Monday, 4 May 2015

SpartaAce Couple: I Know You So Well


They know each other so well.

Song Ji Hyo know where Kim Jong Kook usually hide. In episode 93, when other members hunted KJK, Jihyo knew exactly where did JK hide. JH said that JK would hide in basement or emergency stairs.

In episode Princess Ji Hyo, when Big Bang came as guest (ep. 163). JK chose JH's favorite dog, Bulldog, correctly. 


JK always knows that JH will always rips his nametag in the end.

Faktor-faktor yang memengaruhi proses menyimak



Menurut Wolvin & Coakley (1985:99-107) ada banyak aspek dari seluruh proses komunikasi yang memengaruhi penyimak, yaitu sumber pesan, pesan itu sendiri, saluran pesan yang dikirim, lingkungan komunikasi, serta kebisingan di sekitar komunikasi. Selain itu, penyimak pun dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memengaruhi cara penyimak dalam proses menyimak seperti: waktu, usia, jenis kelamin, konsep diri, spesialisasi belahan otak, dan keadaan fisik dan psikologis penyimak.

Waktu
Waktu memiliki pengaruh yang signifikan pada semua komunikasi. Berikut beberapa pengaruh waktu terhadap proses komunikasi.
1.     Waktu dapat memengaruhi intensitas hubungan komunikasi (Pertemuan kelompok yang hanya dilakukan satu jam setiap minggu dalam jangka waktu tertentu, akan memiliki intensitas yang kurang dibandingkan dengan pertemuan kelompok yang dilakukan terus menerus setiap akhir pekan).
2.    Waktu dapat mengubah saluran komunikasi (orang tua dan anak yang beralih dari komunikasi non verbal kepada komunikasi verbal, akan mengembangkan kemampuan bahasa verbal anak).
3.    Waktu dapat mengubah gaya komunikasi (beberapa orang yang telah bersama untuk jangka waktu yang panjang mungkin akan menggunakan kata-kata yang lebih sedikit, masing-masing mampu mengantisipasi pikiran dan perasaan orang lain).
Penyimak terus dipengaruhi oleh berbagai dimensi waktu. Waktu yang dihabiskan dalam proses yang lama itu sendiri dapat memengaruhi efisiensi seseorang menyimak. Misalnya, rusaknya penyimakan seseorang dapat mengurangi ketajaman penyimakan, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar menyimak adalah faktor yang signifikan.
Waktu juga menjadi faktor dalam proses menyimak saat berkomunikasi, seperti dapat memengaruhi perhatian seseorang serta dapat memengaruhi motivasi seseorang untuk menyimak. Jika penyimak bergegas atau tidak mampu mencurahkan banyak waktu dalam berkomunikasi, maka proses menyimak menjadi pendek. Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengalami konferensi dengan penasihat sibuk, orang yang berjualan, atau eksekutif yang benar-benar tidak memiliki waktu untuk menyimak, sehingga komunikasi nonverbal dipilih untuk mengakhiri pembicaraan. Hal ini dapat menjadi pengalaman yang akan membuat kecewa bagi pembicara maupun penyimak, jika memang tidak ada cukup waktu untuk menyimak. Waktu tentu memainkan peran penting dalam proses komunikasi.

Usia
Seorang penyimak yang tumbuh dengan baik serta mendapatkan pengalaman dan kepekaan yang lebih besar, akan dapat menyimak secara efektif.


Jenis Kelamin
Karena struktur otak laki-laki dan perempuan berbeda, para peneliti mengemukakan bahwa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam merespon apa yang disimaknya.

Konsep Diri
Pengaruh lain yang signifikan pada proses komunikasi adalah konsep diri penyimak. Jika kita diberitahu cukup sering bahwa kita bukan penyimak yang baik, maka kita akan mulai percaya bahwa kita adalah penyimak yang buruk.

Spesialisasi Belahan Otak
Setiap individu pasti berbeda dalam proses menyimaknya tergantung pada orientasi penggunaan otak kanan atau kirinya. Seperti yang telah kita ketahui, ada perbedaan antara kerja otak tergantung pada datangnya informasi yang diterima, jenis informasi yang diterima, kode komunikasi yang digunakan, dan fungsi yang digunakan. Sebagai tambahan, juga terdapat beberapa bukti bahwa memori (ingatan) mungkin berhubungan dengan perbedaan dari kinerja otak.

Keadaan Fisik dan Psikologi
                Keadaan fisik dan psikologi seseorang seiring waktu akan memberikan pengaruh terhadap kebiasaan dalam menyimak. Jika seseorang sedang tidak sehat atau sedang mengkhawatirkan sesuatu, maka ia akan sulit untuk berkonsentrasi serta memahami pesan dalam suatu komunikasi.

Menurut Tarigan (2008:106-122), faktor-faktor yang mempengaruhi proses menyimak adalah: faktor fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin, lingkungan dan peranan dalam masyarakat.


Faktor fisik
Kesehatan serta kesejahteraan fisik merupakan suatu modal penting yang turut menentukan bagi setiap pemyimak. Lingkungan fisik juga mungkin turut bertanggung jawab atas ketidakefektifan menyimak seseorang. Ruangan mungkin sekali terlalu panas atau dingin, suara yang bising yang mengganggu dari luar, orang lain yang banya bergerak atau berjalan hilir mudik akan mengganngu orang yang sedang menyimak.

Faktor psikologis
Berikut adalah faktor psikologis yang negatif
·         Prasangka dan kurangnya simpati terhadap pembicara karena berbagai alasan
·         Keegosentrisan dan asyiknya terhadap minat pribadi serta masalah pribadi
·         Kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas
·         Kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiada perhatian pada pokok pembicaraan
·         Sikap yang tidak layak terhadap sekolah, guru, pokok pembicaraan atau pembicara

Sebaliknya, faktor psikologis yang positif akan menguntungkan. Jika kegiatan menyimak dilakukan dengan penuh perhatian dan denguntungkan. Jika kegiatan menyimak dilakukan dengan penuh perhatian dan dengan antusiasme yang tinggi maka faktor psikologis yang positif ini akan memberi pengaruh yang baik.

Faktor pengalaman
Latar belakang pengalaman merupakan faktor yang penting dalam kegiatan menyimak. Kurangnya atau tiada minatnya seseorang terhadap apa yang dibicarakan oleh pembicara dikarenakan karena tidak adanya atau kurangnya pengalaman dalam bidang yang akan disimak itu.


Faktor sikap
Setiap orang akan lebih cenderung menyimak secara seksama pada topic-topik atau pokok-pokok pembicaraan yang dia setujui daripada pada pokok-pokok pembicaraan yang dia kurang atau tidak dia setujui.

Faktor motivasi
Motivasi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan seseorang. Jika seseorang memiliki motivasi yang kuat untuk mengerjakan sesuatu, maka orang tersebut diharapkan akan berhasil mencapai tujuannya. Begitu juga dalam hal menyimak. Jika seseorang memiliki motivasi dalam menyimak apa yang dibicarakan oleh pembicara, maka dia akan mendapat banyak ilmu atau informasi yang disampaikan oleh pembicara.

Faktor jenis kelamin
Dari beberapa penelitian, beberapa pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda. Silverman (1970), memaparkan fakta bahwa gaya menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras kepala, netral, intrsusif, mandiri dan dapat menguasai emosi. Sedangkan penyimak wanita cenderung lebih subjektif, pasif, ramah, difusif, sensitive, mudah dipengaruhi, mengalah, reseptif, bergantung dan emosional.

Faktor lingkungan
Lingkungan berpengaruh besar terhadap keberhasilan menyimak, baik yang menyangkut lingkungan fisik seperti ruangan kelas, maupun yang berkaitan dengan suasana sosial kelas.

Faktor peranan dalam masyarakat
Kemauan menyimak dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat. Peranan dalam masyarakat menjadi faktor penting bagi peningkatan keterampilan menyimak. Jika banyak menyimak maka akan banyak menyerap pengetahuan pula. Jika kita berperan dalam masyarakat maka kita mendorong kita untuk menyimak dengan optimal dan efektif.

