بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Tuesday, 11 August 2015

Mask: Don't be Greedy....


Live your own life not others' life, then you'll be happy. 
What you see is not what you think. You think that money can buy you love. Yes, you may be happy because you have a lot of money, but still you can be happy even you only have coins in your pocket. Money can make you happy, yet money can make you suffer. If you treat money as your master then you'll be suffered. Trust me, greedy make a person bad. Greedy means that there's no word 'enough' in your dictionary. You will never feel enough.

Someone said that, You'll be rich if you feel rich. This means grateful, You thank God that you've enough given. This means that you want help other people. This means that you think you should share what that God gives to you. You take and give. Then, you'll be a happiest person in the world.  

Tuesday, 14 July 2015

Spartace Couple: More Intimate Overseas

The reason why I write this, is because of my friend who said that SA couple looks intimate and closer when they have overseas events. This month, SA fans got a lot of surprises. This month biggest news maybe when SJH expired contract with her agency and of course the 'real news' that she broke her relationship with her CEO two years ago, around 2013. And I'm sure that I started smelled something fishy about KJK and SJH around 2013. Many fans also found out that they got more intimate and closer. We don't know was it flirty moment between man and woman or just brother and sister. But many SA fans believe that they have something special in their relationship, not only brother and sister, or just friend, or just co-worker, but more that that, it's romantic vibe.
We rarely see their intimacy in the show, Running Man. We all know that SJH has an official loveline with Gary, and there are so many Monday Couple who believe that they are real, in contrary, I don't believe such a scripted or official couple. I'm sure that they are just a couple for only business. 
In other hand, SA couple shipper believe that KJK and SJH are the real couple. We often see their romantic scene overseas when they're doing fan meetings or overseas special episode for Running Man.

The first overseas romantic moment was in Singapore FM in 2013. Instead of closer to her 'Monday Boyfriend', SJH looked more intimate with KJK. Their body language showed that they had romantic feeling at that time.
during press conf... and their hair colour is match 

look!!! what are they doing...lol

Then, we saw them in Aussie special episode when SJH arrive to the location when the members did their mission, SJH met KJK and hugged him. 
why she had to hug him tightly...lol
Then, in Indonesia when they had a special mission with Park Ji Sung. They looked so closer in the field and think that they were in their own world.





Still, in Indonesia, when they were in the airport. SJH just followed JK grabbing his backpack, maybe


Mama Award event in Hongkong. They were an RM representative to announce a winner in the event. In that time one of  MCs of the event called them as Korean 'Brangeline' refer to a Hollywood famous couple. They really match each other in that event and looked like a real couple. JH put her arm on JK's arm during the red carpet and on stage. Even, JH hold JK's arm in the backstage.








It was in Thailand. Overseas special episode with Park Ji Sung in 2011. They did a mission in a market in Thailand, they had to find a special fruit called rambutan in Thai language. They did the mission together.
And of course when it was on a stage when they did a charity event. They stand side by side and staring each other with the full of love in their eyes (sorry for my hige delulu mind here)





And don't forget New York. They were caught flew in a same plane. JH showed herself in departure to NY, and press or fans didn't see JK. When the plane arrived in NY, some fans caught JK in the airport and some fans believe that JK and JH were together, then a fans asked JK whether he was with JH or not and JK answerd shyly that they were in same flight. And the fishy thing came up when fans or press didn't see JK in departure time, and JH didn't show up in the arrival time. But, YES, they were together, in a same flight.



picture credit as tagged

to be continued

Strategi Dalam Menyimak

Memahami Diri Sendiri
Strategi pertama untuk menjadi pendengar yang efektif adalah memahami diri sendiri sebagai komunikator. karena sebagai sumber dari pesan komunikasi, maka pendengar harus mengetahui diri mereka sendiri. Teknik yang berguna untuk pemula agar memahami analisa pribadi adalah dengan ‘jendela Johari’.
‘Jendela Johari’ ini menampilkan 4 dimensi dari diri sendiri. Ada 4 area dasar dari diri: free (bebas), blind (buta), hidden (tersembunyi), dan unknown (tidak diketahui. Area 1 terbuka, area III, area tersembunyi. Area buta terdiri dari semua informasi yang orang lain tahu tentang anda tapi anda sendiri tidak tahu tentang diri anda sendiri. Area tidak diketahui menampikan aspek dari seseorang dimana tidak diketahui baik oleh orang lain maupun dirinya sendiri.  Beberapa orang berpendapat semakin anda membuka diri semakin anda mengurangi daerah unknown anda.
Walaupun ada keuntungan dalam proses penyingkapan diri, tapi dalam prosesnya ada resiko juga.ketika seseorang memutuskan untuk terbuka pada orang lain, maka orang lain harus menerima semua informasi yang tersingkap. Banyak pembaca mungkin akan menyebut situasi ketika mereka menyingkap rahasi mereka kepada teman, maka mereka mampu mengatur untuk mengkomunikasikan informasi tersebut kepada teman-temannya.
Proses memahami diri sendiri memberikan niilai padamu sebagai pendengar dalam mengetahui konsep diri dan bagaimana hal tersebut berdampak pada sikap mendengar mu. Memahami konsep diri juga dapat menjadikan sikap diri yang lebih baik, tidak hanya terhadap pesan yang diterima tapi juga terhadap proses penerimaan pesan tersebut. Sikap yang negatif terhadap tindakan menyimak dapat berakibat pada pasifnya diri dalam kegiatan menyimak. Tindakan ini mengantarkan pada sikap yang hanya duduk diam dan membiarkan guru berbicara.
Banyak pendengar yang memelih untuk menggantungkan pada stimulus visual untuk mendapatkan informasi. Beberapa penelitian dilakukan untuk mencari hubungan antara diskriminasi visual dan pemilihan penerima untuk mendapatkan stimulus. Para peneliti menyimpulkan bahwa ada 3 faktor yang mempengaruhi pemilihan untuk mendapatkan stimulus visual yaitu potensi untuk kemampuan membedakan, nilai informasi, dan saliency dari stimulus itu sendiri.
Penelitian dalam membaca menunjukkan bahwa kebanyakan anak-anak usia awal memilih untuk belajar dengan menyimak. Pada usia sekitar 12 tahun memilih untuk belajar dan mendapatkan informasi melalui membaca dibandingkan menyimak.

Memotivasi diri untuk menyimak
Strategi kedua untuk menyimak adalah memotivasi diri dalam proses menyimak ini. Kita harus mengartikan bahwa kegiatan menyimak adalah proses yang aktif sehingga tidak menjadikan diri sebagai partner yang pasif dalam suatu komunikasi.
Carl Weaver menyebutkan bahwa membangun hasrat kita dalam menyimak adalah dasar untuk menjadikan kegiatan menyimak aktif. Sayangnya, meningkatkan hasrat ini bukanlah perkara yang mudah. Seperti yang dikatakan Weaver bahwa, “kebanyakan orang tidak mau menyimak, tapi berbicara”. Dia menyimpulkan bahwa syarat untuk meningkatkan hasrat menyimak adalah dengan menekan hasrat untuk berbicara. Kita memiliki kapasitas untuk menyimak tetapi kapasitas kita dalam menyimak akan menjadi tidak berguna kecuali kita mengkombinasikannya dengan kerelaan kita untuk menyimak.
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang termotivasi untuk menyimak mendapatkan skor yang lebih tinggi sehingga para peneliti menyimpulkan bahwa kapasitas dalam menyimak yang dikombinasikan dengan kerelaan untuk mendegarkan dapat berefek pada tampilan menyimak.
Karena kegiatan menyimak itu membutuhkan tindakan yang aktif, maka pendengar yang baik bertanggung jawab untuk memotivasi dirinya sendiri dalam kegiatan mendengar secara aktif dan tidak hanya menunggu secara pasif agar dimotivasi oleh pembicara.
Membangun motivasi diri sendiri untuk menyimak tidaklah mudah. Tidak ada cara yang khusus untuk membangunnya. Dengan mengkombinasikan berbagai faktor dapat mengembangkan motivasi kita seperti: gerakan, kebiasaan, kecenderungan, dan kemampuan kognitif. Jika pengalaman menyimak dapat memenuhi kebutuhan dasar, maka motivasi dapat terjaga di tingkat yang tinggi. Hal ini dapat dikuatkan oleh usaha dari pendengar untuk mencapai tujuan dan mengidentifikasi tujuannya untuk menyimak sebelum masuk ke dalam situasi menyimak. Kita juga dapat memotivasi diri sendiri dengan memberikan hadiah kepada diri sendiri dengan mendapatkan kepuasan dalam menjalankan kegiatan menyimak yang efektif.
Untuk membuat motivator internal, pendengar harus menampilkan sikap menyimak yang efektif.

Menyimak Aktif
Strategi ketiga untuk menyimak secara efektif adalah menyimak secara aktif, secara konsisten berpartisipasi dalam proses komunikasi. Karena komunikasi adalah proses transaksional, perlu bahwa pendengar menganggap setidaknya lima puluh persen dari beban dalam komunikasi itu. Pendengar termotivasi akan menjadi pendengar yang aktif, berpartisipasi aktif dengan sumber seluruh transaksi. Meskipun tampaknya sederhana untuk menyarankan seseorang untuk menyimak, sangat disayangkan bahwa banyak orang tidak mengambil tanggung jawab untuk menyimak secara aktif. Pendengar yang sering mengabaikan pembicara, mereka biasanya memberi alasan bahwa pembicara adalah orang yang membosankan. Tanggapan tersebut berfungsi sebagai alasan untuk tidak memikul tanggung jawab untuk berpartisipasi aktif dalam komunikasi.
            Menyimak secara aktif seluruh transaksi komunikasi harus dianggap  sejajar dengan hak kita untuk kebebasan berbicara. Sama seperti pembicara memiliki hak untuk berbicara dalam masyarakat demokratis, pendengar juga memiliki hak untuk bebas menyimak. Sebagaimana telah kita lihat, kita bisa membuat pilihan untuk menyimak atau tidak menyimak. Tapi begitu kita telah membuat keputusan untuk menyimak, keputusan itu harus disertai dengan komitmen untuk menyimak dengan tanggung jawab. Pendengar yang aktif bersedia untuk memenuhi kewajiban ini dan menyimak seluruh pesan sebelum memberikan penilaian.
            Sebagai komunikator, kita harus bersedia untuk berpartisipasi sama dalam proses. Partisipasi tersebut yaitu tanggung jawab kita untuk mendengar pembicara sebelum kita memutuskan untuk atau menolak pesan orang.

Mengirim Tanggapan
Strategi keempat yang menjadi ciri pendengar sebagai seorang komunikator yang efektif adalah strategi mengirim umpan balik. Umpan balik memainkan peran yang sangat berharga dalam seluruh proses. Umpan balik yang diberikan pada seorang individu dapat memiliki dampak yang signifikan pada individu tersebut. Pertama, dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri. Sebagaimana telah kita lihat, hasil konsep diri yang sangat banyak dari persepsi kita tentang bagaimana orang lain memandang kita. Seseorang yang menerima keuntungan umpan balik positif dapat meningkatkan kepercayaan diri. Di sisi lain umpan balik negatif dapat mengecewakan pembicara, dengan demikian mengurangi rasa percaya diri  pembicara sebagai komunikator.
Umpan balik dari pendengar juga dapat mengatur tindakan pembicara, seperti bagaimana mereka mengatur komentar mereka karena mereka berkomunikasi dengan pendengar. Penolakan umpan balik ditemukan, dapat  mengganggu pembicara dan menghasilkan pidato yang kurang koheren, kurang akurat, dan lebih bertele-tele. Pendengar yang berniat untuk berpartisipasi aktif dalam transaksi komunikasi, maka, harus memutuskan untuk mengirim umpan yang akan mendukung upaya pembicara dalam proses komunikasi.
Umpan balik mendukung dapat berharga tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi organisasi. Dalam sebuah studi yang informatif yang menunjukkan dampak dari umpan balik pada suatu organisasi, Tubbs dan Widgery dilatih manajer dan supervisor meningkatkan komunikasi mereka dengan para pekerja mereka. Para pekerja pabrik, pada gilirannya, ditemukan untuk meningkatkan kinerja pekerjaan mereka dan lebih puas dengan pekerjaan mereka.
Meskipun dibutuhkan waktu, umpan balik dapat memperkuat komunikasi dan membuat transaksi yang benar untuk komunikator. Agar efektif, bagaimanapun, umpan balik pendengar harus terbuka, jujur, konstruktif, dan berarti bagi pembicara.
Barker menawarkan sepuluh pedoman dasar untuk mengirim umpan balik secara efektif:
1. Kirim umpan balik yang sesuai dengan pesan pembicara.
2. Pastikanumpan balik  dirasakan oleh pembicara.
3. Pastikan umpan balik dalam arti yang jelas.
4. Kirim umpan balik dengan cepat.
5. Waspadalah terhadap sistem yang melebihi batas.
6. Keterlambatan dalam melakukan segala aktivitas yang dapat menciptakan efek yang tidak disengaja.
7. Jauhkan umpan balik dari evaluasi pribadi.
8. Gunakan umpan balik yang tidak menunjuk sampai pembicara mengundang evaluasi pesannya.
9. Pastikan bahwa Anda memahami pesan sebelum Anda mengirimkan umpan direktif.
10. Sadarilah bahwa upaya awal untuk memberikan umpan balik yang lebih efektif mungkin tampak tidak wajar, tetapi akan meningkat dengan latihan.
Sebagai pedoman umum untuk mengirimkan umpan balik, saran Barker dapat berguna. Pendengar perlu mempertajam keterampilan umpan balik mereka dan mengakui bahwa mereka mengirim pesan verbal dan nonverbal melalui saluran umpan balik. Sejak mengirimkan umpan balik adalah proses yang berkesinambungan sementara kita berkomunikasi dengan seseorang, adalah penting bahwa umpan balik mengungkapkan apa yang ingin kita komunikasikan dengan orang lain.
Seorang pendengar yang baik akan menghindari umpan balik yang tidak sesuai dengan situasi. Dan pendengar yang baik akan menyadari bahwa terbuka, umpan balik yang jujur ​​pasti adalah yang terbaik dari komunikasi. Kami menyadari, bagaimanapun, bahwa umpan balik yang jujur ​​kadang-kadang memiliki efek negatif bagi pembicara dan menyebabkan komunikasi berakhir. Akibatnya, pendengar harus menilai dengan seksama kemungkinan efek respon.
Untuk mengembangkan keterampilan dalam penggunaan umpan balik, kita, sebagai pendengar, '' tidak hanya harus menyediakan beberapa jenis umpan balik, tapi kami harus menyadari respon orang lain umpan balik itu.’’ Sering ditemukan, misalnya, pembicara sedang dilawan oleh tanggapan Anda, maka Anda harus mempertimbangkan menyesuaikan pesan umpan balik agar tidak menciptakan iklim komunikasi yang defensif.
Keterampilan umpan balik bisa menjadi tugas utama bagi semua pendengar yang sensitif. Hasil umpan balik merupakan keterampilan dari upaya sadar; Anda harus tahu apa yang Anda lakukan sebagai komunikator. Praktek dan pengalaman dapat memungkinkan seseorang untuk mengembangkan dan menyempurnakan keterampilan ini. Sebagai Barker menunjukkan dalam rekomendasi kesepuluh.

