Friday, 25 July 2014

Dibalik Himah

Sepanjang usia dewasa saya untuk berhak mengikuti pemilu baik itu pileg, pilpres, pilgub atau pilwakot baru pilpres sekarang yang kalau boleh saya bilang paling gila. Bagaimana tidak bisa disebut gila, dua pasangan capres dan cawapres kali ini terlihat seperti dua kubu yang sangat berlawanan. Di satu pihak kubu yang didukung kalangan agamis sedangkan kubu yang lain didukung sekularis. Dan baru di pilpres ini pendukung kedua kubu saling serang, saling membuka aib, saling menyerang dengan 'black campaign'. Banyak kalangan yang menyebut peperangan pilpres ini seperti perang badar, perang yang hak melawan kebatilan.

Jujur, saya pribadi mendukung pasangan capres dan cawapres yang didukung oleh kebanyakan kaum agamis. Memang saya tidak mengetahui kadar keislaman dari keempat orang ini tapi menurut pandangan mata saya sebagai manusia saya tentu mendukung pasangan yang didukung oleh kalangan ulama. Saya yakin mereka (ulama) dengan ilmu yang dimiliki sudah melakukan ijtihad sehingga mereka memutuskan salah satu capres. Saya tidak mengatakan bahwa keislaman capres yang satu lebih baik dari yang lainnya, karena yang bisa menilai itu hanyalah Tuhan. Hanya saja hati nurani saya menuntun saya untuk mendukung capres yang memang didukung oleh kebanyakan ulama yang menurut pandangan saya baik.

Hari pencoblosan pun tiba, dengan hati mantap, Insya Allah saya coblos capres pilihan saya. Lahaula wala quwwata illa billah... saya telah berikhtiar dengan memilih capres yang sesuai dengan hati nurani saya, hasilnya saya serahkan semuanya kepada pemilik jiwa, Allah SWT. 

Saya pun menunggu hasilnya dengan berdebar-debar. Hati saya diliputi ketakutan jika kubu capres yang didukung kaum sekuler, feminis, syiah, JIL, kapitalis, dan para preman itu menang. Dan benar saja ketika KPU mengumumkan kemenangan capres bukan pilihan saya dengan serta merta bayangan ketakutan akan masa depan bangsa ini berlarian dengan liar dalam kepala saya ini. Bagaimana nasib bangsa ini jika dipimpin oleh orang yang tidak tegas (boneka Amerika), bagaimana nasib bangsa ini ketika Amerika semakin menancapkan taring dan kukunya. Bagaimana nasib bangsa ini jika aliran sesat dibiarkan bebas berkembang. Bagaimana nasib bangsa ini jika pemimpinnya melegalkan gay, lesbi, dan prostitusi. Bagaimana nasib bangsa ini jika pemimpinnya anti Islam dan tidak menyetujui syariat Islam.

Sudahlah, inilah takdir Allah SWT untuk bangsa ini. Tidak berhak jika kita berburuk sangka kepada-Nya. Berbaik sangka saja terhadap Allah. Semua ini pasti ada hikmahnya. Ada dua kemungkinan Allah menetapkan capres itu menjadi presiden kita. Kemungkinan pertama adalah memang capres itu baik untuk kita. Kelak jika dia memimpin bangsa ini mungkin akan menjadikan negara ini lebih baik dari sebelumnya. Kemungkinan kedua adalah Allah ingin memperlihatkan pribadi seperti yang sebenarnya dari orang yang akan menjadi presiden kita kelak dan orang-orang macam apa yang menjadi pendukungnya. Allah ingin memperlihatkan tabiat yang sebenarnya dari capres dan kubu pendukungnya itu kepada kita baik yang tidak mendukungnya maupun kepada pendukungnya yang cinta mati yang sepertinya tidak melihat cela sedikitpun darinya.