Tuesday, 7 April 2015

Perkembangan Kognitif


Menurut Piaget (1954), ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu tahap sensorimotor, tahap praoperasi, tahap operasi konkret, dan tahap operasi formal (Santrock, 2011, hal 28).
·      Tahap Sensorimotor. Tahap ini berlangsung mulai dari lahir hingga usia sekitar 2 tahun. Dalam tahap ini, bayi membangun pemahaman mengenai dunianya dengan mengordinasikan pengalaman-pengalaman sensoris (melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik dan motorik.
·     Tahap Praoperasi. Tahap ini berlangsung kurang lebih dari usia 2 – 7 tahun. Dalam tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar, melampaui hubungan sederhana antara informasi sensoris dan tindakan fisik. Menurut Piaget, anak-anak prasekolah ini belum mampu melakukan tindakan operasi, yaitu tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental apa yang sebelumnya dilakukan secara fisik.
·      Tahap Operasi Konkret. Tahap ini berlangsung kurang lebih dari usia 7 – 11 tahun. Dalam tahap ini, anak-anak dapat melakukan operasi yang melibatkan objek-objek dan juga dapat bernalar secara logis, sejauh hal itu diterapkan dengan contoh-contoh yang spesifik atau konkret. Pemikir operasi konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan aljabar, karena terlalu abstrak untuk dipikirkan pada tahap perkembangan ini.
·      Tahap Operasi Formal. Tahap ini berlangsung antara usia 11 – 15 tahun dan terus berlangsung hingga masa dewasa. Ini adalah tahapan terakhir menurut Piaget. Dalam tahap ini, individu melampaui pengalaman-pengalaman konkret dan mampu berpikir secara abstrak dan lebih logis. Dalam aspek memecahkan masalah, anak-anak pada tahap ini dapat bekerja secara lebih sistematis dengan mengembangkan hipotesis mengenai mengapa sesuatu terjadi seperti itu kemudian menguji hipotesis tersebut.


Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran di Sekolah Dasar



Hal pertama yang harus diperhatikan oleh guru adalah jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswa karena menurut Gardner, ada delapan jenis kecerdasan yang bisa dimiliki oleh anak yaitu: kecerdasan bahasa, matematika-logis, spasial, kinestetik, musikal, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis. Dalam hal ini, guru harus mampu mengidentifikasi jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswanya sehingga semua siswa dapat menonjolkan kecerdasannya masing-masing dan tidak ada lagi siswa yang dianggap tidak berprestasi karena sebenarnya semua anak cerdas hanya saja jenisnya bermacam-macam dan tugas guru untuk membantu siswa menemukan dan mengembangkan kecerdasannya dengan cara masing-masing.
Setelah guru mengetahui berbagai jenis kecerdasan yang dimiliki oleh para siswanya, guru kemudian merancang dan merencanakan metode mengajar yang bisa mencakup semua jenis kecerdasan. Guru bisa mengkombinasikan aktivitas mengajar yang melibatkan siswa dengan berbagai macam jenis kecerdasan. Misalnya dalam mengajarkan matematika, selain fokus pada siswa dengan kecerdasan matematika-logis, guru juga bisa mengkombinasikannya dengan musik dan nyanyian/ lagu yang mengakomodir siswa dengan kecerdasan musikal dan juga bisa mengkombinasikannya dengan gambar yang sesuai dengan pelajaran matematikanya sehingga siswa dengan kecerdasan spasial bisa menikmati pelajarannya.
Hal selanjutnya adalah guru harus mengetahui teori perkembangan anak. Misalnya perkembangan kognitif yang dikenalkan oleh Piaget. Menurut Piaget (Santrock:2012) ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu tahap sensorimotor, tahap praoprasi, tahap operasi konkret dan tahap operasi formal. Pada usia anak SD berada dalam tahap operasi konkret dimana anak pada tahap ini belajar dari hal-hal yang konkret atau nyata. Anak pada tahap ini belajar dengan melihat, meraba, mendengar, membaui dan mengotak-ngatik. Jika guru memahami tahapan ini, maka dalam proses belajar mengajarnya guru akan mempertimbangkan metode yang tepat dalam mengajar. Misalnya dalam mengajarkan berbagai macam bentuk daun, guru akan membaca berbagai jenis daun atau meminta siswa untuk mencari dan membawa berbagai jenis daun yang ada di sekitar lingkungannya untuk kemudian dibawa ke dalam kelas dan dipelajari bersama-sama. Hal ini akan memudahkan siswa untuk memahami dibandingkan guru hanya bercerita atau mendeskripsikannya secara lisan saja.
Guru juga harus memperhatikan dan mempelajari teori perkembangan anak lainnya seperti perkembangan teori kognitif sosiobudaya dari Vygotsky yang menegaskan pentingnya interaksi sosial dan budaya terhadap perkembangan kognitif.
Dengan mempelajari berbagai macam teori perkembangan, guru akan mampu menerapkan metode mengajar yang sesuai dengan siswanya. Sebagai contoh, ketika mengajar di daerah pegunungan, pesisir, pedesaan, perkotaan maka guru akan lebih berfokus pada materi pelajaran yang sesuai dengan lingkungan anak-anak didiknya sehingga apa yang dijarkannya sesuai dengan apa yang dihadapi anak sehari-hari.
Setelah paham akan teori perkembangan anak dan teori multiple intelligences atau kecerdasan majemuk, guru juga harus paham akan 3 jenis gaya belajar siswa. Ada 3 gaya belajar yaitu: visual, auditorial dan kinestetik. Siswa dengan gaya belajar visual akan belalajar dengan cara melihat, siswa dengan gaya auditorial akan belajar dengan cara mendengar dan siswa dengan gaya belajar kinestetik akan belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh.
DePorter (2000) dalam bukunya, Quantum Teaching memberikan tips bagaimana mengajar siswa dengan 3 gaya belajar yang berbeda. Untuk siswa dengan gaya belajar visual, guru  isa mendorong siswa untuk membuat banyak symbol dan gambar dalam catatan mereka. Bagi pelajar dengan gaya auditorial, guru bisa membantu mereka untuk berbicara dengan diri mereka sendiri untuk memahami pelajarannya dan memperbolehkan mereka untuk berbicara dengan suara perlahan pada diri mereka sendiri sambil bekerja bukannya memarahi mereka jika mereka menimbulkan keributan kecil karena mengulang-ngulang pelajarannya sambil berguman. Bagi siswa dengan gaya belajar kinestetik yang tidak bisa duduk diam berlama-lama, guru bisa membantunya dengan tidak melarang mereka untuk belajar sambil duduk di lantai atau menyebarkan pekerjaannya di sekeliling mereka. Setelah mengetahui gaya belajar masing-masing siswa, guru harus mendorong siswa untuk menerapkan semua metode ini dalam belajar. Guru bisa mengkombinasikan metode mengajarnya sehingga mencakup ketiga gaya belajar siswa dan tidak ada siswa yang merasa gaya belajarnya tidak diperhatikan oleh guru. Guru juga bisa memberitahu orangtua siswa perihal gaya belajardari masing-masing siswa sehingga di rumah para orangtua bisa mendukung anak mereka dengan gaya belajarnya masing-masing.

Mendengar, Mendengarkan dan Menyimak



Menurut Moeliono (Saddhono & Slamet: 2014), mendengar diartikan sebagai menangkap bunyi (suara) dengan telinga. Mendengarkan berarti menangkap bunyi/ suara dengan sungguh-sungguh. Sedangkan menyimak adalah memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.
Kegiatan mendengar mempunyai pengertian menangkap suara atau bunyi dengan telinga. Peristiwa mendengar terlaksana secara kebetulan dan tidak direncanakan sehingga makna yang didengar tidak terlalu diperhatikan.
Kegiatan mendengarkan lebih tinggi tarafnya dibandingkan peristiwa mendengar. Jika dalam mendengar belum ada faktor kesengajaan, dalam peristiwa mendengarkan mulai ada faktor kesengajaan. Dalam mendengarkan, faktor pemahaman bisa jadi ada tapi bisa juga tidak karena hal ini belum menjadi suatu tujuan.
Dalam persitiwa menyimak, ada faktor kesengajaan yang tampak den jelas. Dalam menyimak, pemahaman juga mutlak diperlukan dan ada faktor penilaian yang bisa memberikan feedback kepada penutur. Menyimak memerlukan keterlibatan aktif dari pendengar. Pendengar menyusun ulang pesan yang disampaikan oleh pembicara. Dalam menyusun ulang pesan, seorang  pendengar harus secara aktif memberikan kontribusi pengetahuannya, baik pengetahuan yang bersumber dari kebahasaannya maupun dari sumber di luar pengetahuan kebahasaannya. Sehubungan dengan ini Subyakto (Saddhono & Slamet: 2014) menyatakan bahwa di dalam menyimak, seseorang tidak hanya berperan secara pasif tetapi juga berperan aktif.
Menurut Wolvin & Coakley (1985:55), mendengarkan adalah komponen integral (yang tak terpisahkan) dari proses menyimak.