Tuesday, 7 April 2015

Perkembangan Kognitif


Menurut Piaget (1954), ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu tahap sensorimotor, tahap praoperasi, tahap operasi konkret, dan tahap operasi formal (Santrock, 2011, hal 28).
·      Tahap Sensorimotor. Tahap ini berlangsung mulai dari lahir hingga usia sekitar 2 tahun. Dalam tahap ini, bayi membangun pemahaman mengenai dunianya dengan mengordinasikan pengalaman-pengalaman sensoris (melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik dan motorik.
·     Tahap Praoperasi. Tahap ini berlangsung kurang lebih dari usia 2 – 7 tahun. Dalam tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar, melampaui hubungan sederhana antara informasi sensoris dan tindakan fisik. Menurut Piaget, anak-anak prasekolah ini belum mampu melakukan tindakan operasi, yaitu tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya dilakukan secara fisik.
·      Tahap Operasi Konkret. Tahap ini berlangsung kurang lebih dari usia 7 – 11 tahun. Dalam tahap ini, anak-anak dapat melakukan operasi yang melibatkan objek-objek dan juga dapat bernalar secara logis, sejauh hal itu diterapkan dengan contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Pemikir operasi konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan aljabar, karena terlalu abstrak untuk dipikirkan pada tahap perkembangan ini.
·      Tahap Operasi Formal. Tahap ini berlangsung antara usia 11 – 15 tahun dan terus berlangsung hingga masa dewasa. Ini adalah tahapan terakhir menurut Piaget. Dalam tahap ini, individu melampaui pengalaman-pengalaman konkret dan mampu berpikir secara abstrak dan lebih logis. Dalam aspek memecahkan masalah, anak-anak pada tahap ini dapat bekerja secara lebih sistematis dengan mengembangkan hipotesis mengenai mengapa sesuatu terjadi seperti itu kemudian menguji hipotesis tersebut.


Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran di Sekolah Dasar



Hal pertama yang harus diperhatikan oleh guru adalah jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswa karena menurut Gardner, ada delapan jenis kecerdasan yang bisa dimiliki oleh anak yaitu: kecerdasan bahasa, matematika-logis, spasial, kinestetik, musikal, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis. Dalam hal ini, guru harus mampu mengidentifikasi jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya sehingga semua siswa dapat menonjolkan kecerdasannya masing-masing dan tidak ada lagi siswa yang dianggap tidak berprestasi karena sebenarnya semua anak cerdas hanya saja jenisnya bermacam-macam dan tugas guru untuk membantu siswa menemukan dan mengembangkan kecerdasannya dengan cara masing-masing.
Setelah guru mengetahui berbagai jenis kecerdasan yang dimiliki oleh para siswanya, guru kemudian merancang dan merencanakan metode mengajar yang bisa mencakup semua jenis kecerdasan. Guru bisa mengkombinasikan aktivitas mengajar yang melibatkan siswa dengan berbagai macam jenis kecerdasan. Misalnya dalam mengajarkan matematika, selain fokus pada siswa dengan kecerdasan matematika-logis, guru juga bisa mengkombinasikannya dengan musik dan nyanyian/ lagu yang mengakomodir siswa dengan kecerdasan musikal dan juga bisa mengkombinasikannya dengan gambar yang sesuai dengan pelajaran matematikanya sehingga siswa dengan kecerdasan spasial bisa menikmati pelajarannya.
Hal selanjutnya adalah guru harus mengetahui teori perkembangan anak. Misalnya perkembangan kognitif yang dikenalkan oleh Piaget. Menurut Piaget (Santrock:2012) ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu tahap sensorimotor, tahap praoprasi, tahap operasi konkret dan tahap operasi formal. Pada usia anak SD berada dalam tahap operasi konkret dimana anak pada tahap ini belajar dari hal-hal yang konkret atau nyata. Anak pada tahap ini belajar dengan melihat, meraba, mendengar, membaui dan mengotak-ngatik. Jika guru memahami tahapan ini, maka dalam proses belajar mengajarnya guru akan mempertimbangkan metode yang tepat dalam mengajar. Misalnya dalam mengajarkan berbagai macam bentuk daun, guru akan membaca berbagai jenis daun atau meminta siswa untuk mencari dan membawa berbagai jenis daun yang ada di sekitar lingkungannya untuk kemudian dibawa ke dalam kelas dan dipelajari bersama-sama. Hal ini akan memudahkan siswa untuk memahami dibandingkan guru hanya bercerita atau mendeskripsikannya secara lisan saja.
Guru juga harus memperhatikan dan mempelajari teori perkembangan anak lainnya seperti perkembangan teori kognitif sosiobudaya dari Vygotsky yang menegaskan pentingnya interaksi sosial dan budaya terhadap perkembangan kognitif.
Dengan mempelajari berbagai macam teori perkembangan, guru akan mampu menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan siswanya. Sebagai contoh, ketika mengajar di daerah pegunungan, pesisir, pedesaan, perkotaan maka guru akan lebih berfokus pada materi pelajaran yang sesuai dengan lingkungan anak-anak didiknya sehingga apa yang dijarkannya sesuai dengan apa yang dihadapi anak sehari-hari.
Setelah paham akan teori perkembangan anak dan teori multiple intelligences atau kecerdasan majemuk, guru juga harus paham akan 3 jenis gaya belajar siswa. Ada 3 gaya belajar yaitu: visual, auditorial dan kinestetik. Siswa dengan gaya belajar visual akan belalajar dengan cara melihat, siswa dengan gaya auditorial akan belajar dengan cara mendengar dan siswa dengan gaya belajar kinestetik akan belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh.
DePorter (2000) dalam bukunya, Quantum Teaching memberikan tips bagaimana mengajar siswa dengan 3 gaya belajar yang berbeda. Untuk siswa dengan gaya belajar visual, guru  isa mendorong siswa untuk membuat banyak symbol dan gambar dalam catatan mereka. Bagi pelajar dengan gaya auditorial, guru bisa membantu mereka untuk berbicara dengan diri mereka sendiri untuk memahami pelajarannya dan memperbolehkan mereka untuk berbicara dengan suara perlahan pada diri mereka sendiri sambil bekerja bukannya memarahi mereka jika mereka menimbulkan keributan kecil karena mengulang-ngulang pelajarannya sambil berguman. Bagi siswa dengan gaya belajar kinestetik yang tidak bisa duduk diam berlama-lama, guru bisa membantunya dengan tidak melarang mereka untuk belajar sambil duduk di lantai atau menyebarkan pekerjaannya di sekeliling mereka. Setelah mengetahui gaya belajar masing-masing siswa, guru harus mendorong siswa untuk menerapkan semua metode ini dalam belajar. Guru bisa mengkombinasikan metode mengajarnya sehingga mencakup ketiga gaya belajar siswa dan tidak ada siswa yang merasa gaya belajarnya tidak diperhatikan oleh guru. Guru juga bisa memberitahu orangtua siswa perihal gaya belajardari masing-masing siswa sehingga di rumah para orangtua bisa mendukung anak mereka dengan gaya belajarnya masing-masing.

Mendengar, Mendengarkan dan Menyimak



Menurut Moeliono (Saddhono & Slamet: 2014), mendengar diartikan sebagai menangkap bunyi (suara) dengan telinga. Mendengarkan berarti menangkap bunyi/ suara dengan sungguh-sungguh. Sedangkan menyimak adalah memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.
Kegiatan mendengar mempunyai pengertian menangkap suara atau bunyi dengan telinga. Peristiwa mendengar terlaksana secara kebetulan dan tidak direncanakan sehingga makna yang didengar tidak terlalu diperhatikan.
Kegiatan mendengarkan lebih tinggi tarafnya dibandingkan peristiwa mendengar. Jika dalam mendengar belum ada faktor kesengajaan, dalam peristiwa mendengarkan mulai ada faktor kesengajaan. Dalam mendengarkan, faktor pemahaman bisa jadi ada tapi bisa juga tidak karena hal ini belum menjadi suatu tujuan.
Dalam persitiwa menyimak, ada faktor kesengajaan yang tampak den jelas. Dalam menyimak, pemahaman juga mutlak diperlukan dan ada faktor penilaian yang bisa memberikan feedback kepada penutur. Menyimak memerlukan keterlibatan aktif dari pendengar. Pendengar menyusun ulang pesan yang disampaikan oleh pembicara. Dalam menyusun ulang pesan, seorang  pendengar harus secara aktif memberikan kontribusi pengetahuannya, baik pengetahuan yang bersumber dari kebahasaannya maupun dari sumber di luar pengetahuan kebahasaannya. Sehubungan dengan ini Subyakto (Saddhono & Slamet: 2014) menyatakan bahwa di dalam menyimak, seseorang tidak hanya berperan secara pasif tetapi juga berperan aktif.
Menurut Wolvin & Coakley (1985:55), mendengarkan adalah komponen integral (yang tak terpisahkan) dari proses menyimak.


