Al-Israa:36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful"



Wednesday, 29 May 2024

Berharap dan Meminta


Boleh berharap, tapi jangan berharap-harap. 
Berharap hanya pada Allah, karena berharap pada selain Allah hanya mendatangkan kekecewaan. 

“Berharaplah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan harapanmu sekalian.” (QS. Al Mukmin: 60)

"Allah SWT akan mengabulkan harapan bagi siapa saja yang berharap hanya kepada-Nya".(QS. Al Baqarah: 186)

Janji Allah itu pasti, dan janji Allah itu sangat jelas tersurat dalam Quran, kitab yang Allah jaga kebenaran dan keakuratannya, yang tidak ada satu makhluk pun yang mampu untuk merubah atau merevisinya. 

Jadi, bukan hanya boleh tapi kita harus berharap hanya pada Allah, dan tidak elok jika kita berharap-harap pada manusia karena bisa jadi manusia lain tidak sesuai dengan harapan kita, baik itu tindakan dan perilakunya. 

Mungkin pernah kita menggantungkan harapan pada manusia dan tak jarang kita mendapatkan kekecewaan. Kenapa kita tidak bisa berharap pada manusia? Lah, masa iya kita berharap pada makhluk yang sama lemahnya dengan kita. Apa yang bisa diharapkan dari makhluk yang sama lemahnya. 

Berharap boleh tapi harus masuk akal juga. Berharap dapat salah satu dari para ahjusi di dunia perdrakoran, ya itu namanya halusinasi. Berharap dapat suami sekaya Kim So Hyun, aktor Korea Selatan dengan bayaran termahal juga halu. Bagi sebagian orang, mendapatkan pasangan yang populer mungkin sesuatu yang mungkin terjadi, tapi bagi orang biasa yang berharap lebih itu laksana punguk merindukan bulan.

Lalu, harapan seperti apa dong yang bisa kita panjatkan? Bukankah menggantungkan harapan setinggi langit kepada Allah tidak ada yang tidak mungkin? Memang benar, saat kita menggantungkan harapan pada Allah, dijamin kita gak akan kecewa karena Allah Maha Mengetahui. Allah tahu yang terbaik untuk kita, bahkan Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari harapan kita. 

Boleh meminta, tapi jangan meminta-minta. Meminta itu sama Allah karena Allah sangat suka jika hamba-Nya sering meminta kepada-Nya. 
“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. ” (QS. Ghafir: 60)

“Wahai hamba-Ku, kalian semua kelaparan, kecuali orang yang aku berikan makan. Maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan. Wahai hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian, kecuali yang aku berikan pakaian, Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya akan aku berikan” (HR. Muslim no. 2577).

Allah itu suka jika manusia meminta pada-Nya, bahkan hal-hal yang remeh sekali pun. “Mintalah kepada Allah bahkan meminta tali sendal sekalipun” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2/42) 

Meminta hal yang remeh menandakan kita begitu membutuhkan Allah bahkan dalam hal yang paling remeh sekalipun. Meminta perkara yang remeh temeh itu semakin menunjukkan kefaqiran kita di hadapan Allah Ta’ala.

Bahkan para salaf terdahulu sering meminta hal remeh seperti garam untuk adonan tepungnya atau tali kekang untuk kudanya. Kita pun boleh meminta hal kecil seperti minta baju atau sepatu baru, minta susu untuk anak, minta didekatkan dengan tukang seblak yang racikannya enak, dan hal remeh lainnya. 

Tentu saja selain meminta hal kecil, kita pun harus sering meminta hal yang lebih penting dan besar seperti minta jodoh yang salih, atasan yang baik, rekan kerja yang satu frekuensi, sahabat yang setia, kemerdekaan Palestina, kehancuran Zionist, dan hal penting lainnya. Semakin banyak kita meminta pada Allah, semakin baik. 

Ketika Allah telah memberikan sesuatu kepada kita, maka syukuri apa yang Allah berikan. Jangan jadi baperan untuk apa yang masih jadi keinginan karena belum tentu keinginan kita itu baik untuk kita.

Katanya Taaruf, Tapi Malah Pacaran


Bagi sebagian dari kita, ada yang memilih untuk berkenalan sebelum pernikahan itu dengan berpacaran. Katanya sih kalau tidak pacaran dulu bagaimana kita bisa mengenal calon pasangan kita. Gak mungkin kan kita membeli kucing dalam karung. Bahkan di sebagian negara yang katanya disebut modern dan maju, "mencicipi" sebelum menikah adalah suatu kewajaran bahkan keharusan karena mereka beranggapan bahwa sebelum menikah harus cocok dari berbagai sudut terutama masalah yang paling pribadi. 

Namun, pacaran sebelum menikah tidak menjadi jaminan mengenal pasangan dengan baik karena sudah banyak kisah perbedaan sikap saat pacaran dan saat sudah sah menjadi pasangan. Terlebih lagi ketika sudah saling mencicipi ternyata tidak cocok. Sudah habislah kehormatan seorang wanita karena pasti yang dirugikan dalam kegiatan saling mencicipi ini adalah pihak wanita. Naudzubillah. 

Bersyukur masih banyak yang memilih jalan taaruf alih-alih pacaran sebelum menikah. Taaruf dijadikan fase untuk saling mengenal sebelum menikah. 

Taaruf adalah proses berkenalan antara laki-laki dan perempuan untuk menuju jenjang pernikahan. Tujuan taaruf adalah untuk bisa saling memahami dan mengerti kelebihan serta kekurangan calon pasangan, hingga keluarganya. Istilah taaruf  berasal dari bahasa Arab dengan asal kata ta'arafa-yata'arafu-ta'arufan yang artinya saling mengenal sebelum menuju jenjang pernikahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, taaruf merupakan kata yang diserap dari bahasa Arab "lita'arafu" yang bermakna saling mengenal.

