بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Sunday, 15 January 2012

Ikhlas


“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid.’Allah berfirman: ‘Engkau dusta, engkau berperang supaya dikatakan ‘Dia adalah orang yang gagah berani.’ Dan begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepdanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. bertanya: ‘Apa yang kau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al Qur’an karena Mu.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta, engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, ‘Dia adalah orang yang berilmu.’ Dan engkau membaca Al Qur’an agar engkau dikatakan ‘Dia adalah qari (pandai membaca).’ Dan begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya (yang diadili) adalah orang-orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka diapun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu. ’Allah berfirman: ‘Engkau dusta, engkau melakukan hal itu agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah.’ ’ Dan begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.
(HR. Muslim, An Nasa’I, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Membaca hadits diatas yang berbicara tentang keikhlasan dalam beramal, bisa disimpulkan bahwa beramal sebesar apapun ketika diniatkan bukan karena Allah maka akan sia-sia belaka. Sebaliknya, ketika beramal walaupun sedikit dengan diniatkan karena Allah semata maka akan dicatat sebagai amal sholeh.
Ikhlas, mungkin adalah satu kata yang sangat mudah sekali diucapkan tapi mungkin sulit untuk dilaksanakan. Sebagai contoh adalah ketika kita beramal dalam dakwah. Dalam berdakwah, ada perasaan ketika dia menyampaikan sebuah ilmu, dia ingin agar jamaahnya mengaanggap dia sebagai orang yng berilmu dan pandai. Dia mengharapkan pujian yang datang dari jamaahnya (pendengarnya). Dalam hal ini dia tidak berdakwah demi mengharapkan penilaian dari Allah tapi dia mengharapkan pujian dan penilaian dari mata manusia lainnya. Dalam aktivitas dakwahnya dia ingin dianggap bahwa dia adalah orang yang paling eksis, yang paling sibuk dan yang paling penting. Di lain kesempatan ketika diberi kelapangan harta dan diberi kesempatan untuk menginfakkan hartanya, bukan karena Allah semata dia mengeluarkan hartanya. Dia ingin dianggap bahwa dia adalah oang yang paling pemurah, paling baik dan paling dermawan. Hanya pujian dari manusia yang dia harapkan. Dan ketika dia belajar, mencari ilmu, dia ingin dianggap dia adalah orang yang berilmu dan alim. Lagi-lagi pujian manusia yang dia harapkan. Sudah sangat jelas sekali balasan bagi orang yang beramal bukan karena Allah, balasannya adalah dilemparkan ke neraka dengan muka tertelungkup. Naudzubillah.
Semoga kita dihindarkan dari sifat haus pujian dari manusia. Semoga amal yang kita lakukan tiap detiknya memang hanya karena Allah semata. Wallahualam ….

1 comment: