بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Tuesday, 20 December 2011

Bodohnya Perokok


Topik rokok sepertinya tidak akan pernah habis untuk dibahas. Selalu saja ada yang pro dan yang kontra terhadap kehadiran rokok.
Saat ini, orang paling kaya di Indonesia adalah bos perusahaan rokok, pun menyusul terkaya di tempat kedua adalah juga dan lagi-lagi bos perusahaan rokok. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumsi rokok di Indonesia sangat tinggi. Pemerintah pun ikut diuntungkan dengan hal ini, tentu saja dengan penghasilan pajak rokok yang nilainya sangat tinggi.
Sebenarnya sudah sangat jelas sekali akan dampak negatif dari konsumsi rokok, baik untuk kesehatan maupun isi dompet. Dari segi kesehatan sudah sangat jelas sekali akan bahaya dari rokok, baik untuk perokok aktif maupun perokok pasif, bahkan lebih bahaya bagi perokok pasif. Begitupun dampak bagi isi dompet. Dengan pajak yang tinggi, tentu saja harga rokok pun tidak murah. Tapi mahalnya harga rokok tidak menyurutkan orang untuk terus membelinya, muda atau tua, miskin atau kaya.
Dengan mata kepala sendiri, saya melihat seorang pengamen yang (maaf) tunanetra, sehabis mengamen di dalam bis lalu dengan segera membeli sebatang rokok dengan uang hasil mengamennya tersebut. Dan yang lebih dahsyatnya, pernah ada berita yang menayangkan balita yang busung lapar, diperlihatkan bagaimana kurusnya dan menderitanya si anak karena busung lapar. Tapi yang sangat membuat miris melihatnya adalah, si ayah dengan nikmatnya mengisap sebatang rokok sementara dia tidak mampu membeli makanan buat sang anak. Terlihat begitu teganya si ayah, hanya untuk sebatang rokok dia mampu membeli tapi tidak untuk makanan sang anak.
Sungguh rokok telah melemahkan jiwa kemanusian. Apakah sebatang rokok lebih penting daripada makanan untuk anak. Apakah sebatang rokok mampu melemahkan rasa tanggung jawab ayah kepada anak.
Saya jadi bertanya-tanya, apa ada manfaat dari rokok?. Mungkin ada yang berpendapat bahwa pajak yang tinggi dari rokok bisa jadi devisa yang tinggi untuk Negara. Tapi apakah pendapatan yang merugikan banyak orang bisa disebut sebagai keberkahan. Sungguh lebih banyak mudharatnya dari rokok. Yang mendapatkan manfaat hanyalah segelintir orang. Uang mengalir terus ke kantong para pengusaha rokok, sedangkan rakyat kebanyakan harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli sebatang atau sebungkus rokok. Bahkan orang miskin sekalipun rela mengahabiskan uang mereka dengan membakar rokok dan menghancurkan jantung mereka. Sungguh ironis memang ketika orang-orang miskin itu rela memberikan uangnya untuk membelu rokok dan otomatis menambah pundi-pundi kekayaan para bos perusahaan rokok. Sungguh bodoh mereka. 

No comments:

Post a Comment