Hanya saja banyak yang menyalahgunakan taaruf sebagai pacaran terselubung. Bilangnya taaruf tapi jauh dari kaidah taaruf. Saling menelepon atau berkirim chat hampir setiap hari. Pergi bersama ke suatu tempat tanpa didampingi mahram atau orang lain yang bertanggung jawab. Hingga berfoto bersama layaknya pasangan. 

Konsep taaruf yang sebenarnya bukanlah pacaran yang dibalut kata-kata islami. Taaruf harus sesuai dengan syariat bukan pacaran yang katanya islami. Mana ada istilah pacaran dalam islam. Banyak aturan yang harus dipatuhi dalam bertaaruf. Jangan sampai taaruf hanyalah sebuah kata, tapi pelaksanaan jauh dari esensi taaruf itu sendiri. 

Bagaimana cara bertaaruf yang benar sesuai syariat? Kita tanyakan saja pada pasangan yang menikah hasil dari taaruf atau banyak baca buku tentang pernikahan yang sesuai syariat. 

#Penulis mau baca-baca dulu dan menyiapkan hati. Soalnya kalau nulis tentang pernikahan suka dihusnudzon-in bentar lagi nikah. Hehehe
Perawatan wajah, dibilang bentar lagi nikah. 
Mulai rajin dan belajar masak dikatain mau nikah. Nulis tentang nikah, eh dicie cie in bentar lagi nikah. 

Amin-in dulu aja deh. Kalau jodoh kan gak ada yang bisa tebak. Bisa jadi dua minggu lagi, atau satu bulan lagi, atau bahkan beberapa tahun lagi ketemu jodohnya.

Masih Tentang Taaruf


Ini hasil baca-baca tentang taaruf yang sesuai aturan. Bisa jadi ada banyak atau sedikit yang kurang sesuai, karena yang nulis belum menikah, dan sedang berikhtiar untuk menuju fase itu. Ikhtiarnya ya dengan baca dan tanya kepada para suhu. Harap jangan dicie cie in yaa... Soalnya suka jadi baper kalau dicie cie in... Hehehe

Taaruf itu kan perkenalan. Yang namanya kenalan kan bisa dengan bermacam media. Ada yang dikenalkan oleh orang tuanya, teman, kolega, bahkan lewat medsos. 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah kenalan di medsos, tidak ada yang mengenalkan. Dia kirim CV, saya terima CV-nya lalu langsung diserahkan ke ustadz untuk diproses. Qodarullah belum berjodoh. Beberapa tahun kemudian, datang juga beberapa CV, dan beberapa kali juga harus bersabar. 

Gagalnya bertaaruf, bisa jadi ujian untuk orang-orang yang ingin menggunakan cara yang baik untuk pernikahan mereka. Menjaga diri dari sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat. 

Proses taaruf itu tidak mudah, banyak S&K nya. Kalau mau memilih cara yang tidak mudah ini, ya harus dilakukan dengan hati ikhlas dan sabar. Sabar dengan proses yang terkesan 'ribet' dan ikhlas kalau proses taarufnya tidak berakhir sesuai dengan yang diinginkan. Taaruf kan ikhtiar, hasilnya ya pasrahkan. 

Dalam proses taaruf itu banyak hal yang harus dijaga, seperti. 

1. Menjaga Pandangan Mata
Jangan sampai karena tergiur kata-kata jalur islami, mata kita dibiarkan bebas menjelajah, membiarkan penglihatan berkeliaran dari hal yang diharamkan Allah SWT. 

Bagaimana cara menjaga pandangan mata kita? Nah kan sekarang zaman medsos nih, banyak foto-foto kita yang tersebar. Buat yang lagi proses taaruf, jangan keseringan lihat foto-foto calon pasangannya. Kalau sering lihat, nanti baper sendiri. 

Buat mengalihkan dari memandang foto calon yang belum tentu jadi itu, lebih baik mandangin para ahjusi per drakoran. Eh, gak boleh juga hobi mandangin para ahjusi itu karena sering mandang yang cakep-cakep, bisa bikin ekspektasi kita terlalu tinggi dan jadinya ngehalu pengen punya suami kaya Hyun Bin, Lee Dong Wook, Gong Yoo, atau Ahjusi lainnya. Hehehe... 

2. Pokok Pembicaraan Tidak Mengundang Hawa Nafsu
Nah, ini harus hati-hati banget saat berkomunikasi dengan pasangan taaruf. Jangan melakukan pembicaraan yang mengarah ke hal dosa seperti pembicaraan bertemakan seks saat proses taaruf. Mungkin bagi sebagian orang, membahas masalah yang pribadi ini sudah biasa, tapi tidak kalau kita ingin proses taaruf yang benar. 

3. Tidak Melakukan Khalwat
Khalwat adalah berdua-duaan antara seorang pria dengan wanita yang bukan mahramnya di tempat sepi. Hal tersebut tidak diperbolehkan saat menjalani taaruf. Oh iya, berkhalwat ini termasuk sering ngobrol gak penting lewat chat atau medsos. Karena sekarang zaman digital, zaman medsos, zaman chat online. Jadi menurut saya, dengan online chat sama saja jatuhnya dengan berkhalwat. Nah loh...kecuali didampingi oleh orang yang memang dipercaya untuk menemani. Idealnya, bikin wa grup barengan si pendamping, tidak hanya chat berdua an... (Ini menurut buku yang saya baca yaa) 

Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua." (HR. Ahmad)

Lalu, bagaimana kalau kita ingin bertemu untuk lebih saling mengenal? Untuk hal ini, kita bisa mengajak pihak yang kita percaya dan mumpuni untuk menjadi pendamping kita. Bisa anggota keluarga, teman, atau guru. Yang penting, orang yang mendampingi adalah orang yang paham akan proses taaruf.