Allah telah menuliskan siapa yang akan menjadi presiden ke-7 kita di lauh mahfudz nya. Dan pilihan kita akan Allah minta pertanggungjawabannya kelak di yaumul akhir. Atas dasar apakah kita memilihnya dan mengapa kita memilihnya. Dan saya hanya bisa berdo'a, semoga Allah selalu melindungi bangsa ini. Wallahu'alam...


edisi 'rungsing' nya hati...gak bisa itikaf di 10 malam terakhir Ramadhan plus dapat 'halangan' di 5 hari terakhir Ramadhan..semoga bisa dipertemukan kembali di Ramadhan tahun depan dengan didampingi oleh pasangan hidup...Aamiiin...

Thursday, 24 July 2014

Ahli Ibadah

Ahli ibadah itu ada tiga golongan dan tiap golongan ada tiga indikator.
Golongan pertama adalah orang yang selalu menghambakan dirinya kepada Allah di atas jalan takut kepada-Nya (al-khauf). Indikator dari golongan ahli ibada ini adalah:
1. Merasa rendah dan hina di hadapan Allah SWT.
2. Menganggap bahwa kebaikan yang dilakukannya baru sedikit.
3. Menganggap banyak kesalahan yang telah dilakukannya.

Golongan kedua adalah orang yang menghambakan dirinya kepada Allah di atas jalan harap (al-roja). Indikatornya adalah sebagai berikut:
1. Menjadi qudwah atau teladan bagi manusia lain dalam setiap keadaan.
2. Menjadi orang yang paling pemurah sehubungan dengan hartan yang dimilikinya di dunia.
3. Menjadi orang yang paling berhusnudzon pada Allah dalam seluruh penciptaan-Nya.

Golongan ketiga adalah orang yang menghambakan dirinya kepada Allah di jalan cinta (al-hubb). Indikatornya adalah:
1. Memberikan segala yang dicintainya asalkan diridhoi oleh Rabbnya.
2. Melakukan yang tidak disukainya asalkan diridhoi Rabbnya.
3. Dalam keadaan apapun selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya

(Abu Bakar As-Shiddiq ra)

Semoga kita termasuk ke dalam ketiga golongan ahli ibadah tersebut. Aamiiiin...wallahu'alam...