Memang, mengirimkan umpan balik adalah strategi menyimak yang penting, seperti mengetahui diri sendiri, mengembangkan motivasi diri untuk menyimak, dan menyimak secara aktif berfungsi sebagai perangkat untuk meningkatkan transaksi komunikasi antara pendengar dan pembicara dalam percakapan, di kelas, di tempat kerja, dan dalam semua aspek kehidupan. Sebagai komunikator, pendengar harus menggunakan strategi komunikasi yang merupakan kunci untuk memenuhi tanggung jawabnya.

Monday, 13 July 2015

Perbandingan Berbicara dan Menulis

Perbandingan antara berbicara dan menulis akan membantu kita memahami  beberapa kesulitan yang kita alami ketika kita menulis. Dalam tabel akan disoroti perbedaan utamanya.
Meskipun kegiatan menulis sangat tergantung seberapa efektif kita menggunakan linguistic dari suatu bahasa, akan salah jika kita menyimpulkan bahwa keuntungan ada di pihak berbicara. Memang benar bahwa dalam menulis kita memiliki tugas untuk menyusun kalimat kita dengan hati-hati agar tulisan kita dapat dipahami oleh pembaca secara gamblang tanpa bantuan umpan balik dari pembaca, dengan kata lain, secara normal kita tidak harus menulis dengan cepat: kita dapat menulis ulang dan merevisi tulisan kita sampai kita merasa puas bisa mengekspresikan pemahaman kita. Pembaca memiliki posisi yang lebih istimewa daripada pendengar dalam beberapa hal. Dalam hal ini, beberapa kerugian dari komunikasi melalui media tulisan disajikan.

Berbicara
Menulis
1. terjadi dalam konteks yang sering membuat referensi yang jelas (contoh. Barang itu ada di sana)
1. menciptakan konteks sendiri dan ekspisit secara penuh
2. pembicara dan pendengar berada dalam kontak, berinteraksi dan saling bertukar peran
2. pembaca tidak hadir dan kemungkinan tidak ada interaksi yang terjadi
3. biasanya orang yang dituju jelas
3. pembaca tidak perlu untuk dikenal oleh penulis
4. umpan balik dapat langsung diberikan
Verbal: pertanyaan, komentar, … bisikan, dengusan
Non-verbal: ekspresi wajah
4. kemungkinan umpan balik tidak diterima secara langsung. Penulis kemungkinan akan mengantisipasi reaksi pembaca dan memasukkan mereka ke dalam teks
5. berbicara itu sementara. Bertujuan untuk difahami dengan segera. Jika tidak, maka pendengar akan berharap untuk bisa langsung berinteraksi
5. menulis itu permanen. Bisa dibaca ulang sesering dan sebanyak yang diperlukan dan dengan kecepatan tersendiri
6. kalimat bisa saja tidak lengkap dan tidak sesuai tata bahasa. Keragu-raguan dan jeda,, redudansi dan pengulangan
6. kalimat diharapkan terstruktur dengan hati-hati, terkoneksi dan diatur untuk membentuk sebuah teks
7. berbagai perangkat (penekanan, intonasi, nada, kecepatan) membantu untuk menyampaikan pesan. Ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan juga gesture digunakan untuk tujuan membantu menyampaikan makna dari pesan yang disampaikan
7. perangkat yang digunakan untuk menyampaikan makna adalah tanda baca, huruf capital dan garis bawah (untuk penekanan). Batas kalimat jelas ditunjukkan.


Mengapa Menulis Itu Sulit

Sekarang kita paham mengapa menulis itu menjadi kegiatan yang sulit bagi kebanyakan orang, baik menulis dalam bahasa ibu maupun bahasa asing. Kita akan meilihat masalah yang disebabkan oleh menulis ke dalam tiga hal – psikologis, linguistik dan kognitif – meskipun ini pasti tumpang tindih sampai batas tertentu.

 Masalah psikologis
Berbicara adala media komunikasi yang natural dan normal dalam kebanyakan keadaan dan membiasakan kita baik untuk mendapati seseorang hadir ketika kita menggunakan bahasa maupun untuk mendapatkan umpan balik. Sebaliknya, menulis pada dasarnya adalah kegiatan menyendiri dan faktanya kita dituntut untuk menulis sendiri, tanpa kemungkinan untuk berinteraksi dan mendapatkan keuntungan dari umpan balik, hal ini lah yang membuat menulis itu menjadi kegiatan yang sulit.

