بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Monday, 29 December 2014

Problematika Guru di Indonesia

Kondisi guru di Indonesia saat ini tidak begitu baik. Menurut pemerhati pendidikan, Abduh Zen, dari Uji Kompetensi Awal (UKA) dan Uji Kompetensi Guru (UKG) menunjukkan bahwa hasilnya dibawah rata-rata sehingga dia menyebutkan bahwa kondisi guru di Indonesia memprihatinkan. (news.liputan6.com)
Menurut data Kemendiknas 2010 54% Guru di Indonesia Tidak Memiliki Kualifikasi yang Cukup untuk Mengajar. Secara kuantitas, jumlah guru di Indonesia cukup memadai. Namun secara distribusi dan mutu, pada umumnya masih rendah.  Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan ini cukup memprihatinkan, dengan prosentase lebih dari 50% di seluruh Indonesia.
Berdasarkan Teacher Emplyment & Development, World Bank 2007, 34% Sekolah di Indonesia Kekurangan Guru. Distribusi Guru tidak merata. 21% sekolah di perkotaan kekurangan Guru. 37% sekolah di pedesaan kekurangan Guru. 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan Guru dan 34% sekolah di Indonesia yang kekurangan Guru. Sementara di banyak daerah terutama perkotaan terjadi kelebihan Guru.
Menurut Analisis Data Guru 2009, Ditjen PMPTK 2009, sebaran indeks kualitas Guru di Indonesia setengah nilai maksimal indeks dimana nilai maksimal adalah 11.
(http://indonesiaberkibar.org/id/fakta-pendidikan)

Faktor – faktor yang mempengaruhi kondisi rendahnya kualitas guru.
·      Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh guru, Masih ada guru dengan latar belakang pendidikan SPG (setingkat SMA) dan enggan untuk meneruskan tingkat pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi karena alasan usia. (http://indonesiaberkibar.org/id/fakta-pendidikan)
·   Guru mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya atau disiplin ilmu yang dipelajarinya. (http://indonesiaberkibar.org/id/fakta-pendidikan)
·   Sikap guru yang tidak mau berkembang. Masih ada guru-guru yang merasa enggan untuk melakukan terobosan dalam aktivitas mengajarnya. Dengan alasan pengalaman berahun-tahun dalam mengajar, beberapa guru menolak inovasi terbaru untuk mengajar.
·      Keterampilan guru dalam bidang IT yang masih rendah. Masih ada beberapa guru yang tidak bisa menggunakan IT dalam aktivitas mengajarnya padahal di zaman sekarang ini guru dituntut untuk menguasai setidaknya dasar-dasar dari IT.
·         Penyebaran guru yang tidak merata di berbagai daerah sehingga penumpukkan jumlah guru dan kekurangan jumlah guru terjadi.
·      Akses informasi yang tidak berimbang antara guru di perkotaan dan di daerah. Guru yang berada di perkotaan dengan mudah mendapatkan berbagai macam pelatihan sedangkan guru yang berada di daerah, terutama daerah terpencil sulit untuk mendapatkan akses informasi dan sulit atau jaran mendapatkan pelatihan.

No comments:

Post a Comment