Jangan bikin pembenaran untuk bertemu dengan dalih bertemu di tempat umum yang banyak orangnya. Tetap saja, hati ini rapuh kawan. Tidak ada yang bisa menjamin hati kita bebas dari bisikan syaiton. Jadi, jangan pernah ketemuan berdua saja. Pastikan ada teman yang mendampingi. 

4. Hindari Bersentuhan Fisik
Menjaga diri untuk saling tidak bersentuhan secara fisik adalah hal yang paling penting saat taaruf. Jangankan bersentuhan fisik, foto bersama saja tidak dibenarkan. Ingat, taaruf itu belum tentu berjodoh. Tetap jaga diri kita dari hal-hal yang dilarang. Rugi dong kalau gak jodoh, tapi udah pegang-pegangan tangan. Apalagi kalau lebih dari itu. Hindari...

Sementara segini dulu. Nanti, kalau sudah baca-baca lagi, saya nulis lagi...

Friday, 29 December 2023

Perempuan, Pejuang Pendidikan

Zaman sebelum kemerdekaan, perempuan tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana halnya laki-laki. Pun perempuan dari kalangan bangsawan tidak pula mendapatkan pendidikan yang layak seperti laki-laki dari kaum bangsawan lainnya. Belum ada perempuan yang diberi kesempatan untuk bersekolah di negara Belanda seperti halnya laki-laki. 

Raden Ajeng Kartini adalah salah satu wanita Indonesia yang memandang miris akan nasib para perempuan di Indonesia. Kartini mengungkapkan rasa kecewa atas tidak diberinya pendidikan yang cukup untuk wanita Indonesia melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada teman-temannya di Belanda. 

Lahir di Jepara, Jawa Tengah, Raden Ajeng Kartini berasal dari keluarga bangsawan yang terpandang. Ayahnya adalah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah Bupati Jepara dan masih memiliki garis keturunan dari wangsa Mataram. 

Seperti kebanyakan anak perempuan di kalangan bangsawan saat itu, Kartini pun tidak melanjutkan pendidikannya hingga jenjang yang lebih tinggi. Kartini hanya menempuh pendidikan hingga usianya mencapai 12 tahun. Setelah itu, kartini mulai dipingit untuk dipersiapkan menjadi seorang istri. 

Kartini menempuh pendidikan di Europese Lagere School (ELS). ELS adalah sekolah dasar milik pemerintah Hindia Belanda bagi anak-anak keturunan bangsa Eropa, keturunan timur asing, dan pribumi dari Kalangan bangsawan. 
Sesuai tradisi pada zaman itu, setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, Kartini mulai dipingit di rumah. Pada saat itulah ia mulai menulis surat kepada teman-temannya yang kebannyakan berasal dari Eropa, seperti Stella Zeehandelaar, Jacques Henrij Abendanon, Rosa Manuela Abendanon, dan masih banyak lagi. 

Sebelum berusia 20 tahun, Kartini sudah habis melahap buku-buku seperti De Stille Kraacht karya Louis Coperus, Max Haveelar karya Multatuli, dan masih banyak buku-buku karya penulis habit pada masanya. Semua buku yang ia baca berbahasa Belanda.  

Pada tahun 1903, ia dijodohkan dan menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Arioa Singgih Sjojo Adhiningrat sebagai istri ke-empat. Menikah dengan suami yang sudah memiliki tiga istri sebelumnya ternyata tidak seburuk dugaan Kartini. Terbukti saat menikah, suami Kartini tidak mengekang cita-cita Kartini. Suaminya mendukung cita-cita Kartini untuk memajukan perempuan di Indonesia. Suami Kartini mengizinkan Kartini membangun dan mengelola sekolah untuk perempuan di komplek kantor bupati. 

Selama menikah, Kartini memiliki soerang anak laki-laki, tetapi sayang putranya meninggal empat hari setelah dilahirkan. Kartini sendiri meninggal pada tanggal 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. 

Selain Kartini, ada juga wanita yang berjuang untuk pendidikan yang berasal dari Jawa Barat. Ia adalah Dewi Sartika. Raden Dewi Sartika lahir dari orangtua bernama Raden Somanegara dan Nyi Raden Ayu Rajapermas. Ia dilahirkan di Cicalengka, Kabupaten Bandung pada tanggal 4 Desember 1884. Kedua orangtuanya merupakan para pejuang yang menentang pemerintahan Hindia Belanda. 

Dewi Sartika telah memiliki minat terhadap pendidikan sejak ia kecil. Ayah dan ibunya lah yang memperkenalkan Dewi Sartika kecil dengan dunia pendidikan. Walaupun saat itu menyekolahkan anak perempuan itu bertentangan dengan pandangan masyarakat tetapi kedua orangtua Dewi Sartika tetap menyekolahkan putrinya di Eerste Klasse School. Di sana, Dewi Sartika belajar bersama dengan anak-anak dari kalangan bangsawan, Belanda, dan Indo-Belanda. 

