بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Sunday, 25 December 2011

Yakinlah Akan Ketetapan Allah


Terinspirasi setelah membaca sebuah cerpen di sebuah media online yang mengisahkan cerita pilu yang dialami oleh seorang akhwat. Diceritakan, seorang akhwat muda, masih berusia 21 tahun, cantik, aktivis dan pandai pula. Dikala usianya masih 21 tahun, seorang ikhwan melamarnya. Ikhwan tersebut adalah kawannya sejak SMA, sama-sama aktif sebagai aktivis masjid sekolah, masuk universitas yang sama walaupun dengan jurusan yang berbeda tapi masih sama-sama sebagai aktivis masjid kampus. Singkat cerita, bimbanglah hati si akhwat hingga dengan segera dia berkonsultasi dengan guru ngajinya (murobbinya). Dikisahkan bahwa sang murobbi kurang menyetujui proses taaruf si akhwat dan ikhwan tersebut dan mengemukakan alasan bahwa si akhwat masih sangat muda untuk menikah, dakwah masih memerlukan tenaga dan pikirannya, dan dikhwatirkan jiga menikah kelak tidak bisa dengan optimal memberi kontribusi yang maksimal terhadap dakwah. Ketika si akhwat mengemukan bahwa dakwan akan terus dia lakukan setelah menikah, sang murobbi pun berargumen bahwa setelah menikah akan banyak sekali amanah yang dia pikul selain amanah sebag aktivis masjid dia pun memiliki amanah sebagai seorang istri. Sampai pada akhirnya proses taaruf akhwat dan ikhwan ini pun gagal. Tak lama kemudia datanglah sepucuk undangan pernikahan, ternyata undangan pernikahan dari ikhwan yang pernah melamarnya. Serasa disambar petir di siang bolong, begitu shocknya dia samapi tangispun tak terbendung lagi.
Lama setelah kejadian gagalnya proses taaruf di usia 21 tahun, sekarang usianya hampir menginjak 30 tahun. Penyesalan pun datang, dia berandai-andai jika saja dia menerima pinangan ikhwan tersebut tentu saja sekarang dia berbahagia karena telah memiliki suami dan anak-anak. Dia menyesal kenapa dulu dia mendengarkan nasehat dari murobbinya. Dia menyesal karena sekarang setelah berganti beberapa murobbi, dan murobbi yang dulu menasehatinya agar menolak lamaran ikhwan tersebut tidak bertanggung jawab atas ‘masih single’ nya dia sekarang. Dia menyesal mengapa tidak kepada Allah sajalah dia meminta keputusan, kenapa hanya kepada murobbinya saja dia percaya.
Di satu sisi memang akhwat tersebut benar karena dia menyadari kesalahannya dengan tidak berkonsultasi pada Allah. Tapi di sisi lain dia tidak menerima apa yang telah Allah kehendaki terhadap dirinya. Bukannya seharusnya si akhwat itu yakin, jika memang Allah berkehendak bahwa saat itu dia dan ikhwan tersebut berjodoh, maka apapun yang terjadi, bagaimana pun kerasnya sang murobbi menentang pernikahannya tetap saja dia akan menikah dengan si ikhwan. Dia lupa bahwa Allah berkehendak bahwa jodohnya tidak datang dikala usianya 21 tahun. Dia lupa bahwa Allah telah menetapkan waktu kapan dia akan menikah.
Allah lah yang mengetahui apa yang terbaik buat kita. Apa yang kita pikir yang terbaik buat diri kita belum tentu yang terbik di mata Allah. Tapi apa yang menurut Allah yang terbaik bagi kita maka pasti yang terbaik buat kita. hanya saja kita terlalu bodoh untuk menyadarinya. Wallahu’alam…

2 comments:

  1. assalamu'alaikum,.
    nice artikel,.
    salam ukhuwah,.^_^

    ReplyDelete