila, UUD 1945, dan UU N0.20 Tahun 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya; (2) teoretis: teori tentang otak, psikologis, pendidikan, nilai dan moral, serta sosial-kultural; (3) empiris: berupa pengalaman dan praktik terbaik, antara lain tokoh-tokoh, satuan pendidikan unggulan, pesantren, kelompok kultural, dll. Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri peserta didik. Proses ini dilaksanakan melalui proses pemberdayaan dan pembudayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur. Agar proses pembelajaran tersebut berhasil guna, peran guru sebagai sosok panutan sangat penting dan menentukan. Sementara itu dalam pembiasaan diciptakan situasi dan kondisi dan penguatan yang memungkinkan peserta didik pada satuan pendidikannya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi dari dan melalui proses intervensi. Proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara sistemik, holistik, dan dinamis.
Pendidikan karakter dalam konteks mikro, berpusat pada satuan pendidikan secara holistik. Satuan pendidikan merupakan sektor utama yang secara optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan. Pendidikanlah yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan; kegiatan ko-kurikuler dan/atau ekstra kurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat.
Pendidikan karakter dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Khusus, untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. Untuk kedua mata pelajaran tersebut, karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Sementara itu mata pelajaran lainnya, yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter, wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri peserta didik.
Menurut saya, melalui kurikulum 2013, pemerintah berusaha untuk berkontribusi terhadap pembangunan karakter peserta didik. Dalam kurikulum 2013, pendekatan pembelajarannya terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Konsep kurikulum 2013 menyatakan bahwa semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan dan pengetahuan. Setiap pembelajaran dalam kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Pendekatan saintifik itu meliputi: mengamati, menanya, mencoba, menalar, mencipta dan mengkomunikasikan.

 

Tuesday, 16 June 2015

10 Tips to Help You Improve Your English Writing Skills



1. Write in English every day
This is the most important tip to improve your writing skills in English. Start by thinking of a theme, for example, you could start writing a diary of something that happens to you every day, you can write a few lines of a story each day or you could write emails to your friends in English. This might be difficult at first but the more you continue, the easier it will become and you might even end up enjoying it!

2. Ask someone to check your writing
If you’re studying at an English language school, you could ask your teacher to check your writing for you. Otherwise, why not ask a friend or relative who speaks English? I’m sure they’d be happy to help! You might even be able to do a writing language exchange – find an English person who is learning your language and write letters or emails to each other (you can write in English and they can write in your language). When you send a reply, you can also send their letter back to them with corrections and they can do the same for you!

3. Improve your vocabulary
Having a wide range of vocabulary is very important when you’re writing in English. An excellent way to improve your vocabulary is to read as much as possible. If you read books, newspapers or magazines in English, you will learn many new words and common English idioms. Remember to write down the new words and expressions you read and their meanings so you can learn them.

4. Use a dictionary
You might feel that using a dictionary when you write is ‘cheating’ but think again – it is actually a great way to improve your vocabulary and practise using words and phrases that you’ve heard but haven’t used before. Remember to ask someone to check your writing to make sure you have used the vocabulary correctly.

5. Check your writing carefully
After you have written something in English, you should always read it again, either straight away or the next day. When you do this, you will probably see a few mistakes that you didn’t notice when you were writing it. Remember to check the spelling, grammar and vocabulary – have you used a particular word many times? Can you think of another way to say it?

6. Write about different topics
If you write about the same thing every day, you could become very bored and you might end up using the same words and phrases over and over again! It is a good idea to find different topics to write about as this will help to widen your vocabulary and will be much more interesting for you. Writing about something you read in a newspaper or watched on TV is a good starting point.

7. Do your homework
If you have classes at an English language school, your teacher probably gives you writing homework to do. It is really important that you do all your homework as your teacher knows your level of English and will be able to give you good advice on which parts of writing you need to improve most (e.g. vocabulary, spelling, grammar). This is extremely important if you are planning to take an English language exam.

