بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Tuesday, 8 November 2011

Pantang Menyerah


Terkadang rasanya ingin menyerah saja ketika apa yang diharapkan dan dicita-citakan tak kunjung dicapai. Terkadang rasanya sangat melelahkan ketika berjuang tanpa tahu hasilnya atau kapan berhasilnya.
Ini adalah cerita dari seorang penyanyi sukses diawal dia merintis untuk menggapai cita-citanya. Ketika dia harus menjalani pelatihan dengan masa yang cukup panjang, yaitu sekitar 5 tahun sebelum dia memulai debutnya sebagai seorang penyanyi dari sebuah grup. Dengan panjangnya masa pelatihan tanpa tahu kapan dia akan memulai debutnya membuat dia patah semangat dan memutuskan untuk berhenti dan pulang kembali ke kampung halamannya untuk memulai hal yang baru. Sampai di kampung halamannya, dia menonton sebuah pertunjukkan music yang menampilkan rekan-rekannya semasa dia menjalani pelatihan.
Keluarganya turut serta menonton bersamanya. Tiba-tiba, ibunya yang duduk di sampingnya menangis dan menanyakan padanya kapan dia akan memulai debutnya. Melihat ibunya sedih dan menangis, semangat dia untuk menjadi penyanyi kembali berkobar. Dia ingat bagaimana berusahanya sang ibu dalam membantu dia menjadi penyanyi. Ibunya lah yang mengirimkan demo suaranya ke perusahaan dan ibunya lah yang selalu menyemangatinya dikala sang ayah tidak setuju dengan cita-citanya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali menjalani pelatihan dan berusaha lebih keras lagi.
Merenungi cerita si penyanyi itu, bisa diambil hikmah betapa keluarga, terutama ibu bisa menjadi pengobar semangat kita dalam menggapai cita-cita dan harapan kita. Terkadang rasa lelah, bosan, jenuh membuat kita putus asa dan ingin rasanya untuk menyerah saja. Apalagi kesuksesan yang diinginkan tidak kunjung tiba membuat rasa lelah bertambah-tambah dan ingin rasanya mundur saja, menyerah untuk meneruskan.
Do’a orangtua, terutama ibu adalah obat yang paling mujarab untuk rasa lelah kita. Do’a ibu lah yang akan mengantarkan kita pada kesukesesan kita. Maka bayangkanlah wajah ibu kita ketika rasa lelah itu menyergap, bayangkanlah wajah ayah kita ketika melihat anaknya gagal dalam berjuang menggapai asanya. Bayangkanlah wajah kedua orangua kita ketika melihat anaknya terpuruk dalam kubangan kegagalan.
Jika saja si penyanyi sukses itu menyerah untuk menjadi penyanyi dan tetap pada keputusannya untuk berhenti dan kembali ke kampung halamannya, mencari pekerjaan lain. Tentu saja dia akan sedih setiap melihat rekan-rekannya semasa pelatihan menjadi penyanyi terkenal sedangkan dia hanya bisa jadi penonton saja. Pasti penyesalan semumur hidup akan terus bersamanya.
Apakah kita puas hanya dengan menjadi penonton saja. Apakah kita siap untuk menyesal seumur hidup kita hanya karena kita kurang sabar dan giat dalam berusaha. Apakah kita puas hanya jadi penonton saja melihat orang lain sukses.
Memang Allah telah mencatatkan takdir kita tapi Allah Maha Melihat, Dia melihat kesungguhan kita dalam berusaha dan berjuang. Allah Maha Adil, tidak akan pernah menyia-nyiakan apa yang telah diikhtiarkan oleh hamba-Nya. Wallahualam …

Thanks Kim Jong Woon for your inspiring story.
Big thanks for my parents who always give me big support. 

No comments:

Post a Comment