بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Thursday, 12 October 2017

Perpustakaan Kelas dan Budaya Membaca

Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah cara untuk membuka jendela tersebut. Dengan membaca terbentanglah dunia yang belum kita ketahui sebelumnya.  Bahan bacaan seperti buku, Koran, artikel, novel, jurnal dan bahan bacaan lainnya merupakan sumber berbagai informasi yang dapat membuka wawasan kita tentang berbagai hal seperti ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, budaya, politik, sejarah, seni, maupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Ketika membaca sudah menjadi kebiasaan, berarti kita berlatih memusatkan pikiran dan merangsang saraf otak untuk bekerja. Kegiatan membaca dapat membantu mengubah masa depan, serta dapat menambah kecerdasan akal dan pikiran sehingga merangsang kita untuk berpikir kritis.
Manfaat membaca sangat banyak. Hanya saja sangat disayangkan, budaya membaca di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi menyatakan bahwa kemampuan literasi anak-anak Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kemampuan literasi anak-anak di negara maju. Effendy menambahkan bahwa budaya membaca dan kemampuan literasi anak-anak Indonesia tertinggal empat tahun dibandingkan negara maju.   Anak-anak Indonesia belum terbiasa untuk membaca buku sejak dini sehingga budaya membaca belum terwujud. Karena budaya membaca ini belum terbentuk maka hal ini berakibat pada rendahnya kemampuan anak-anak Indonesia dalam membaca. Rendahnya kemampuan membaca anak-anak Indonesia dibuktikan dengan laporan Bank Dunia No. 16369-IND, dan studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) di Asia Tenggara yang menyatakan bahwa “tingkat terendah membaca anak-anak dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7 di bawah Filipina (skor 52,6); Thailand (skor 65,1); Singapura (skor 74,0); dan Hongkong (skor 75,5)”. (http://www.pembelajar.com/wmview.php)