Tidak Percaya Diri?... Percaya Allah Keharusan



Ada ketidakpercayaan diri ketika .. hmmm let’s say ketika di usia lebih dari 30 ini belum ada satupun lamaran dari seorang laki-laki yang baik. Honestly, belum pernah ada satu pun ‘proses’ yang saya jalani untuk menuju pernikahan sejak usia saya pantas untuk dilamar. Pun, tidak ada satu pun lelaki yang pernah mengajak saya pacaran, istilah dulu pas saya remaja sih ‘nembak’. Jadi kalau teman-teman saya sejak SMP sudah mulai berpacaran, (Alhamdulillah-dalam hal ini saya harus mengucap syukur karena tidak merendahkan diri untuk berpacaran tanpa pernikahan) tidak satu kali pun saya pernah berpacaran. Gimana mau pacaran, tidak ada seorang pun lelaki yang ‘nembak’ saya. Berlanjut ke usia SMA dan kuliah, hasilnya tetap masih nol. Saya, masih tetap ‘terpajang’ manis di dalam etalase tanpa ada seorang pun yang berniat membeli atau bahkan melihat-lihat (emang barang?..yah kalau mau diistilahkan dengan sebuah barang).
Setelah mengenal Islam dengan lebih dalam, saya mengetahui bahwa pacaran itu diharamkan dan tidak sesuai dengan syariat. Oh, saya bersyukur karena saya tidak pernah sekalipun berpacaran walaupun saat itu saya belum tahu bahwa pacaran itu tidak diperbolehkan dalam Islam. Setelah saya tahu bahwa ada cara yang sesuai syariat untuk menuju pernikahan, yaitu ta’aruf.  Teman-teman kuliah saya satu persatu bertaa’aruf dan akhirnya menikah. Alhamdulillah hampir semua teman kuliah saya telah menikah, dan semua teman baik saya (ceritanya kita punya geng) telah menikah tersisa saya yang masih single fighter. Pun, setelah saya mengenal istilah ta’aruf ini, tidak ada satupun ikhwan yang pernah mengajukan lamaran pernikahan. Ada beberapa ikhwan yang pernah bertukar biodata, dalam rangka proses taaruf, tapi setelah pertukaran data itu tak seorang pun dari mereka yang melanjutkan proses tersebut.
Nah kedua ‘masalah’ ini – tidak pernah ada yang ‘nembak’ dan tidak pernah ada yang melamar tentu saja merontokkan rasa kepercayaan diri saya sebagai manusia. Bagaimana tidak, jika saya mempunyai pikiran jika saya ‘tidak diinginkan). Wuih bahasanya ngeri banget kan. Menurut saya sih wajar sebagai manusia jika punya pikiran seperti itu. The first impression itu kan dari fisik. Sampai-sampai saya punya pikiran kalau saya itu sangat tidak menarik dari segi fisik, emang sih berat badan saya tidak ideal, kalau masyarakat kebanyakan sih bilang istilahnya gendut, hehehehe. Wajah saya pun tidak memancarkan kecantikan yang luar biasa, tapi kata ibu saya sih muka saya lumayan cantik (lagian mana ada seorang ibu yang bilang anaknya jelek, hihihi). Kemungkinan nih dua kombinasi ini tidak mengesankan untuk lawan jenis. Mungkin kelak yang menjadi pasangan saya musti mempunyai hati yang benar-benar tulus untuk bisa menerima saya sebagaimana saya adanya. Dan lelaki tulus itu jarang banget ada di muka bumi ini.
Pride, adalah ‘benteng’ yang mungkin saya ciptakan untuk menutup rasa ‘ketidakpercayaan diri’ saya. Saya tidak suka orang lain melihat kekurangan saya yaitu ketidakpercayaan diri saya dalam hal relationship between man and woman. Untuk menutupi kekurangan tersebut saya tutup dengan mengeluarkan semua kemampuan saya yang tidak berhubungan dengan man and woman relationship. Misalnya, dalam dunia kerja saya mempunyai posisi dimana sayalah yang mengerjakan konsep dan co-workers saya yang laki-laki lah yang mengerjakan teknis dari konsep yang saya buat. Saya pun menganggap bahwa diri saya bisa mengerjakan apapun tanpa atau dengan sedikit bantuan dari laki-laki.
Saya berusaha membangun benteng yang tinggi sekali. Dalam hal ini saya sebenarnya sangat menyadari bahwa apa yang saya lakukan ini tidak benar. Coba bayangkan saja bagaimana ada ‘pangeran’ yang melamar jika benteng kastil nya dibuat sangat tinggi dengan pintu yang sama kokohnya. Yang ada para ‘pangeran’ itu akan memutar balik kuda nya dan mencari kastil lain dengan benteng yang tidak terlalu tinggi dan pintu yang terbuka lebar.
Itulah ‘pride’ saya yang mungkin menjadi ‘boomerang’ bagi saya. Bisa jadi keegoisan dan pride saya yang terlalu tinggi yang membuat saya ‘dijauhi’ dan tidak ada satupun yang berani mendekat. Ada seseorang yang pernah bilang kalau diibaratkan barang, saya itu barang kuno yang harganya terlalu mahal sehingga orang-orang gak berani beli.
Ah, tapi semuanya saya kembalikan lagi kepada dzat penguasa, pemilik jiwa dan raga saya. Saya serahkan semuanya sama Allah saja. Saya yakinkan diri saja bahwa jodoh itu sudah Allah sediakan untuk saya. Tinggal ikhtiar yang harus saya usahakan lebih, salah satunya dengan memperbaiki kualitas pribadi saya. Mungkin sang ‘pangeran’ itu sedang menunggu di luar kastil, menunggu saya membukakan pintu yang kokoh itu.