8. Write to your friends
Do you have friends who speak English (e.g. people you have met in your English classes)? If so, you should definitely practise your writing with them! There are many ways to do this – using social media (Facebook, Twitter etc.), sending emails, writing text messages, chatting on Skype etc. The best thing about writing to people who are also learning English is that you can correct each other’s mistakes!

9. Write a blog
It doesn’t even matter if no one reads it, but writing a blog is a great way to practise writing in English. Set yourself a goal (e.g. upload one blog article a week) and start writing! The great thing about a blog is you can write about absolutely anything and there’s a chance that you might even help or entertain someone who reads it!

10. Don’t be afraid to make mistakes!
It’s easy to decide not to do any English writing as you are worried that you will make lots of mistakes. However, the more you write and get your writing corrected, the fewer mistakes you will make!


Source: Bloomsbury International

Friday, 12 June 2015

Pendidikan Moral di Sekolah



Pendidikan moral penting diberikan di sekolah karena pendidikan moral adalah dasar dari sebuah pendidikan. Pendidikan moral akan membentuk dan menentukan tingkah laku dan sikap siswa dalam berinteraksi dengan guru, teman, dan juga masyarakat luas. Pendidikan moral juga akan menumbuhkan sikap-sikap positif dalam diri siswa seperti sikap empati, toleransi, kerja sama, saling mengharga dan lain-lain. Lebih jauh lagi pendidikan moral akan memberikan dasar dan bekal kepada siswa untuk mampu memecahkan masalah, konflik yang terjadi kepada dirinya masing-masing sehingga mampu mencari dan memberikan solusi untuk memecahkan masalahnya tersebut. Dalam pendidikan nilai/moral, siswa juga akan didorong untuk mampu tetap menghargai perbedaan sudut pandang tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusian universal.

Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan bidang kajian ilmu yang potensial bagi pengembangan tugas pembelajaran yang kaya akan nilai moral. Karakteristik ilmu yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-harinya dan banyak membahas tentang bagaimana manusia menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungannya membuat bidang keilmuan IPS ini erat berkaitan dengan sikap, nilai, moral, etika dan perilaku.

Menurut Mulyana (2011:190), secara operasional pengembangan nilai/moral dalam pelajaran IPS melibatkan tiga tahapan, yaitu: tahap pertama berkisar pada pengenalan fakta-fakta lingkungan, tahap kedua merupakan tahap pembentukan konsep, dan tahap ketiga adalah tahap pembentukan nilai yang terintegrasi. Nilai yang terintegrasi dalam pembelajaran IPS dapat berupa nilai intrinsic seperti objektivitas, rasionalitas, dan kejujuran ilmiah. Juga terdapat nilai dasar moral seperti kepedulian terhadap orang lain, empati, dan kebaikan sosial lainnya. Nilai-nilai dasar moral ini harus terintegrasi dalam keseluruhan kurikulum IPS sehingga nilai dasar moral yang paling utama dapat dikembangkan dari prinsip-prinsip kebenaran, keadilan, kebaikan, kepedulian, dan keindahan.

Melalui pembelajaran IPS yang terintegrasi dengan nilai, etika, dan moral, peserta didik diharapkan mampu untuk melaksanakan konsep dan prinsip ilmu-ilmu tersebut untuk meningkatkan kualitas hidupnya.


Pendekatan pembelajaran IPS dengan berbasis moral ini dilakukan secara konstruktivistik, artinya dalam proses pembelajaran ini, peserta didik melaksanakan proses pembelajaran dari mulai yang bersifat teoritik sampai pada tingkat praktik. Dalam proses pengembangannya, pelajaran IPS diajarkan dapat berimplikasi pada integrasi kognitif, afektif dan tindakan.