Masalah linguistik
Komunikasi lisan dilanjutkan melalui proses dan, kecuali keadaan yang khusus, seperti perkuliahan, partisipannya membantu agar komunikasi tetap berlangsung. Karena berbicara itu kegiatan yang spontan, kita hanya memiliki sedikit waktu untuk memperhatikan baik susunan kalimat ataupun koneksi antar kalimat yang kita buat. Terkadang kita mengulang apa yang kita bicarakan, backtrack, expand dan banyak lagi, tergantung bagaimana orang-orang bereaksi atas apa yang kita bicarakan. Kalimat yang tidak lengkap bahkan yang tidak sesuai dengan tata bahasa terkadang tidak terperhatikan. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam contoh perbincangan berikut ini.

DF: Pete, anda menyusun ini di piano, apakah itu yang normalnya anda kerjakan?
PW: Selalu. Sampai saat ini selalu. Mungkin akan berubah di masa mendatang, ketika saya mulai tertarik, anda tahu, bekerja dari awal sampai mensintesis, tapi saat ini saya menulis di piano. Sebenarnya saya tidak … sulit untuk menyadari bahwa saya sudah menulis sampai saya selesai mengerjakannya. (tertawa). Salah satu dari berbagai hal itu seperti terjatuh saja dari langit.
DF: Lalu, bagaimana anda memulainya?
PW: Err, well, kita memutuskan, jenis musik yang seharusnya kita pakai, untuk sesuatu yang khusus, erm, lalu saya hanya mengikuti kemana jari saya menekan tuts piano, tentu saja, anda tahu,… saya mendapatkan untuk intro nya…saya hanya menangguk-angguk dan mencorat-coret seperti ini … (suara piano).

Seperti yang kita lihat, kita memiliki berbagai alat bantu/ perangkat untuk membantu mendapatkan atau menyampaikan pesan. Dalam menulis, kita harus mengkompensasi ketidakhadiran alat bantu seperti dalam lisan. Dalam penulisan, kita harus yakin dengan pilihan struktur kalimat yang kita buat dan juga cara kita mengaitkan kalimat dan menyusunnya sehingga teks yang dihasilkan dapat diartikan sendiri.

Masalah kognitif
Kita tumbuh untuk belajar berbicara dan dalam keadaan normal kita menghabiskan waktu kita untuk hal itu. Kita berbicara tanpa usaha yang disadari, dan pada umumnya kita berbicara karena kita menginginkannya, tentang apa yang kita sukai, apa yang relevan dengan kita secara sosial maupun profesional. Sebaliknya, menulis dipalajari melalui proses instruksi. Kita harus menguasai bentuk penulisan dari suatu bahasa dan mempelajari struktur-struktur bahasa tertentu yang jarang digunakan dalan lisan atau bahkan sama sekali tidak digunakan dalam bahasa lisan, tetapi penting dalam bahasa tulisan dalam rangka menghasilkan komunikasi yang efektif. Kita juga harus belajar cara menyusun ide-ide yang kita tuangkan dalam tulisan sehingga bisa dipahami oleh pembaca yang tidak bertatap dengan kita atau pembaca yang bahkan tidak kita kenal.
Akhirnya, menulis adalah tugas yang sering dipaksakan untuk dikerjakan. Hal ini tidak saja memiliki efek psikologis; hal ini juga dapat menyebabkan masalah dalam hal konten. Kehabisan ide adalah masalah yang sering muncul ketika kita terpaksa harus menulis.


Sumber: The Nature and Purpose of Writing

Apa itu menulis?

