بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Thursday, 15 December 2011

Salah Masuk


Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2005. Salah satu teman kuliah akan melansungkan pernikahannya di kampung halamannya di antara perbatasan Sumedang dan Garut. Saya berangkat pagi-pagi sekitar jam 7. Saya dan teman-teman berkumpul di terminal Cicaheum Bandung. Saat itu saya dan teman-teman yang lain berpakaian selayaknya orang-orang yang pergi ke kondangan. Yang laki-laki memakai baju batik dan yang perempuan menggunakan kebaya modern. Tidak ada yang tahu lokasi pernikahan akan berlansung. Dengan modal secarik alamat yang tertera di kertas dan kemampuan untuk bertanya-tanya saya dan teman-teman pun berangkat dengan menaiki sebuah elf (minibus) dengan jurusan Bandung-Garut via Wado. Dengan berdesakan saya dan teman-teman naik elf tersebut. Baju yang rapi pun jadi terkoyak. Make-up pun luntur dengan keringat yang bercucuran.
Dengan terus bertanya pada sang supir, akhirnya saya dan teman-teman pun sampai ke tempat yang akan di tuju. Sebenarnya kami tidak lansung turun ke tempat yang dituju. Saya dan teman-teman harus naik lagi kendaraan untuk sampai ke rumah teman yang menikah. Kami pun naik lagi angkot. Di tengah perjalanan kami melihat janur kuning. Secara otomatis saya pun menyetop angkot tersebut. Turunlah kami dengan dandanan yang sudah setengah acak-acakan. Sesampai di depan rumah mempelai saya pun bertanya kepada hansip yang ada di situ.
“Pa, leres ieu bumi na Harni nu kuliah di UPI Bandung” (Pa, benar ini rumahnya Harni yang kuliah di UPI Bandung)
“Oh, leres neng” (Oh, betul neng)
Setelah mendapat kepastian dari hansip saya dan teman-teman dengan percaya dirinya masuk ke rumah mempelai. Di depan ada beberapa panitia yang dengan ramah menyambut saya.
“Rencangan ti Bandung?” (teman-teman dari Bandung)
“Muhun” (iya)
Setelah sampai pintu masuk, saya pun dibuat terheran-heran. Orang yang saya lihat tidak mirip dengan teman saya. Tapi saat itu saya berpikir biasanya perempuan yang didandani suka terlihat berbeda. Semakin mendekat saya pun semakin ragu. Wajah sang mempelai perempuan benar-benar berbeda dengan teman saya. Terlanjur naik ke panggung pelaminan, saya pun bersalaman dengan mempelai dan orangtuanya. Saya tersenyum, mempelai dan orangtuanya pun tersenyum. Dengan senyum yang dipaksakan dan keinginan untuk berlalu dari tempat itu secepatnya sepertinya dirasakan olah saya dan pastinya teman-teman yang lain juga.
Setelah kami keluar dari ruang pelaminan, para sesepuh di luar pun menawarkan saya untuk menikamti hidangan.
“sok geura aremam heula. Jauh pan ti Bandung” (silahkan cicipi hidangannya. Jauh dari Bandung kan)
Dengan menahan rasa malu, kami pun bergegas untuk keluar dari tempat itu. Dan salah seorang dari kami berkata “Muhun, hatur nuhun. Ieu salah tempat. Punten.” (iya, terimakasih. Maaf salah tujuan)
Sambil berlari saya dan teman-teman pun tertawa terbahak-bahak. Manahan malu. Dari tempat itu kami harus naik angkot kembali. Dan tempat yang dituju memang agak jauh dari tempat yang salah itu. Bersyukur amplop yang akan diberikan ke pengantin belum saya masukkan ke gentongnya.
Berdasarkan pengalaman malu yang saya dan teman-teman alami. Sebaiknya sebelum masuk ke gedung atau rumah pengantin pastikan kalau pengantin adalah benar-benar orang yang mengundang kita. Jangan terlalu percaya dengan hansip. Lihat nama pengantin yang biasanya tergantung di janur kuning. Dan yang lebih penting jangan masukkan amplop sebelum yakin benar pengantinnya. Masukkan amplop yang biasanya ada di samping pengantin atau di samping penerima tamu ketika kita akan pulang. 

No comments:

Post a Comment