Lebih jauh lagi, the World’s Most Literate Nation menyatakan bahwa tingkat literasi diukur dari “perilaku melek huruf dan sumber pendukungnya”. Laporannya diambil dari 200 negara yang diambil dari berbagai sumber, mulai dari UNESCO hingga Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development. Dari 200 negara, hanya 61 negara yang melaporkannya. Hasilnya, dari 61 negara, Indonesia berada di urutan ke-60, hanya satu peringkat lebih baik dari negara Botswana yang menempati posisi buncit. Negara Thailand berada satu tingkat lebih baik. Negara Nordic mendominasi peringkat 5 teratas dengan negara Finland di urutan pertama, disusul Norwegia, Iceland, Denmark dan Swedia. Miller (2016) menyatakan faktor yang mempengaruhi tingkat literasi ini adalah angka melek huruf dan budaya membaca dari negara-negara tersebut, juga faktor sumber yang mendukungnya seperti ketersedian perpustakaan. (https://www.theguardian.com/books/2016/mar/11/finland-ranked-worlds-most-literate-nation)
Tingginya budaya membaca di suatu negara juga bisa terlihat dari banyaknya perpustakaan dan toko buku yang tersedia. Seperti kita tahu bahwa budaya membaca di negara Jepang sangat tinggi. Hal tersebut bisa kita lihat dari kebiasaaan masyarakat Jepang ketika sedang berada di kereta api yaitu membaca buku, koran atau komik. Berdasarkan Bunkanews, jumlah toko buku di Jepang sama banyaknya dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat, padahal negara Jepang jauh kebih kecil luasnya dibandingkan negara Amerika Serikat. (http://duniaperpustakaan.com/budaya-baca-di-jepang) Di Jepang juga terdapat kebiasaan Tachiyomi, yaitu kegiatan membaca gratis di toko buku. Para pemilik toko buku memperbolehkan masyarakat untuk membaca buku tanpa membeli. Acara televisi Jepang juga menyiarkan acara yang mempromosikan buku terbaru yang dikemas secara interaktif dan menarik dengan referensi dari para artis terkenal sehingga masyarakat tertarik untuk membelinya. Dengan usaha pemerintah dan dukungan masyarakat, maka tidak heran jika budaya membaca di Jepang sangat tinggi
Melihat data di atas terlihat jika Indonesia termasuk negara yang ketinggalan jauh dibandingkan negara lain baik dari segi kemampuan membaca maupun kecintaan terhadap membaca. Kebiasaan membaca orang Indonesia masih lemah sehingga membaca belum menjadi budaya yang dapat kita temui di kehidupan masyarakat sehari-hari.
Meningkatkan keterampilan dan minat baca saat ini sangat diperlukan. Keadaan dunia yang semakin mengglobal secara tidak langsung mendorong kita untuk mempertajam dan memperluas wawasan kita terhadap informasi-informasi yang ada. Banyak pihak yang terlibat dalam usaha mengembangkan budaya membaca, seperti dukungan orang tua, masyarakat, guru, maupun pemerintah. Guru adalah salah satu pihak pendukung yang diharapkan mampu meningkatkan kebiasaan membaca pada anak-anak. Salah satu tugas para pendidik di sekolah adalah untuk menanamkan kebiasaan membaca buku dan menumbuhkan kecintaan pada membaca sehingga dengan kebiasaan membaca di sekolah mampu untuk meningkatkan keterampilan dan minat membaca siswa. Berdasarkan penelitian, semakin banyak dan sering anak-anak berhubungan dengan buku, maka akan membuat mereka menjadi pembaca yang baik. Para pendidik dapat membantu anak-anak untuk menjadi pembaca yang baik dengan mendorong anak-anak untuk membaca setiap hari dan berinteraksi dengan buku dengan memberikan fasilitas berupa perpustakaan kelas. 
Perpustakaan kelas memainkan peranan penting dalam mencapai keterampilan membaca siswa. Menurut laporan NAEP, dalam kelas dengan perpustakaan yang didesain dengan baik maka akan memberikan ruang bagi siswa untuk lebih berinteraksi dengan buku-buku, memberikan kebiasaan yang positif, memberikan waktu yang lebih banyak untuk membaca, dan membantu siswa untuk menggapai pencapaian yang lebih tinggi dalam keterampilan membaca (Hunter: 2004)
Siswa yang melakukan kegiatan membaca di kelas dengan konsisten terbukti mempercepat kemampuan membaca mereka (Neuman:2001). Sebuah studi (Anderson & Nagy dalam Catapano, Fleming, & Elias: 2009) menyebutkan bahwa anak-anak belajar rata-rata 4000 hingga 12.000 kosakata baru setiap tahunnya sebagai hasil dari membaca buku secara konsisten.
Siswa harus memiliki akses ke teks-teks atau buku  dimana mereka dapat melihat diri mereka sendiri dan pengalaman mereka bisa terwakili dan dihargai. Mereka juga memerlukan teks-teks yang mewakili keragaman karakter, setting, dan cerita reflektif dari masyarakat yang lebih luas
Dengan adanya perpustakaan kelas, siswa akan termotivasi untuk membaca. Akses siswa terhadap buku akan lebih dipermudah. Siswa bisa dengan langsung untuk memilih buku yang ingin dia baca tanpa harus berjalan ke gedung perpustakaan sekolah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan buku yang ingin dibaca di perpustakaan kelas, 50% nya tertarik untuk membaca dibandingkan dengan siswa yang tidak meiliki akses ke perpustakaan kelas (Hunter: 2004). Dengan buku yang bervariasi akan memotivasi siswa untuk lebih banyak membaca, dengan demikian mereka akan menjadi pembaca yang lebih baik. Buku yang berkualitas akan menjadi alat untuk siswa berlatih membaca.
Perpustakaan kelas akan membantu siswa yang terbatas dalam mendapatkan akses untuk membaca. Banyak faktor yang menghalangi siswa untuk membaca, seperti faktor sosial ekonomi. Keluarga yang kekurangan dalam hal finansial akan sulit untuk memberikan fasilitas bagi anaknya untuk membaca. Perpustakaan kelas akan membantu siswa yang datang dari keluarga berpenghasilan rendah untuk mendapatkan akses membaca buku. 
Dalam membangun perpustakaan kelas yang ideal dibutuhkan perencanaan yang matang. Hal ini dimulai dengan mendesain ruang kelas yang mampu menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar dan melaksanakan kegiatan membaca. Perencanaan ruang kelas dimulai dengan mempertimbangkan bagaimana cara mengakses buku dan seberapa banyak buku yang harus disiapkan. Kebanyakan guru mulai mengumpulkan buku untuk perpustakaan kelas mereka jauh sebelum mereka menyelesaikan program persiapan guru mereka. Namun, tidak selalu jelas bagaimana banyak buku yang mereka butuhkan atau apa jenis buku yang mereka harus mencari.
Fountas dan Pinnell (2001) menekankan pentingnya membangun koleksi buku yang bervariasi sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan membaca mereka serta memperluas dunia mereka. perpustakaan kelas harus mencakup berbagai teks dari berbagai format, genre, dan jenis, termasuk teks-teks yang dapat diterapkan untuk belajar di berbagai bidang konten. Narasi dan teks ekspositoris tentang berbagai topik harus banyak, dan teks-teks tentang lingkungan harus dimasukkan dalam rangka untuk menarik berbagai kepentingan dan untuk mengekspos siswa dengan format teks yang berbeda. Ketersediaan pilihan bagi siswa membaca di, atas, atau bawah tingkat kelas sangat penting, termasuk banyak buku yang memudahkan bagi siswa untuk mengeksplorasi dan berpetualangan dengan bebas (Fountas & Pinnell 2006, p.518).
                Salah satu aturan praktis tentang berapa banyak buku yang harus disediakan di dalam perpustakaan kelas adalah dengan merencanakan minimal 10 buku untuk setiap anak di dalam kelas, dengan tidak kurang dari 100 buku (Fractor, Woodruff, Martinez, & Teale, 1993; Reutzel & Fawson, 2002). Allington dan Cunningham (2001) menyarankan 700-750 buku untuk setiap kelas di sekolah dasar. Miller (2002) menyarankan untuk membangun koleksi perpustakaan secara bertahap. Pembelian setiap buku yang sudah  usang  atau yang sudah tidak up-to-date tidak akan membantu anak-anak mendapatkan semangat atau motivasi  untuk buku-buku di perpustakaan. Sebaiknya guru menyediakan buku yang baru dan menarik sehingga siswa tertarik untuk membacanya. Siswa harus membaca literatur berkualitas tinggi, teks-teks atau buku yang disediakan di dalam perpustakaan kelas berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak sehingga mereka mendapatkan pengalaman yang menarik dari membaca (Miller, 2002, p 47.). Catapano, Flemming & Ellias (2009) merekomendasikan bahwa guru secara bertahap bekerja mengumpulkan buku dengan kuantitas direkomendasikan hal ini dikarenakan lebih penting untuk memiliki buku berkualitas tinggi daripada hanya memiliki sejumlah besar buku.
Pengorganisasian buku-buku dalam perpustakaan kelas harus memposisikan sejumlah besar buku yang akan ditampilkan dengan cover yang  terlihat sehingga siswa akan dengan mudah memilih buku yang ingin mereka baca. Jika bukunya tidak memiliki cover yang menarik tapi di dalam bukunya  menawarkan ilustrasi warna-warni dan / atau kisah yang hebat, maka buku tersebut harus ditampilkan dengan cara memperlihatkan isi buku  tersebut yang akan menarik siswa untuk mengeksplorasi buku. Buku-buku yang lama dan yang baru pun harus dipisahkan. Disediakan pula tempat untuk buku-buku yang direkomendasikan guru dan buku-buku yang direkomendasikan siswa.
                Setiap minggu beberapa buku harus dirotasi (McGee & Richgels, dalam Catapano, Fleming, & Elias:2009). Beberapa favorit tetap ditinggalkan di perpustakaan kemudian menambahkan buku baru yang mewakili topik terbaru yang sesuai dengan kurikulum. Termasuk buku yang mewakili topik masa depan dalam kurikulum sehingga siswa akan mulai membentuk ide-ide tentang apa yang akan mereka pelajari dan mereka juga mampu menawarkan apa yang telah mereka pahami tentang suatu topik ketika mereka mulai sebuah proyek baru atau tema. Ketika merotasi buku, menambahkan buku baru secara bertahap, menempatkan kembali favorit jika siswa protes. Salah satu cara untuk menilai buku apa saja yang membuat siswa tertarik akan buku yang  tersedia di perpustakaan adalah memiliki grafik yang memperlihatkan keinginan siswa untuk memilih buku-buku baru yang ditambahkan. Cara lain untuk mengatur bagaimana perpustakaan digunakan adalah meminta siswa untuk mencatat buku apa yang mereka inginkan untuk dieksplorasi (Catapano, Fleming, & Elias:2009).
Perpustakaan kelas penting untuk dihadirkan di dalam ruang-ruang kelas. Dengan adanya perpustakaan kelas, siswa memiliki akses yang cepat dalam mendapatkan teks-teks atau buku-buku yang diperlukan oleh mereka. Dengan dipermudahnya akses dalam mendapatkan teks atau buku, siswa akan lebih termotivasi untuk membaca dan budaya membaca pada anak-anak akan dapat terwujud sehingga diharapkan kecintaan anak-anak pada membaca akan terus berlangsung hingga mereka dewasa. Perpustakaan kelas yang baik menyediakan teks-teks atau buku-buku dari berbagai macam genre, tema, jenis dan format sehingga minat seluruh siswa dapat terpenuhi.

Daftar Pustaka

Allington, R. L., & Cunningham, P. M. (2001). Schools that work: Where all children read and write, (2nd ed.). New York: HarperCollins.

Catapano, S, Fleming, J., & Elias, M. (2009). Building an effective classroom library. Journal of Language and Literacy Education [Online], 5(1), 59-73.

Fountas, I. C., & Pinnell, G. S. (2006). Teaching for comprehension and fluency: Thinking, talking, and writing about reading, K-8. Portsmouth, NH: Heinemann.


Hunter, Phyllis C. Classroom Libraries. Instructor,10495851, Jan/Feb2004, Vol. 113, Issue 5. www.phyllishunter.com

Miller, D. (2002). Reading with meaning: Teaching comprehension in the primary grades. Portland, ME: Stenhouse Publishers.

Neuman, Susan B. Early Childhood Today;Feb 2001, Vol. 15 Issue 5, p12





Wednesday, 27 September 2017

Makan Daging Ayam dan Telur, Bikin Sehat dan Cerdas

Daging ayam adalah salah satu sumber protein yang tinggi. Nah, dengan kadar protein yang tinggi, daging ayam memiliki kadar lemak yang lebih rendah dibandingkan daging merah asalkan tidak dimakan dengan kulitnya. Karena ternyata kulit ayam itu mengadung lemak yang cukup tinggi. Jadi bagi yang ingin makan dengan pola yang sehat bisa makan daging ayam tanpa kulit. Para ahli diet sih menyarankan jika ingin mengikuti pola diat bisa mengkonsumsi daging dada ayam tanpa kulit. Ada juga yang mengkonsumsi jus daging dada ayam. Nah yang suka bikin jus daging ayam ini kebanyakan sih para penggemar fitnes. Protein pada ayam selain berperan sebagai sumber energi juga berperan dalam pembentukan sel-sel baru, khususnya otot. Protein pada ayam juga sangat penting dalam mempengaruhi kerja enzim, hormon, kekebalan tubuh, dan keseimbangan cairan dalam organ tubuh.

