بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Monday, 19 May 2014

Hidayah Itu Mahal

Betul memang jika ada yang bilang untuk mendapatkan hidayah itu sulit. Untuk mendapatkan hidayah kita harus terus menerus belajar dan juga tidak lupa yang paling penting adalah do’a. Tapi menurut saya yang paling sulit adalah mempertahankan hidayah yang sudah kita dapatkan. Bukan saja ilmu dan ketekunan yang musti dijaga tapi juga keikhlasan. Banyak cerita dari orang-orang di sekitar saya yang kehilangan nikmat dari hidayah. Contoh kecilnya adalah berubahnya penampilan.
Dulu ketika saya masih anak SMA, penampilan saya sangat ‘urakan’. Walaupun saya memakai jilbab, tapi penampilan saya sangat tidak terlihat feminine. Dulu jilbab yang saya kenakan walaupun masih tetap menutup dada tapi tidak serapih dan sepanjang para akhwat aktivis masjid sekolah saat itu. Kelakuan saya pun tidak jauh dengan ‘keurakan’ dari pakaian saya, ribut, seenaknya, galak, judes, mungkin beberapa ‘kekurangan’ yang saya saat itu. Sampai-sampai beberapa akhwat aktivis masjid yang berjilbab panjang dan rapih itu sering menegur saya karena gaya pakaian dan gaya kelakuan saya. Kesimpulan saya saat itu adalah bahwa saya bukan termasuk ke dalam golongan para ‘akhwaters’ itu. Dan memang saya tidak pernah menjadikan salah satu dari mereka menjadi teman dekat saya. Saat itu jiwa muda saya mengatakan bahwa saya adalah saya dan mereka adalah mereka, jadi mereka tidak berhak menyuruh saya untuk menjadi A atau menjadi B. Saya memilih untuk merasa nyaman dengan keadaan saya yang ‘free’, toh saya juga tidak bergaul dengan anak-anak yang tidak baik.
Saya juga ingat, saat itu ada seorang senior, yang juga seorang akhwat aktivis yang mengatakan bahwa gaya saya yang urakan tidak cocok menjadi seorang ketua dari sebuah eskul yang saya ikuti saat itu. Yang saya ingat komen dan pertanyaan senior saya itu ketika pemilihan ketua kurang lebih mengatakan ‘penampilan kamu memang selalu urakan yah?, apakah seorang dengan penampilan urakan seperti kamu cocok menjadi seorang pemimpin?’ komen dan pertanyaan yang cukup pedas kan. Dan jawaban saya saat itu memang mencerminkan gaya ‘urakan’ saya. Saat itu saya menjawab, ‘penampilan saya memang seperti ini. Jika memang tidak suka dengan seorang pemimpin berpenampilan urakan seperti saya ya sudah jangan dipilih’. Sebuah jawaban yang seenaknya bukan. Tapi saya tidak menyesal dengan jawaban itu, karena hal itu menunjukkan siapa saya yang sebenarnya saat itu. Seseorang yang tidak mau dintimidasi oleh pihak lain.
Sampai akhirnya tahun-tahun lewat, saya lulus SMA lalu kuliah di Universitas keguruan. Alhamdulillah hidayah itu menyapa saya. Saya dipertemukan dengan para akhwat senior yang sholehah. Dan salah satu akhwat senior yang sholehah itu menjadi murrobiah pertama saya. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan senior dan teman-teman yang sholehah. Kami dihimpun dalan satu lingkaran selama hampir 5 tahun sampai akhirnya murobiah saya itu lulus, menikah dan kembali ke kampung halamannya.
Pada saat saya kuliah saya bertemu dengan seorang senior saya saat SMA. Dulu semasa saya kelas 1 dan senior saya itu kelas 3. Saya merasa bahwa senior itu keren sekali. Dengan wajah dan parasnya yang cantik dan juga sikap femininenya, wah saya anggap senior saya itu kerena sekali dan pasti sholehah. Hanya saja saya sedikit kecewa ketika bertemu lagi dengan dia, ternyata penampilannya sudah berubah sama sekali. Jilbab panjangnya telah berubah menjadi sangat pendek sekali, sangat pendek sampai dililit ke leher dan tidak menjulur menutupi dada. Saat itu saya tersentak, tenyata menjaga hidayah itu sangat tidak mudah. Bukan berarti saya menjudge bahwa dia berubah menjadi buruk, hanya saja menurut saya penampilan seseorang dalam berpakaian memperlihatkan tingkat keimanan dan keilmuan dia. Benar sekali ketika saya anak SMA, tingkat keilmuan saya sangat kurang, saya belum mengetahui definisi yang sebenarnya dalam memakai jilbab dan batasan-batasan dalam berpakaian. Tapi hidayah akan didapat jika kita terus memperdalam ilmu kita. Pun hidayah akan bisa kita pertahankan jika kita terus menjaga ilmu yang sudah kita dapatkan dan terus menambah keilmuan kita.
Suatu hari juga saya bertemu dengan senior saya di SMA, yang pernah ‘ngatain’ saya seorang yang ‘urakan’. Ketika senior saya itu bertemu dengan saya di masjid tempat koordinasi para aktivis dakwah di suatu wilayah, kami bersalaman dan dia tampak ‘shock’ sekali melihat saya ada di masjid itu dalam barisan yang sama. Dan saya ingat sekali ucapan pertama ketika dia melihat dan bersalaman dengan saya adalah ‘Subhnalloh, teteh ga nyangka ketemu Mega di sini’. Ya, hidayah bisa menyapa siapapun tanpa terkecuali jika memang orang tersebut ingin mendapat hidayah dan memohon untuk mendapatkan hidayah. Pun hidayah itu akan hilang jika orang tersebut tidak ingin terus menggenggam hidayah yang sudah didapatkannya dan malah memilih untuk melepaskan hidayah itu.

Alhamdulillah, saya bersyukur pada Allah karena telah memberikan hidayah berjilbab yang rapih pada saya, dan saya berdo’a semoga Allah tetap menjaga hidayah itu tetap bersama saya sampai ajal menjemput dan hanya kain kafan yang akan menutup aurat saya kelak. Wallahu’alam …^_^…

No comments:

Post a Comment