Friday, 3 April 2015

Spartace Couple Favorite Dongsaeng: The Betrayer Icon, Lee Kwang Soo


It's been a long time since the last time I wrote about Spartace Couple. This time, I think I want to write about our couple favorite dongsaeng, the one and only, the betrayer Icon, Lee Kwang Soo or 'Kirin'. KJK and SJH like to 'bully' LKS. However, I think they precious this betrayer icon much. In one of Running Man episodes, both KJK and SJH showed us that they really know what LKS favorite song was. So, I concluded that three of them, or maybe with other members often go to karaoke. 


Thursday, 2 April 2015

Korean Actors and Actress Who Sing an OST for Their Dramas

Lots of Korean actors or actress sing a song for their own dramas. It means that many actors and actress have beautiful voice or lots of singer idols act in dramas. But, this time, I want to write about non-singer actors and actress who sing in their own drama.

1. Ji Chang Wook

He's one of my favorite actors. He has good voice and known for his musical ability. He sing for almost all his drama. He started with a song in his drama ' Warrior Baek Dong Soo', then he sang an OST for his drama 'Five Fingers'. He lend his voice for a song in 'Empress Qi' and also his soft voice was for his drama 'Healer'.

2. Park Shin Hye

She's a talented actress. Her voice is sweet. She lent her sweet voice for her hit drama 'He's Beautiful' then I like her voice for her super hit drama 'Pinocchio'.

3. Jang Geun Suk

He's known as Prince Asia. We can hear his daebak voice in his drama 'He's Beautiful'. Then he lent his nice voice for his another drama 'Mary Stayed Out' and 'Love Rain'.

4. Kang Ha Neul

He's a young actor and the first time I watched him in 'Angel Eyes'. He sang a song for 'Angel Eyes' and also he sang a song for his other drama 'Monstar'. I didn't watch Monstar but I like him in Angel Eyes.

5. Ji Sung

He sang a song for his drama Kill Me Heal Me.

6. Hyun Bin

He sang 'That Man' for his big hit drama Secret Garden.

7. Choi Jin Hyuk

With his husky voice, he sang a song for his drama Emergency Couple.

8. Song Joong Ki

He sang a song with his sweet voice in his drama Innocent Man.

Pendidikan Tradisional



Menurut Smith (Freire:1999), ciri utama pendidikan tradisional adalah:
1. anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu.
2. anak-anak dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibedakan berdasarkan umur.
3. anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut usia mereka.
4. anak-anak naik kelas setiap habis satu tahun ajaran.
5. prinsip sekolah otorian, anak-anak diharapkan menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang sudah ada.
6. guru memikul tanggung jawab pengajaran, berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan.
7. sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks.
8. promosi tergantung pada penilaian guru.
9. kurikulum berpusat pada subjek pendidik (guru).
10. bahan ajaran yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks.

Why Be a Teacher

I was teaching for myself, challenging myself to see if I really could keep up with more than thirty young
people at once, and really accomplish something worthwhile with them. I was teaching so I could keep growing as a person, keep connecting with others, keep learning new ideas. That’s why I was teaching.

Why be a teacher? The short answer is easy:
• to witness the diversity of growth in young people, and their joy in learning
• to encourage lifelong learning—both for yourself and for others
• to experience the challenge of devising and doing interesting, exciting activities for the young

Educational Psychology - Kelvin Seifert