Karena kecerdasannya yang luar biasa, Dewi Sartika kerap mengajar membaca dan menulis kepada teman-temannya di sekitar rumahnya, khususnya para anak perempuan pribumi. 
Pada tanggal 16 Januari 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah khusus perempuan di Bandung yang diberi nama Sekolah Istri. Sekolah ini merupakan sekolah pertama dan tertua di Indonesia. Di sekolah ini para perempuan diajarkan untuk membaca, menulis, merenda, menjahit, dan masih banyak lagi. 

Islam dan Rasulullah SAW sangat memperhatikan pendidikan, terbukti dengan banyaknya ayat dalam Al-Quran dan Hadits yang menyatakan pentingnya untuk menuntut ilmu. Berikut adalah beberapa ayat dan hadits tentang pentingnya pendidikan. 

"Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR Muslim)

"Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali." (HR Tirmidzi)

"Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi, tidaklah mewariskan dirham dan dinar, akan tetapi mereka mewarisi ilmu, maka barang siapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang besar." (HR Abu Dawud)

Apa yang dilakukan oleh Kartini dan Dewi Sartika dan para pejuang pendidikan bagi perempuan lainnya bukan hanya wacana dan rencana saja. Mereka telah mewujudkan impian dan rencana mereka dalam tindakan nyata. Keresahan yang dialami telah memotivasi mereka untuk mewujudkan impian mereka demi kemajuan para perempuan di masa lalu. Kisah heroic mereka pun memotivasi para pejuang pendidikan untuk meneruskan perjuangan Kartini dan Dewi Sartika.

Thursday, 28 December 2023

Asa Perempuan

Nindya menatap pohon-pohon yang berjejer rapi di sepanjang jalan yang dilalui oleh bis yang sedang ditumpanginya. Banyak hal yang bergejolak dalam pikirannya. Pikirannya melayang kembali ke beberapa tahun silam saat ia baru saja duduk di bangku kuliah.

Kejadian yang sangat membekas di memorinya. Saat itu ia sedang liburan semester. Ketika ia tiba di rumahnya, ada seorang perempuan muda bersama dengan seorang anak kecil berusia sekitar dua tahun menangis di dapur. Ibunya memberitahu jika perempuan muda itu adalah asisten rumah tangga baru. Ibu bercerita perempuan bernama Wati itu baru saja diceraikan oleh suaminya. Karena ibu dan ayahnya merasa kasihan, Wati diterima kerja sebagai asisten rumah tangga walaupun tidak memiliki keterampilan apapun.

Setelah mengobrol banyak dengan ibunya, Nindya baru mengetahui bahwa banyak sekali perempuan muda yang bernasib sama seperti Wati. Menikah muda, memiliki anak tanpa pendidikan yang memadai dan setelah itu diceraikan oleh suaminya ketika sang suami mendapatkan perempuan yang lebih muda dan cantik.

“Memangnya orang tua mereka tidak menyekolahkan anak-anaknya, Mbu?” tanya Nindya pada ibunya.

“Masih banyak masyarakat di desa ini yang belum memiliki pemikiran ke arah yang lebih baik. Banyak orang tua yang masih berpikiran kalau perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi. Yang penting mereka bisa masak dan sehat agar bisa hamil, melahirkan dan melayani suami mereka,” Jelas Euis, ibu Nindya.

“Tapi, Mbu. Perempuan sekarang harus memiliki pendidikan yang tinggi bukan hanya untuk mengejar karir tapi agar mampu mendidik anak-anak mereka juga dengan baik,” kata Nindya. Dirinya masih sulit menerima kenyataan pemikiran kolot yang masih dianut oleh kebanyakan warga di kampungnya.

“Kenyataannya mereka masih berpikiran seperti itu, Neng. Abah sebagai tokoh masyarakat di sini juga masih kesulitan untuk merubah cara pandang warga di sini. Masih panjang prosesnya, Neng. Kita tidak bisa merubah cara pandang yang mereka anut berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin beratus tahun dengan cepat. Harus ada proses dan prosesnya itu membutuhkan kesabaran yang luar biasa.” Euis menjelaskan dengan sabar.

“Ya gak bisa gitu, Mbu. Kasihan kan perempuan di kampung ini. Mereka tidak bisa menikmati masa muda mereka. Hak mereka untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan pun tidak didapatkan hanya karena mereka harus cepat menikah. Ini tidak bisa dibiarkan,” protes Nindya.

“Sekarang tugas kamu belajar dengan tekun lalu lulus dengan cepat dengan nilai yang baik. Setelah kamu lulus dan memiliki kemampuan yang memadai untuk merubah keadaan yang kamu pandang tidak ideal, benahilah kampung ini. Abdikan diri kamu untuk kemajuan kaum perempuan di kampung ini. Ambu pasti selalu mendoakan kamu.”

Kata-kata ibunya terus terngiang di telinga. Doa ibu agar ia memajukan kaum perempuan di kampungnya menjadi penyemangatnya dalam menyelesaikan kuliah. Cita-cita terbesar Nindya saat ini adalah kemajuan kaum perempuan di kampungnya. Ia bertekah untuk merubah cara pandang kolot kebanyakan masyarakat di kampungnya.

Selama perjalanan, Nindya kembali merenungkan  impiannya. Sebelum pulang, ia sudah merencanakan banyak hal demi kemajuan perempuan di desanya. Dadanya bergetar hebat saat membayangkan rencana demi rencananya akan terwujud. Bibirnya tersungging, tertarik hingga menampilkan senyum sumringah. 

Sekarang di sini lah Nindya berdiri tegak setelah beberapa saat tadi turun dari bus yang ditumpanginya. Ia benar-benar menikmati perjalanan dari kota tempatnya berkuliah hingga ke kampung halaman tempat ia bertumbuh kembang. Tekad untuk mendobrak pemikiran kuno dan merubah nasib para perempuan di desanya sudah sangat kuat tertanam.