Daging ayam, daging yang menyehatkan ini bisa dioleh dengan berbagai macam olahan yang menyehatkan dan lezat. Daging ayam bisa diolah dengan cara dibakar, direbus, dikukus, digoreng, juga dibuat jus yang sehat. Dengan proses masak dibakar, ayam bisa diolah menjadi chicken steak, sate, atau ayam bakar. ayam bisa diolah juga menjadi sup ayam, pepes ayam, goreng ayam, dan banyak lagi olahan ayam lainnya. Semua bagian ayam pun bisa dimanfaatkan dari mulai dagingnya, jeroannya hingga cekernya. Bagi para ibu, olahan daging ayam seperti nugget ayam, bisa jadi alternatif sarapan yang cepet saji dan menyehatkan. Para ibu bisa membuat sendiri nugget ayamnya sehingga bisa terasa lebih enak dan sehat tanpa pengawet. Sedangkan untuk para anak kost, nugget ayam bisa jadi alternatif hidangan yang cukup nutrisi dan mudah untuk dimasak.

Daging ayam bisa menyehatkan, tapi bisa jadi sumber penyakit jika kualitas daging ayam buruk. Berikut adalah ciri-ciri daging ayam dengan kualitas yang baik: warna daging putih pucat, bagian otot dada dan pahanya kenyal, baunya amis khas ayam dan tidak berbau busuk. 

Telur adalah produk, telur juga tinggi akan protein. kualitas protein diukur dengan beberpaa parameter, nah salah satunya adalah biological value (BV). Semakin tinggi nilai BV artinya protein akan semakin mudah terserah oleh tubuh. Dan ternyata nilai BV telur adalah yang paling tinggi dibandingkan sumber protein yang lain, yaitu 100. Selain bikin tubuh sehat dengan tingkat proteinnya yang tinggi, ternyata telur pun mampu untuk mencerdaskan, apa yang membuat kandungan telur bisa bikin cerdas. Telur banyak mengandung nutrisi termasuk lemak sehat dan protein yang dibutuhkan oleh otak. Kolin, yang terdapat pada telur akan membantu meningkatkan kemampuan otak dan kekuatan ingatan. 

Nah, jadi makan daging ayam dan telur itu menyahatkan dan mencerdaskan. Harga ayam dan telur pun relatif lebih murah dibandingkan daging merah seperti daging sapi atau kambing. Bagi anak kost, telur juga bisa dijadikan penyelamat diakhir bulan karena dengan harganya yang relatif murah tapi memberikan nutrisi yang tinggi. Telur bisa dijadikan tambahan pada mi instan, sumber makanan favorit pada anak kost, sehingga hidangan mi instan akan menjadi lebih sehat.

Telur bisa dijadikan olahan yang sehat dan bervariasi, sama seperti daging ayam, telur bisa diolah menjadi berbagai macam makanan mulai dari telur ceplok, telur dadar, telur balado, martabak telur, dan berbagai macam olahan telur lainnya.

Walaupun telur merupakan sumber nutrisi yang menyehatkan, tetapi telur pun bisa menjadi sumber penyakit jika kualitas telur buruk. Sebagai konsumen kita harus jeli dalam memilih telur dengan kualitas yang baik. Berikut ciri telur dengan kualitas yang baik: kondisi cangkang telur tidak retak, warna telur tidak terlalu pucat atau gelap, bersih dari berbagai kotoran dan noda, tekstur kulit telur mulus dan tidak kasar, tenggelam jika dimasukkan ke dalam air, apabila diteropong terlihat jernih dan kuning telur berada di tengah, tidak bau busuk, dan bentuk telur lonjong.










Sunday, 24 September 2017

Membaca dan Perpustakaan

Membaca dan perpustakaan itu erat kaitannya, istilahnya seperti lem dan kertas yang ketika sudah menempel akan sulit dipisahkan. Orang yang gemar membaca pastinya akan menemukan surganya dalam perpustakaan. Nah, pertanyaannya, perpustakaan seperti apakah yang layak dijadikan surganya para membaca 'freak'.

menerut pengalaman sih, ketika zaman-zamannya masih kuliah, bisa dibilanglah jika saya hanya sekali atau dua kali saja masuk ke perpustakaan dan meminjam buku. Tanya kenapa???? Apakah saya tidak suka membaca sampai-sampai males ke perpustakaan?... Kalau mau jujur-jujuran sih, saya 'lumayan' suka membaca buku. Kalau mengunjungi toko buku, saya seperti menemukan tempat yang menawan hati. Rasanya hati ini bergejolak dan galau ketika berkunjung ke toko buku. Bahagia ketika melihat deretan buku baru tapi galau ketika isi dompet tidak memungkinkan untuk membeli banyak buku. Nah makanya toko buku itu tidak bisa disebut surganya dunia karena eh karena kalau mau baca musti beli-walaupun ada buku-buku yang telanjang tanpa bungkus plastik dan bisa baca di tempat tapi yah tidak semua buku.