Sedang mencari kunci pintu kastil itu agar bisa dibuka, dicari-cari belum ketemu…hihihi

Tuesday, 15 July 2014

Sepi

Bulan ramadhan taun ini terasa sepi banget...gimana gak sepi di kosan sekarang tinggal sendirian (banyak sih penghuni kosan yang lain tapi yang bener-bener deket dan kenal udah pada pindah trus pada nikah). Dulu pas masih ada temen-temen, hampir tiap hari kita buka puasa bareng di kamar saya, kalau sekarang bener-bener saya sendirian kalo buka puasa. Tapi gak apa-apa kok, hidup kan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan dan inginkan. Tapi terkadang jalan hidup yang sudah Tuhan tentukan untuk kita itu adalah yang terbaik buat kita (itupun kalau kita do'a nya minta yang terbaik).
Terkadang kita gak sadar dengan hal-hal baik yang sudah Allah berikan sama kita. Kita nyadarnya, kita merasa dapet yang baik kalau emang hal tersebut sesuai dengan keinginan kita dan tampak indah dalam pandangan mata kita. Padahal belum tentu loh apa yang kita anggap baik itu baik juga menurut Allah. Bisa jadi buruk menurut kita tapi baik menurut Allah dan baik menurut kita bisa jadi buruk menurut Allah. Kadang kalau kita ditimpa musibah atau terasa beraaaat banget dalam menjalani hidup ini, kita suka su'udzon atau berprasangka buruk sama Allah. Kita sukanya ngedumuel, kenapa sih Allah gak sayang ama aku, kenapa sih Allah ngasih cobaannya berat banget, kenapa sih Allah tuh baiknya ama orang lain aja, kenapa sih Allah ngasih banyak banget kemudahan dan hal-hal yang enak sama temen kita.
Nah, disinilah kita hobi banget sih su'udzon sama Allah. Kita gak sadar bahwa banyak banget nikmat yang udah Allah berikan sama kita. Coba deh ingat-ingat lagi..... Kita dikasih nikmat sehat sama Allah. Nafas kita lancar gak usah pake bantu alat nafas. Kita bisa BAB dengan lancar tiap pagi, kita bisa buang angin dengan nikmat, kita bisa jalan-jalan pake kedua kaki ini. Bayangkan sodara-sodara kita di RS, ada yang buat nafas aja sulit ampe musti dibantu alat nafas, belum lagi yang susah BAB dan gak bisa buang angin yang sampe ngeluarin jutaan rupiah buat oprasi supaya bisa buang angin, atau yang lemah banget terbaring ampe kalo mau jalan musti pake kursi roda.
Ah, kalau kita mau bandingkan orang yang sakit dengan kita yang sehat mustinya kita bersyukur banget. Allah udah ngasih kenikmatan sehat sama kita tapi kadang kita kurang bersyukur sampe akhirnya Allah musti kasih tegoran dengan memberikan musibah sakit ama kita. Jangan sampe deh kita musti dikasih peringatan dulu baru bisa nyadar.
Nah balik lagi ke soal sepi sendirian seorang diri, mpe buka puasa pun sendirian tiap hari...sedih deh. Sedih yah boleh aja, wajar kali yah apalagi ni ramadhan pertama ditinggal temen-temen kosan. Tapi bukan berarti akhir segalanya keles...biasa aja lah. Nikmati aja kesendirian itu ga usah dilebay-lebay in. Sambil terus berdo'a semoga ramadhan taun depan kita gak sendirian lagi alias udah punya pendamping hidup (suami, maksudnya) hehehehe...Udah dulu ah sedih-sedihannya...


*di kantor juga sendirian...hiks hiks hiks...