Nindya menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya oksigen di dalam paru-parunya perlahan-lahan. Ia mengedarkan padangannya untuk mencari transportasi yang bisa mengantarnya sampai ke rumah. Ia siap berjuang mewujudkan semua cita dan rencananya. 

Wednesday, 27 December 2023

Marjinalisasi Perempuan dalam Politik

Pandangan negatif masyarakat terhadap perempuan masih saja terasa timpang dan mungkin tidak adil bagi perempuan. Perempuan masih dipandang sebelah mata oleh sebagian mayarakat yang masih berpikiran kolot. Bahkan beberapa bagian masyarakat masih memiliki anggapan bahwa tingkat perempuan berada di bawah laki-laki. 


Berbagai stereotype atau prasangka terhadap perempuan memunculkan sikap antipasti yang menggeneralisasi perempuan dengan sifat yang sama. Dari stereotype ini, perempuan dilabeli dengan sikap yang diinginkan oleh masyarakat. Perempuan yang lemah, cengeng, penggoda, tidak rasional, emosional, dan tidak mampu mengambil keputusan penting. Prasangka-prasangka negatif ini dijadikan label untuk semua perempuan padahal tidak ada dasar atasnya. Bahkan seringkali pelabelan tersebut tidak seratus persen benar. 


Dalam pandangan sebagian masyarakat, kodrat perempuan hanya sebatas sumur, dapur, kasur atau mengurus rumah tangga serta melayani suami di rumah dan perkara mencari nafkah di luar rumah menjadi urusan suami. Bekerja adalah salah satu hak asasi manusia yang sangat mendasar. Tetapi peradaban membebani perempuan dengan stigma yang cukup bertendensi negative jika diterapkan di zaman serba modern seperti sekarang. 


Zaman dulu dan mungkin zaman sekarang juga masih ada pandangan yang berpendapat bahwa perempuan yang meniti karier, tidak dipandang sebagai perempuan yang hebat, melainkan sebagai perempuan yang gagal. Mereka disebut gagal menyelenggarakan tugas utamanya yaitu mengurus rumah tangga. Sebaliknya, jika dalam kondisi perempuan yang harus bekerja menghasilkan materi untuk menghidupi keluarganya sebagai tulang punggung keluarga hanya akan sekadar dianggap ‘menggantikan’ fungsi suami. Anggapan ini walaupun ‘salah’ menurut pandangan saya dan juga mungkin banya perempuan bekerja lainnya di luar sana tetapi ternyata masih kuat menguasai budaya kita.


Zaman dulu, budaya kita didominasi budaya patriarki atau budaya yang menempatkan laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Perempuan dianggap tidak bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Pemikiran perempuan dianggap remeh dan tidak mumpuni untuk membicarakan hal-hal kompleks termasuk masalah politik, keuangan, negara dan masalah kompleks lainnya. 


Membicarakan politik dianggap isu yang berat dan njlimet. Banyak perempuan yang belum melek masalah politik. Sebagian masyarakat masih beranggapan dunia politik adalah dunia para laki-laki bukan dunia perempuan. 


Sebenarnya di masa modern ini, dunia perempuan sudah sangat berkembang dan lebih luas. Perempuan tidak dianggap sebelah mata lagi. Banyak perempuan yang bekerja dan bahkan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari sebagian laki-laki.  Namun, politik masih menjadi isu yang belum biasa dibicarakan oleh perempuan dari berbagai kalangan. Padahal politik adalah satu bahasan yang sebenarnya penting untuk didiskusikan bahkan dieksekusi oleh perempuan. Benarkah seperti itu?


Politik dipandang sebagai salah satu dari beberapa masalah ‘di luar jangkauan’ perempuan sehingga hanya laki-laki saja yang mampu untuk memikirkan politik dengan segala isi otak dan pemikirannya. Hal ini seolah memberi garisan tegas bahwa antara perempuan dan politik, merupakan dua dunia yang berbeda dan tidak dapat bersinergi satu dengan yang lainnya. 


Dunia perempuan dibatasi hanya di dalam rumah yang meliputi wilayah domestik, mengurus anak-anak dengan segala macam keruwetannya. Kalaupun berkarir dan bekerja di luar rumah, maka pekerjaan/karir mereka bukanlah hal yang utama. 


Para perempuan bekerja diharuskan siap memainkan peran ganda, sebagai ibu dan perempuan bekerja. Sedangkan politik dipandang hal yang hanya cocok digelukuti oleh  laki-laki karena di dalamnya penuh dengan intrik-intrik berbahaya, terlihat maskulin dan penuh manuver serta identik dengan uang dan kekuasaan.


Mendekati tahun politik, perempuan menjadi sasaran empuk yang bisa digunakan sebagai objek politik. Stereotype bahwa perempuan tidak bisa membuat keputusan yang tepat menjadi hal yang menggairahkan para subjek politik dalam meraup suara. Perempuan dianggap tidak memiliki kapasitas untuk memilih dan membuat keputusan mengenai pilihan politiknya sehingga mudah saja untuk menggiring pilihan para perempuan. 


Bagaimana peran perempuan dalam dunia politik di Indonesia? Perempuan memang seharusnya berperan aktif dalam polotik karena ada beberapa undang-undang mengenai perempuan yang hanya perempuan lah yang memahami sesama perempuan sehingga perempuan harus dilibatkan aktif dalam perumusan undang-undang yang berhubungan dengan keperempuan. 