Ketika kita menulis, kita menggunakan simbol grafis: yaitu kombinasi dari huruf-huruf yang berhubungan dengan suara yang kita buat ketika kita berbicara. Menulis bisa dikatakan sebagai kegiatan yang membentuk simbol-simbol. Tetapi menulis lebih dari sekedar memproduksi simbol grafis, seperti berbicara yang diartikan bukan hanya sebagai produksi suara. Simbol-simbol ini harus disusun, berdasarkan konvensi tertentu, untuk membentuk kata-kata dan kata-kata disusun untuk membentuk kalimat. Kita bisa dikatakan ‘menulis’ jika kita membuat daftar kata-kata seperti kita menginventarisir barang-barang seperti daftar belanjaan.
Karena aturan, kita tidak menulis hanya satu kalimat saja atau beberapa kalimat yang tidak berhubungan. Kita membuat serangkaian kalimat yang disusun berdasarkan urutan tertentu dan saling berkaitan. Jadi ketika kalimat-kalimat dijadikan satu dan saling berkaitan, maka kita telah menyusun sebuah teks.
Tidak ada aturan tertentu tentang bagaimana menyusun sebuah teks namun kebanyakan orang -  beberapa diantaranya adalah penulis professional – bahwa menulis bukanlah kegiatan yang mudah maupun spontan. Terkadang menulis bisa dilakukan dengan mudah, ketika kita memilki ‘mood’ yang bagus atau dengan mudah dan jelas kita mengekspresikan sesuatu, tetapi kita terganjal oleh aturan yang memerlukan usaha yang mental yang bagus: kita memikirkan kalimat yang akan kita buat dan memikirkan berbagai cara tentang bagaimana kita akan menyusun dan mengkombinasikan mereka. Kita membaca ulang apa yang telah kita tulis sebagai stimulus untuk melanjutkan tulisan kita. Latihan yang lain adalah membuat catatan, drafting dan merevisi. Kita mungkin juga membuat berbagai versi dari tulisan kita sampai kita puas dengan hasilnya. Contoh, bagaimana penulis mengoreksi dan memodifikasi draft teks nya di halaman 2.

Alasannya adalah bahwa kita menulis untuk pembaca. Menulis melibatkan encoding pesan: oleh karena itu kita menterjemahkan pikiran kita ke dalam bahasa. Membaca melibatkan decoding atau interpretasi dari pesan. Tetapi, ketika kita menulis untuk diri sendiri – daftar belanjaan mungkin dibuat untuk tujuan ini – pembaca adalah seseorang yang secara fisik tidak hadir. Inilah alasan mengapa kita memilih alur ini untuk berkomunikasi dibandingkan yang lainnya. Dan karena pembaca kita tidak hadir, atau dalam beberapa kasus tidak dikenal oleh kita, kita harus yakin bahwa tulisan kita bisa dimengerti tanpa penjelasan lebih lanjut dari kita. Inilah alasan mengapa kita harus lebih berhati-hati dalam menulis. Dari susunan kalimat-kalimat kita menjadi teks yang koheren secara keseluruhan dan segamblang dan selengkap mungkin, sehingga kita mampu (atau diharapkan mampu) berkomunikasi dengan pembaca kita lewat tulisan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca di Tingkat Sekolah Dasar

(1) Posisi sosial-ekonomi orangtua mempengaruhi pencapaian literasi membaca siswa. Biasanya siswa yang berasal dari keluarga dengan jumlah anak satu atau dua akan memiliki tingkat pencapaian literasi yang lebih baik, mereka memiliki banyak buku dan tingkat pendidikan orangtua yang baik.

(2) Literasi membaca siswa dipengaruhi oleh kolaborasi antara anak dan orangtua di usia pre-school, kolaborasi yang penting setelah usia 10 tahun adalah pergi bersama mengunjungi toko buku atau perpustakaan.

(3) Membaca komik tidak termasuk faktor yang meningkatkan literasi membaca siswa.

(4) Pencapaian literasi yang lebih baik diperlihatkan oleh siswa yang membaca buku yang bervariasi, puisi, buku-buku fiksi atau permainan di sekolah setidaknya satu kali dalam seminggu.

sumber: Factors Influencing Reading Literacy at the Primary School Level (Andrejs Geske & Antra Ozola)