بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Sunday, 3 July 2011

Kenapa Bercerai?...

Setelah dikejutkan oleh berita perceraian beberapa teman, saya jadi bertanya-tanya apa sih penyebab perceraian itu. Setelah Tanya-tanya beberapa orang teman, baca-baca artikel tentang perceraian dan pasang status di facebook tentang alasan perceraian ternyata alasan paling kuat itu adalah perselingkuhan. Lebih dahsyat lagi menurut sebuah media berita online, 70% perceraian dikarenakan perselingkuhan. Dari awal perselingkuhan itulah tercapai kata sudah tidak ada kecocokan diantara pasangan masing-masing. Memang klise terdengarnya, tapi begitulah alasan yang dikemukakan oleh kebanyakan pasangan yang bercerai.
Kenapa selingkuh?. Apa yang menjadi dasar seseorang untuk berselingkuh?. Sepertinya banyak sekali alasan untuk berselingkuh. Ini kisah yang terjadi karena pernikahan yang ‘dipaksakan’ atau kata lainnya dijodohkan oleh pihak lain, baik orangtua ataupun teman. Mempunyai prinsip menerimng a siapa saja yang dijodohkan dengannya, asalkan sholeh alias ‘anak masjid’, maka si perempuan pun menerima si lelaki yang ‘belum dicintai’ nya. Singkat kata menikahlah mereka, mempunyai anak, setelah hampir 10 tahun menikah si perempuan merasa masih belum mencintai sang suami. Sampai saat itu pun terjadi, datanglah seorang laki-laki muda penuh semangat, menjadi karyawan baru di tempat kerja si perempuan. Merasa lelaki muda itu lelaki yang sempurna di matanya dengan pendidikan yang bagus, wajah yang tampan dan semangat yang menggelora. Syetan pun menyelusup ke relung hatinya membisikan kat-kata manis untuk lebih mencintai si lelaki muda. Dengan kerling mata dan rayuan  manja khas seorang perempuan, runtuhlah pertahanan si lelaki muda itu sampai akhirnya cintapun bersambut. Bagaimanakah nasib si suami?. Dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lagi maka menuntut cerai lah si istri. Si suami mencoba untuk mempertahankan pernikahan yang sudah dibina selama 10 tahun itu. Berhasilkah?. Ternyata hati si istri sudah jadi milik si lelaki muda itu. Tak elak lagi terjadilah perceraian itu. Bahagiakan si perempuan itu dengan lelaki mudanya? Oh, ternyata tidak sama sekali. Si lelaki muda merasa bersalah telah menjadi orang ketiga, mengundurkan diri dari kantor, dan menikah dengan perempuan lain yang lebih muda. Wow, si perempuan itu telah menyia-nyiakan 10 tahun pernikahannya untuk sesuatu hal yang kosong. Itulah jika menurutkan hawa nafsu saja.
Kisah kedua adalah perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. Percintaan mereka telah dirajut sejak duduk di bangku sekolah. Kuliah di tempat yang sama dan mengambil jurusan yang sama. Hampir 8 tahun mereka merajut kisah kasih sebelum akhirnya mereka menikah di tahun ke 9 masa pacaran mereka. Mereka berbahagia dengan pernikahannya. Setahun kemudian buah hatipun hadir menyempurnakan kebahagian mereka. Setelah sang anak lahir, beberapa bulan kemudian mereka menemukan hal yang aneh pada anak mereka. Ternyata setelah didiagnosa anak mereka adalah termasuk ke dalam sedikit anak-anak yang menderita autism. Sejak saat itulah sang istri mencurahkan hampir seluruh perhatiannya untuk sang anak. Tanpa sadar tidak terlalu memperhatikan suaminya. Setelah 2 tahun berlalu, datanglah ‘hal’ itu. Karyawan magang yang cantik dan masih muda di kantor si suami telah mengambil hati sang suami. Bibit-bibit cinta terus dipupuk hingga berkembang dengan ‘indah’. Sekali lagi dengan alasan sudah tidak ada kecocokan si suami menuntut cerai istrinya. Lelaki itu dengan teganya meninggalkan istri dan anaknya yang sangat butuh perhatian dia.