Menurut Mulyana (2011:194), suatu metode akan memiliki kadar keefektifan dalam belajar jika memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
·         Melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pengarahan dan evaluasi belajar;
·         Mengidentifikasi dan membangun minat dan pengalaman pserta didik;
·         Mengaitkan pengetahuan teoritik dengan praktik, nilai sosial, pengelaman di sekolah, dan materi pada pelajaran lain;
·         Mendorong peserta didik untuk mengungkapkan dan mendiskusikan keyakinan-keyakinan ilmiahnya dengan teman sebaya, guru, atau dengan orang lain yang ahli dalam bidangnya;
·         Menyediakan lingkungan agar peserta didik dapat mengekspresikan dirinya, menemukan bantuan ketika menghadapi persoalan belajar, mencoba sejumlah keterampilan dan pemecahan serta belajar dari kesalahan dan keberhasilannya.

Dalam pembelajaran IPS berbasis moral ini, guru bisa menerapkan model pengajaran Role Playing. Menurut Joyce (2009: 328), “Role playing merupakan sebuah model pengajaran yang berasal dari dimensi pendidikan individu maupun sosial.” Model ini membantu siswa untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial mereka dan melalui bantuan kelompok sosial dapat membantu untuk memecahkan dilema masing-masing siswa. Dalam dimensi sosial, model ini memudahkan individu untuk bekerja sama dalam menganalisis keadaan sosial, khususnya masalah antar manusia. Model ini juga menyokong beberapa cara dalam proses pengembangan sikap sopan dan demokratis dalam menghadapi masalah. Role playing ditempatkan dalam kelompok model pengajaran sosial karena kelompok sosial memerankan bagian yang mutlak dalam perkembangan manusia, dan karena adanya beberapa keunikan yang membuktikan bahwa role playing memberi tawaran penting dalam memecahkan dilemma interpersonal maupun sosial.

Menurut Joyce, et al (2009: 329), tujuan dari model pembelajaran role playing adalah untuk:
1. Mengeksplorasi perasaan siswa
2. Mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku, nilai dan persepsi siswa
3. Mengembangkan kemampuan pemecaham masalah dan tingkah laku
4. Mengeksplorasi materi pembelajaran dalam cara yang berbeda

Joyce (2009: 340) menyatakan bahwa model role playing adalah model yang serbaguna dan dapat diterapkan dalam beberapa sasaran pembelajaran yang terbilang penting. Melalui role playing, siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengenali dan memperhitungkan perasaannya sendiri dan perasaan orang lain, mereka bisa memiliki perilaku baru dalam menghadapi situasi sulit yang tengah dihadapi, dan mereka bisa meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah. Selain itu role playing juga bisa merangsang siswa untuk memunculkan beberapa aktivitas. Karena siswa menikmati tindakan dan pemeranan, mereka akan tidak menyadari bahwa role playing adalah salah satu sarana untuk mengembangkan materi pelajaran.

Menurut Joyce (2009), beberapa ciri khas masalah sosial yang mudah ditelusuri dengan bantuan model ini, yakni:
1.      Konflik interpersonal.
2.      Relasi antar keolmpok
3.      Dilema individu
4.      Masalah historis atau kontemporer

Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pendidikan nilai/moral karena dalam role playing, siswa bermain main peran, dan dalam perannya itu siswa dilatih untuk memiliki nilai-nilai kemanusian yang universal. Dalam bermain peran, siswa akan dilatih untuk mampu bekerja sama dengan orang lain, mampu menghargai pendapat atau pandangan orang lain yang tidak sama sudut pandangnya. Dalam bermain peran, siswa juga dilatih untuk memiliki sikap empati terhadap perbedaan nilai moral saat berinteraksi dengan orang lain. Dengan bermain peran, siswa juga dapat merasakan contoh kehidupan bermasyarakat lengkap dengan permasalahannya sehingga melalui permainan peran, siswa dilatih untuk bagaimana tindakan dia di masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian.


Daftar Pustaka

Aqib, Zainal & Sujak. 2012. Panduan & Aplikasi Pendidikan Karakter. Yrama Widya. Bandung

Darmadi, Hamid. 2012. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Alfabeta. Bandung

Joyce, B. et al. 2009. Models of Teaching: Model-Model Pengajaran. Pustaka Pelajar. Yogyakarta