Untuk mewadahi keikutsertaan perempuan dalam konstelasi perpolitikan, Negara Indonesia sebenarnya telah memberikan kesempatan yang cukup bagi perempuan untuk ikut bertarung dalam kancah perpolitikan. Terbukti dengan undang-undang yang mengharuskan setiap partai politik untuk menyertakan peran perempuan. 


UU No 10 Tahun 2008 mewajibkan parpol untuk menyertakan 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan tingkat pusat. Syarat tersebut harus dipenuhi parpol agar dapat ikut serta dalam pemilu. Peraturan lainnya terkait keterwakilan perempuan tertuang dalam UU No 10 Tahun 2008 Pasal ayat 2 yang mengatur tentang penerapan zipper system, yakni setiap tiga bakal calon legislatif, terdapat minimal satu bakal calon legislatif (bacaleg) perempuan. 


Namun, akankah nasib perempuan yang termajinalkan akan berubah atau masih hanya wacana saja yang entah kapan terealisasikan? 



Tuesday, 26 September 2023

Genre Surealis dalam Tulisan Fiksi

 


Genre surealis sering dianggap sebagai fiksi yang aneh, absurd dan non rasional. Fiksi surealis bisa memiliki banyak interpretasi, bisa diterjemahkan atau dimaknai secara bebas oleh pembacanya. Fiksi surealisme berbeda dengan fiksi realis apalagi fantasi. Fiksi surealis seperti jembatan antara fiksi realis dan fantasi. Perbedaan antara fiksi surealis dan fantasi adalah jika dalam fiksi fantasi, sejak awal unsur-unsur fantasi sudah disajikan pada semesta yang dibangun. Keanehan itu tampak wajar karena memang dunianya sudah terbangun, kefantasiannya sejak awal sudah tertata sedangkan dalam fiksi surealisme, keanehan, keganjilan seringkali tidak logis dan tanpa penjelasan, tidak bisa dinalar. Hal ini terjadi karena sejak awal unsur-unsur realis tetap dikedepankan. Fiksi surealis lebih terasa sebagai fiksi yang abstrak, dengan menggabungkan unsur fantasi dan hal realis dengan padanan yang pas. Fiksi surealis seringkali dianggap absurd. Keanehan itu terbangun karena ada banyak unsur realisme yang tetap dipertahankan. Jadi, dalam hal ini unsur realisme tetap menjadi patokan utama.

Selain padanan yang pas antara unsur realis dan fantasi, fiksi surealis seringkali menggunakan metafora dan personifikasi. Penggunaan metafora dan personifikasi menjadi salah satu ciri dalam fiksi surealisme. Personifikasi membantu menggambarkan suatu benda atau sesuatu yang bukan mahluk hidup menjadi seperti layaknya mahluk hidup.

Selain penggunaan metafora dan personifikasi, ciri lain fiksi surealis adalah penggunaan diksi yang kaya. Diksi yang kaya bukan berarti diksi yang rumit, berat dan membuat dahi mengerut, apalagi diksi yang sama sekali tidak sesuai konteks. Pada fiksi surealis detail atau pun deskripsi terasa lebih hidup dan nyata dengan penggunaan diksi-diksinya yang unik dan kaya. Pemilihan diksi akan memperkuat unsur absurd dalam fiksi surealis. Penggunaan diksi unik dan apik untuk membangun deskripsi dan detail cerita juga bisa kita terapkan pada genre fiksi mana pun. Karena diksi unik dan kaya akan mampu membangun visualisasi yang bagus dibenak pembaca selama penggunaan diksinya pas dan tidak berlebihan.

Meski fiksi surealisme lebih sering disebut sebagai karya fiksi yang aneh dengan banyak interpretasi, tetapi tidak boleh meninggalkan aturan-aturan baku dalam kebahasaan dan tidak bisa seenaknya saja disusun demi mencapai efek indah yang diinginkan. Jadi walau dipandang aneh secara cerita tetapi aturan dan tata bahasanya tetap diperhatikan.

 

Thursday, 8 June 2023

Tua Pasti, Dewasa Pilihan

 

Menjadi tua adalah sesuatu yang pasti tapi menjadi dewasa adalah pilihan. Jumlah umur yang bertambah belum bisa dipastikan takar kedewasaan pun bertambah. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa banyaknya umur seseorang tidak menjamin sikap yang dewasa. Banyak orang dewasa tetapi bersikap seperti anak-anak.

Menjadi dewasa bukan hanya sekedar bertumbuh fisik tetapi juga berkembang pemikirannya. Seorang yang dewasa tidak lagi berpikiran seperti anak-anak yang didominasi dengan sikap egois, mau menang sendiri, menyalahkan orang lain, menjadi attention seeker dan banyak lagi sikap kekanakan lainnya.

Menjadi tua itu gampang karena terjadi secara alami. Alam sudah mengaturnya sedemikian rupa hingga kita tidak bisa menolak tua. Kita tidak akan pernah menghentikan waktu sehingga kita menjadi muda selamanya-kecuali saat kita tinggal di surga dimana semua penduduk surga akan muda selamanya.

Kita memang tidak akan pernah sanggup menahan laju waktu hingga tubuh kita menua tetapi terkadang ada saja saat laju perkembangan pemikiran kita berhenti di satu titik. Ini yang bahaya. Bahaya ketika raga kita menua tetapi pemikiran kita berhenti seakan kita merasa takut untuk menjadi dewasa.