Saturday, 28 June 2014

Kim Jong Kook's Quotes




"Hip hop isn't that hard, just imagine a doorway and go through it" (Running Man ep. 5)

"You shouldn't just shout that loud, you should focus more on running" (Running Man ep. 104)

"Ant was on the verge of grave" (Running Man ep. 129)

"There's nothing I can't do" (Running Man ep. 130)

"If you think that this is good for your health, you don't feel any pain at all" (Running Man Ep. 135)

"Let's just finish this quickly" (Running Man ep. 138)

"Each of us has a role" (Running Man ep.178)

"Health is the most important, thus we have a dish that is the most healthy" (Running Man ep. 180)

"We looked to health as the guiding factor in our decision" (Running Man ep.180)

"Things are not as easy as they looked. That's what the real life is like" (Running Man ep. 184)

" An appropriate amount of tension is good for your record" (Running Man ep. 190)

"I am the tiger" (Running Man ep. 195)

'We came all the way here. We have to win" (Running Man ep. 195)


to be continued ...

Wednesday, 18 June 2014

Halaqoh, Sudah Baikkah Diri Kita?



Apakah lamanya seseorang mengikuti pengajian (halaqoh) menjadi jaminan tingkat kesholehan yang tinggi? ... hmmm jawabannya mungkin bisa beragam, tapi kalau saya ditanya seperti itu maka jawaban saya adalah BELUM TENTU
Mungkin banyak diantara ‘kita’ yang sudah lama ataupun baru bergabung dengan halaqoh merasa diri lebih baik dari orang-orang yang tidak mengikuti halaqoh, baik dari segi keilmuan maupun amalan sehari-hari. Dengan bergabungnya diri pada sebuah lingkaran halaqoh, terkadang merasa diri sudah pandai dan sholeh/sholehah saja padahal bisa jadi keilmuan kita yang sudah berhalaqoh kalah dengan yang tidak atau belum berhalaqoh, ataupun amalan harian kita atau juga bahkan akhlak kita bisa jadi tidak lebih baik dari orang-orang yang belum berhalaqoh.
Jujur, terkadang sifat manusia saya yang negatif kerap muncul ke permukaan. Contohnya saja ketika saya berinteraksi dengan perempuan yang jilbabnya tidak sepanjang saya. Saya terkadang menganggap ‘remeh’ orang yang ada di hadapan saya itu. Saya men’judge’ bahwa keilmuan, amalan, dan akhlak orang itu tidak lebih baik dari saya. Karena tampilan jilbabnya yang kurang panjang sehingga dengan seenaknya saya menilai tingkat ketakwaan orang tersebut. Padahal di hadapan Allah belum tentu saya lebih baik daripada dia. Bisa jadi karena kesombongan yang tidak saya sadari, derajat ketakwaan saya malah jauh lebih buruk dari pada orang yang saya nilai buruk di mata saya.
Sifat manusia yang bernama sombong itu seringkali dengan suksesnya menyelusup ke dalam sanubari orang-orang yang sudah lama mengikuti halaqoh. Jujur lagi dari pengalaman pribadi. Saya (mungkin bisa dianggap) sudah cukup lama berhalaqoh, dimulai dari tahun 2001 an, berarti kalau dihitung matematika, sudah 13 tahun saya berhalaqoh. Dengan (mungkin) cukup lamanya mengikuti halaqoh, ada kalanya saya memandang remeh orang-orang yang tidak mengikuti halaqoh. Saya menganggap keilmuan agama saya, amalan harian saya dan akhlak saya jauh lebih bagus dari orang-orang yang tidak atau belum berhalaqoh. Terkadang dalam obrolan pun sifat sombong yang ‘merasa paling tau’ kerap muncul dari obrolan yang keluar dari mulut saya. Saat itu saya tidak sadar bahwa kesombongan saya itu malah bisa menghapus semua amalan saya. Saya tidak sadar bahwa kesombongan saya itu malah menjadikan saya rendah. Saya tidak sadar bahwa kesombongan saya itu menutupi mata hati saya dari kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh orang di sekitar saya. Saya tidak sadar bahwa bisa jadi orang-orang yang saya rendahkan ternyata bernilai tinggi di mata Allah, bisa jadi akhlaknya jauh lebih bagus, amalannya jauh lebih banyak, bacaan Qur’annya lebih baik, hapalan Qur’an nya lebih banyak dan juga kelimuannya jauh lebih bermanfaat.
Akhirnya hanya memohon ampunan, beristigfar yang dapat dilakukan. Hanya do’a semoga dilindungi dari sifat sombong. Semoga apa yang saya tulis ini bisa menjadi pengingat selalu khususnya untuk diri saya untuk tidak menilai orang dari luarnya saja, istilah kerennya sih ‘Don’t judge a book from its cover’. Jangan pernah menilai orang lain dari tampilan luarnya saja. karena kita tidak pernah tahu kualitas diri maupun orang lain di hadapan Allah. Hanya Allah yang bisa menilai kedudukan seseorang di mata-Nya. Wallahu’alam …


Hasil obrolan bersama ‘my best-est friend ’, semoga bisa menjadi pengingat diri…

Tuesday, 17 June 2014

Merasa Paling Baik



Salah satu sifat manusia yang buruk adalah merasa diri paling baik atau paling sholeh. Saya yang baik sedangkan yang lain tidak lebih baik dari saya. Saya tidak salah sedangkan yang lain salah. Saya yang lebih hebat sedangkan yang lain biasa-biasa saja. Saya yang superior sedangkan yang lain inferior. Semua yang positif ada dalam diri saya sedangkan semua yang negatif ada di pihak lain. Begitulah terkadang sifat manusia yang ‘satu’ ini sering hadir dalam diri kita. astagfirulloh… selawasnya kita harus selalu beristigfar ketika sifat yang satu ini muncul.
Kemarin-kemarin dapat postingan cerita dari seorang teman. Isinya adalah pengalaman seseorang yang habis pulang itikaf di masjid. Saat itu dia pulang dengan menggunakan angkot. Dia bertanya-tanya dalam hati kok bulan Ramadhan ini masih aja sibuk cari uang bukannya getol ibadah apalagi di 10 hari terakhir. Kapan lagi coba mendapatkan pahala besar di bulan Ramadhan. Intinya dia merasa aneh dengan supir angkot yang cuman asyik mencari uang bukannya ibadah. Pada saat itu dia tersadar bahwa dia telah berlaku sombong dengan ibadahnya dan tersadar bahwa ibadahnya semalam suntuk bisa saja terhapus dengan kesombongannya. Dia tersadar bahwa bisa jadi supir angkot itu lebih mulia dari pada dirinya. Yah sifat manusia yang ‘merasa paling hebat’ telah hinggap pada dirinya. Tapi Alhamdulillah dia segera tersadar dengan kesalahannya dan bertaubat akan kesalahannya.
Cerita yang lain saya dapat dari seorang ustadzah ketika saya menghadiri majlis ilmunya. Dia bercerita bahwa ada dari salah satu jamaahnya yang selalu merasa sudah hebat dan sholehah. Satu jamaah itu mengatakan bahwa bacaan ngajinya sudah baik sehingga dia tidak perlu untuk belajar lagi, padahal kenyataan yang sebenarnya tidak demikian. Dia juga merasa bahwa pakaiannya sudah syar’i padahal pun kenyataannya tidak demikian. Dia berkata bahwa ilmu yang dimilikinya sudah cukup sehingga dia merasa ilmu-ilmu yang dia dapatkan di majlis tersebut sudah tidak diperlukan lagi.
Yah begitulah sifat manusia ‘merasa paling baik dan sholeh’. Sifat yang satu ini adalah sifat sombong di hadapan Alloh dan manusia. Dia merasa sudah baik dan hebat dalam urusan ibadah sehingga berhak untuk mendapatkan cap sholeh atau sholehah. Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang mempunyai penyakit dari sifat ‘Aku Yang Paling Hebat’ ini dan jika memang penyakit ini pernah hinggap pada diri kita semoga cepat dijauhkan dari penyakit ini. wallahu’alam…