Sebaliknya perpustakaan menawarkan surga bagi para pecinta buku. Sayangnya hampir semua perpustkaan di Indonesia belum mampu menawarkan surga itu. Koleksi buku di perpustakaan baik perpustakaan sekolah, universitas maupun daerah belum terlalu lengkap dan update. Koleksi bukunya gitu-gitu saja. Perpustakaan sekolah berkutat pada genre yang berkaitan dengan buku pelajaran, begitupun perpustakaan universitas ataupun daerah. Tempatnya pun kurang nyaman, plus waktu yang terbatas, biasanya tutup jam 4 sore, hari minggu nya libur.

Nah, bedanya dengan perpustakaan di negara-negara lain yang lebih maju. Perpustakaannya mampu menawarkan surga bagi para pecinta buku. Dengan waktu 24 jam dan koleksi buku yang lengkap dan update. Tempatnya pun terlihat lebih nyaman. Nah, tau dari mana nih saya tentang perpustkaan di negara lain. Yah sebagai penggemar film dan drama sih terkadang menonton film yang menampilkan setting di perpustkaan. Pemandangan pertama perpustakaan yang made me awe itu setting perpustakaan di film kartun Beauty and The Beast tahun 1992 an, adegan dimana The Beast menghadiahkan perpustakaan miliknya pada Belle dan hal itu juga yang I think made Belle falling in love with The Beast. Adegan selanjutnya tentang perpustakaan yang menurut saya amazing itu ketika saya melihat video ost filmnya Brendan Fraser yang dinyanyikan Madonna, judulnya I'll Remember. Nah, di film itu kalau gak salah karakternya Fraser memainkan seorang mahasiswa Harvard kalau tidak salah, nah di film  itu digambrkan jika perpustakaannya buka 24 jam..kan mantap tuh. 

So, perpustakaan itu akan mampu menawarkan surganya dunia bagi para 'kutu buku' jika memang fasilitasnya pun mendukung. Dan yakin deh jika perpustakaannya mantap, akan semakin banyak orang-orang yang gemar membaca. Dan jika masyarakat sebuah negara banyak yang gemar membaca yakinlah negara tersebut akan maju. Perintah pertama Allah kepada Rasulullah SAW pun adalah 'Iqro', 'Bacalah'.

Wallahu'alam...^_^

Monday, 21 August 2017

I Write Because I Care

Saya menulis karena saya peduli...Peduli terhadap apa?... Tulisan apa yang akan saya buat?... Apakah benar tulisan saya bisa menjadi bentuk sebuah kepedulian?...

Jawabannya to be continued....

Friday, 18 August 2017

Belajar Dari Kecoa

Tau binatang kecoa kan?...binatang yang menjijikkan, bau, pokoknya nyebelin apalagi kalo sudah terbang dan nemplok kena muka...atau nyelinap ke dalam celana atau baju...hiiiy..Dan bahkan ada sebutan bagi yang phobia kecoa yang disebut katsaridaphobia

Nah, ko bisa sih belajar dari kecoa...????

Ternyata kecoa itu binatang yang kuat, walaupun kepalanya sudah terlepas, ni binatang masih bisa bertahan hidup selama satu minggu. Kecoa juga binatang yang paling mudah dan cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Dan yang lebih hebatnya nih, ternyata kecoa juga punya radar khusus yang bisa mendeteksi rasa takut dari lingkungannya. Jadi kecoa bisa tau kalo kita takut atau jijik sama mereka. Nah, bukannya menjauh, nih kecoa bakalan mendekati orang-orang yang mengeluarkan hormon rasa takut.