Seperti halnya tokoh Peter Pan yang menolak untuk dewasa, sebagain dari kita pun ada yang tidak ingin dewasa dengan berbagai macam alasan. Menjadi dewasa adalah hal yang menakutkan karena seorang yang dewasa sudah harus mampu untuk mandiri, bertanggung jawab, juga harus mampu untuk menahan ego.

Saat kanak-kanak, mungkin sebagian besar dari kita berharap untuk cepat dewasa. Orang dewasa terlihat keren dalam pandangan anak-anak. Orang dewasa hebat bisa membeli apapun yang disukai tanpa harus menunggu approve orang tua atau menunggu lebaran untuk membeli baju baru bahkan merengek kepada ayah dan ibu agar mendapatkan apa yang diinginkan.

Dalam pandangan anak-anak, orang dewasa itu keren karena bisa melakukan apapun yang disukai tanpa harus kena tegur orang tua. Orang dewasa itu mengasyikan karena bisa pergi atau berlibur kemana saja tanpa harus minta izin orang tua atau menunggu kesiapan orang tua untuk mengajak liburan.

Namun, setelah dewasa lintasan ingin kembali ke masa kanak-kanak sering hadir. Ingin rasanya menjadi anak-anak dengan dunianya yang ceria dan tanpa beban. Anak-anak tidak perlu bekerja tinggal minta saja pada orang tua jika ada sesuatu yang diinginkan. Anak-anak tidak dijejali beban pekerjaan yang njilimet karena pekerjaan anak-anak hanya bermain dan bersekolah.

Orang dewasa yang kesehariannya berkutat dengan pekerjaan, pergi pagi pulang sore pasti rindu dengan masa-masa bersekolah di SD, SMP, atau SMA. Masa SD tentu menjadi masa yang paling menyenangkan karena punya banyak waktu untuk bermain.

Namun, tidak semuanya juga memiliki masa kanak-kanak yang bahagia. Ada sebagian anak-anak yang tidak seberuntung anak-anak yang lain dengan dunianya yang ceria. Ada anak-anak yang harus ditempa lebih dini oleh keadaan sehingga mereka dewasa sebelum waktunya. Lingkaran mereka mengharuskan untuk bekerja keras jika ingin terus bertahan.

Ada juga anak-anak yang terlalu dimanjakan oleh orang tua mereka sehingga mereka nyaman dengan keadaan mereka saat menjadi anak-anak. Anak-anak ini lah yang takut untuk dewasa. Mereka tidak berani melangkahkan kaki dan pemikiran mereka menjadi lebih dewasa. Mereka takut jika dewasa, mereka akan kehilangan masa cerianya.

Orang tua yang terlalu memanjakan bukannya bagus tetapi menjerumuskan. Lihatlah begitu banyak orang dewasa yang tidak mandiri. Walaupun usia mereka sudah tua tetapi belum bisa berdiri di atas kaki sendiri. Hidupnya masih bergantung kepada orang tua mereka. Sikapnya yang manja dan egois membuat mereka sulit untuk berjuang di tengah masyarakat. Mereka kesulitan untuk mendapatkan solusi atas segala permasalahan yang mereka hadapi.

Kedewasaan tidak muncul secara instan, ia harus berproses. Proses menjadi dewasa pun tidak hadir dalam waktu singkat. Menjadi dewasa itu perlu latihan dan tempaan. Kunci menjadi dewasa adalah kemampuan dan keinginan yang tertanam kuat dalam diri untuk terus memperbaiki diri untuk menjadi individu yang lebih baik. Menjadi dewasa juga artinya membuka pikiran kita untuk menerima segala kritik dan saran yang orang lain berikan sebagai pecut untuk senantiasa memperbaiki diri.


Wednesday, 7 June 2023

Mati Satu Tumbuh Seribu

 

Sebenarnya, apa yang benar-benar kita miliki di dunia ini? Apakah kekayaan? Jabatan dan kedudukan? Tahta? Pasangan? Anak-anak? Benarkah mereka semua milik kita?

Kita ini hidup di dunia cuma sementara. Rata-rata umur manusia hidup di dunia adalah 60 sampai 70 tahun. Kalaupun ada yang lebih dari itu, berarti sudah mendapatkan bonus numpang di dunia lebih lama.

Ya, benar sekali kita hanya numpang hidup di dunia. Harta yang kita miliki cuma titipan, begitu pun dengan jabatan, pasangan, anak-anak. Semuanya hanya titipan yang Allah amanahkan kepada kita. Kita ini sejatinya makhluk yang lemah dan tidak memiliki apapun jika tidak diberi kekuatan oleh Sang Raja penguasa jagat alam raya.

Jadi, jangan sedih apalagi marah jika suatu saat apa yang Allah titipkan pada kita diambil kembali. Namanya juga pinjaman dan titipan. Kalau yang punya mau ambil kembali, apa hak kita untuk menahannya?

Namun, ada kalanya kita sedih saat kehilangan sesuatu yang kita anggap milik kita. Kita lupa bahwa apapun yang ada dalam diri kita sejatinya bukanlah miliki kita. Kalaupun kita kehilangan hal tersebut, pasti Allah akan menggantinya dengan yang lebh baik.

Contohnya saja ketika kita kita kehilangan sandal, pasti kita akan mendapatkan gantinya baik kita membeli yang baru atau ada orang yang memberi sepasang sandal untuk kita. Begitu pun saat kita kehilangan uang. Uang yang hilang, yakinlah bahwa Allah akan menggantinya dari jalan yang mungkin tidak kita sangka. Bahkan Allah akan mengganti yang hilang dengan yang lebih baik.