Dari kedua kisah di atas, ternyata yang berselingkuh itu bukan hanya pihak suami saja. Istri pun ‘beremansipasi’ ikut-ikutan selingkuh. Dari kisah di atas, komunikasi adalah hal yang hilang diantara pasangan-pasangan tersebut. Bagaimana mungkin menikah selama 10 tahun  tapi tidak merasakan cinta sama sekali. Tidakkah mereka saling berkomunikasi tentang perasaan mereka masing-masing. Megapa si istri tidak berusaha untuk mencintai suaminya. Mengapa si suami tidak bisa membuat istrinnya mencintainya. Cinta seperti apa yang dituntut oleh si istri. Apakah cinta yang berdasarkan nafsu yang bisa disebut dengan ‘cinta’. Apakah mencintai karena Allah tidak cukup untuk mencintai suaminya. Dalam kisah keduapun mereka kehilangan komunikasi. Mengapa si istri bisa sampai mengabaikan suaminya sampai-sampai si suami mencari cinta di tempat lain. Kenapa si istri tidak mengkomunikasikan keadaan anak mereka dan bersama-sama mereka mencari cara terbaik untuk membesarkan anak mereka.
Nah ini adalah alasan yang dikemukakan oleh seorang teman kenapa perselingkuhan itu terjadi. Karena istri tidak mengizinkan suaminya untuk menikah lagi maka perselingkuhan terjadi.
Selain selingkuh, ada juga beberapa alasan untuk bercerai, yaitu kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT. Nah, untuk alasan ini sepertinya perceraian adalah hal yang terbaik. Apa yang diharapkan istri dari suami yang kasar. Lalu alasan yang lain  adalah alasan ekonomi. Karena suami tidak bisa menghidupi istri dengan layak, maka istripun menggugat cerai. Ukuran layak itu seperti apa?. Layak itu relative sekali. Jika gaya hidup istri yang ‘borju’, penghasilan suami yang sudah cukup pun tidak akan dirasa cukup.
Sepertinya harus diluruskan kembali niat untuk menikahnya. Apa yang akan dicapai oleh sebuah pernikahan. Bukankah ridho Allah semata yang dituju. Jika ridho Allah yang dituju kenapa masih saja mencintai seseorang yang tidak halal baginya. Maka jagalah pandangan, Rasululloh SAW bersabda “Jangan kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya), pandangan pertama untukmu, dan tidak untuk yang pandangan kedua.” ( H.R. Tirmidzi dan Abu Daud, Tirmidzi dan AlBani menilai hadits ini hasan.).
 “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi anak Adam mendapat bagian dari zina, tidak boleh tidak, zina kedua mata ialah memandang, zina lidah ialah perkataan, dan zina hati ialah keinginan dan syahwat, sedang faraj (kemaluan) saja yang menentukan benar ataau tidaknya dia berbuat zina.” (Muattafaqun `Alaih)
Untuk membentengi  diri kita dari kemaksiatan, maka berdo’alah seperti yang diajarkan oleh Rasululloh, ” Ya Allah, jadikanlah bagi kami dari rasa ketakutan kami terhadap-Mu sebagai dinding pemisah antara kami dengan kemaksiatan kepada-Mu.”
( H.R. At-Tirmidzi dan Al Bani menilai hadits ini hasan.)
Beliau juga berdo’a :“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari bahaya pendengaranku, penglihatanku, lidahku, hatiku dan maniku.”
(H.R. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Bani.)
Juga ingatlah akan firman Allah SWT, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. 24:30).
Wallahualam bishowab.

1 comment:

  1. Pernikahan bukan cuma bersatunya dua orang untuk membina sebuah keluarga. Tapi juga dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda, dengan pola pikir dan keinginan yang berbeda-beda. Pernikahan itu menyatukan dua orang sekaligus dua keluarga berbeda. Baiknya keduanya harus bisa masuk satu sama lain.

    Yang pasti ilmunya musti ada untuk bekal. Banyak yang taunya yang indah-indah, tapi banyak kemungkinan yang akan terjadi. Banyak banyak berdo’a sama Allah. Semoga Allah memberikan kemudahan untukmu yang akan segera melangkah ke gerbang pernikahan.

    Semoga Allaah memudahkan setapak demi setapak perjalanan di dalamnya. Bahagia. Selamanya sampai ke surga. Allaahumma Aamiin.

    ReplyDelete