Daya bertahan ni kecoa juga patut diacungi jempol. Selain bisa bertahan hidup tanpa kepala, kecoa juga memiliki pelindung kuat di punggungnya. Jadi, kalau dipukul gak teralu kuat, nih kecoa gak akan mati, dia akan membalikkan badannya. Nah setelah badannya terbalik, dia pun mampu bertahan dengan posisi badan yang terbalik. Dan ketika kita sudah menduga kecoa itu mati, trus kita akan menyapunya, maka amazingly, kecoa yang kita sangka mati karena tidak bergerak itu, akan tetiba bergerak dan berlari.

Kecoa itu telah hadir di muka bumi sejak 300 juta tahun yang lalu, berarti lebih tua dari dinosaurus. Nah, kenapa kecoa tidak punah?... Hal ini disebabkan daya tahan dan daya adaptasi yang luar biasa dari kecoa.  

Nah, jadi apa sih hikmah yang bisa kita ambil dari binatang yang menjijikkan ini. Ternyata banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari hamba Allah yang satu ini. Daya tahan yang luar biasa, kita sebagai manusia harus memiliki daya tahan yang kuat tidak lemah. Mudahnya kecoa dalam beradaptasi juga bisa kita teladani. Kita sebagai manusia harus mudah beradaptasi. Beradaptasi dalam berbagai kondisi dan situasi. 

Wallahua'alam...^_^..

Friday, 11 August 2017

The Power of Women (Emak-Emak)

Akhir-akhir ini term 'The Power of Emak-Emak' makin powerful saja, setelah foto motor yang dikendarai seorang ibu menerjang cor an beton yang masih basah. Sebenernya sih istilah the power emak-emak ini tidak selalu negatif, ada juga ketika the power of emak-emak di medsos menghancurkan kepongahan Sari Roti dan 'menyelamatkan' beras Makyuus. Yah kita tau lah siapa yang beli roti atau beras buat kebutuhan keluarga. Yup, ibu-ibu lah yang beli beras atau roti buat disantap anggota keluarga lainnya. Emak-emak yang aktif di medsos kompak memboikot Sari Roti setelah, pihak Sari Roti terbukti membela si penista agama dan yang terjadi selanjutnya, produk Sari Roti tidak laku. Hal ini dibuktikan dengan menumpuknya produk roti tersebut di rak-rak minimarket ataupun supermarket. 

Kejadian yang sama terulang ketika Polri dengan semena-mena menuduh beras Makyuus oplosan dan pemiliknya ditangkap karena menetapkan HET yang terlalu tinggi. Dan apa yang terjadi selanjutnya berkebalikan dengan apa yang terjadi pada Sari Roti. Dengan 'The Power of Emak Emak' terutama di medsos, beras Makyuus malah laku di pasaran. Para ibu-ibu berpendapat bahwa tindakan Polri dalam menggerebek gudang PT IBU (produsen beras Makyuus), menangkap pemiliknya dan memberitakan bahwa beras Makyuus itu oplosan terlalu semena-mena. Apalagi setelah komisaris PT IBU mengklarifikasi kebenarannya bahwa PT IBU membeli gabah langsung ke petani dengan harga yang lebih tinggi, kemudian PT IBU ini juga dimiliki oleh pengusaha muslim, dan ternyata banyak testimoni yang menyatakan bahwa kualitas beras Makyuus ini memang bagus. Maka terjadilah teror bagi Polri. Para emak-emak ini dengan semangat jihad medsos nya, men-share berita-berita tentang kebenaran dari beras Makyuus dan semakin menguak kebohongan Polri. Dengan kekuatannya, emak-emak ini berhasil mendongkrak penjualan beras Makyuus. Ibu-ibu yang sebelumnya tidak mengetahui tentang beras Makyuus ini dan tidak membelinya, setelah kasus ini banyak ibu-ibu yang membeli beras Makyuus untuk kebutuhan makan keluarganya.

So, jangan anggap remeh the power of emak emak. Karena dengan jari-jarinya dan mulut-mulutnya, emak-emak mampu menggoncangkan dunia. Dan ingat surga itu di bawah telapak kaki ibu.