".....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyusakai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Terkadang dan mungkin seringnya kita mengalami kesedihan yang berlarut-larut saat kita kehilangan sesuatu, baik itu kehilangan pasangan, anak, jabatan, kekayaan, atau hal berharga lainnya. Tanpa sadar kita menyalahkan Sang Pembuat Ketetapan. Padahal jika kita memahami apa yang Allah firmankan dalam surah di atas yang menyatakan bahwa bisa jadi menyukai sesuatu hingga kita enggan untuk melepasnya padahal sesungguhnya hal itu membawa keburukan kepada kita.

Saya pernah mendengar kisah dari seorang artis yang kehilangan hampir segalanya, baik harta ataupun profesinya sebagai seorang aktor. Hartanya habis karena ditipu dan ia pun sudah lama tidak mendapatkan tawaran bermain di sinetron. Semua harta dan benda yang ia miliki sudah terjual untuk menutupi utang. Hingga ia tiba pada suatu titik dimana ia pasrah dengan keadaannya dan menyerahkan segalanya pada Sang Pencipta.

Doa dan asanya terjawab pada suatu waktu. Allah menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik. Saat dalam keadaan terpuruk ia memilih kembali ke jalan Allah dan menjadi pribadi yang lebih relijius. Tidak lama kemudian, uang yang hilang pun kembali dalam bentuk yang jauh lebih baik dan banyak. Bagaimana tidak lebih baik saat ia kehilangan ratusan juta, Allah menggantinya dengan tawaran bermain sinetron yang angkanya jauh lebih banyak. Bahkan kontrak sinetronnya masih terus berlanjut setelah ia berhasil melunasi semua utangnya.

Saya pun mengalami hal yang serupa. Saya pernah mengalami penipuan online dengan nominal yang tidak sedikit. Jujur saja, saya merasa sedih saat mengetahui kalau saya harus kehilangan sejumlah uang. Namun, saya menyadari bahwa kehilangan itu mungkin saja berupa teguran dari Allah atas dosa dan kesalahan yang pernah saya lakukan.

Kata Ikhlas mungkin mudah untuk diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Walaupun saat itu mulut saya mengatakan saya ikhlas dengan kehilangan tapi tetap saja ada sedikit rasa kecewa dalam hati. Hingga akhirnya saya benar-benar menguatkan hati untuk mengikhlaskannya. Saya yakin bahwa Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

Janji Allah tidak pernah meleset. Tidak lama setelahnya, saya mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan dengan bayaran yang lebih dari cukup untuk mengganti uang yang pernah hilang. Tepat satu hari setelah saya terkena penipuan online tersebut, teman lama saya menelepon dan menawarkan saya tambahan pekerjaan yang masih saya lakoni hingga sekarang dimana nominalnya jauh melebihi apa yang pernah hilang dari genggaman saya.

Betul juga saat pepatah mengatakan mati satu tumbuh seribu yang artinya segala sesuatu yang hilang pasti ada gantinya. Tanamkan keyakinan dalam diri kita bahwa pertolongan Allah itu dekat. Boleh saja kita kehilangan sesuatu tapi jangan sampai kita kehilangan keyakinan kepada Allah.


Tuesday, 6 June 2023

Kolaborasi Peter Pan dan Cinderella


Pernah nonton film dengan tokoh anak laki-laki bernama Peter Pan, kan? Semua perempuan pasti pernah menonton film atau membaca kisah tentang Cinderella. Iya, kan?

Siapa sangka kalau di zaman modern ini, tokoh kartun yang muncul dan populer sejak abad 20an itu dijadikan nama sebuah sindrom. Sindrom takut menjadi dewasa. 

Sindrom Peter Pan adalah sebuah istilah yang ditujukan bagi pria yang sudah dewasa, tetapi masih menunjukkan perilaku atau karakter layaknya anak-anak. Sepertinya halnya Peter Pan yang menolak dewasa, begitupun pria yang secara usia sudah mencapai dewasa tetapi menolak untuk menjadi dewasa karena beberapa ketakutan yang ada dalam dirinya.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Dan Kiley dalam sebuah buku berjudul Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up yang diterbitkan pada 1983 lalu.

Seorang pria dewasa seharusnya sudah mampu hidup mandiri, memegang tanggung jawab dan tidak bergantung kepada orang lain dalam hidupnya. Namun, dalam kenyataannya ada beberapa pria dewasa yang tidak mampu hidup mandiri dan tidak mampu bertanggung jawab.

Sifat menolak dewasa pun tidak hanya dialami beberapa pria dewasa, beberapa perempuan dewasa pun mengalami sindrom yang mirip dengan sindrom Peter Pan, yaitu sindrom Cinderella.

Tokoh dalam kisah Cinderella ini semasa kecilnya hidup bahagia bersama ayah dan ibunya. Setelah ibunya wafat dan ayahnya menikah lagi ketika ia menjelang remaja, hidupnya berubah menjadi sengsara karena ibu tirinya memperlakukan ia dengan tidak baik. Karena kepahitan hidupnya, Cinderella kemudian mendambakan sosok seperti pangeran, yang dapat menjaga, menyayangi, dan memberikan kebahagiaan padanya.

Nah, karakter Cinderella yang seperti itu menunjukkan perempuan yang enggan atau takut untuk mandiri. Perempuan dengan sindrom cinderella biasanya selalu memiliki keinginan untuk diselamatkan, dilindungi, dan disayang oleh sosok yang seperti pangeran.

Sindrom menolak dewasa pun pernah saya alami saat menjelang kelulusan tingkat sarjana. Saya merasa khawatir dan takut dengan kehidupan setelah lulus kuliah. Apa yang akan saya lakukan setelah lulus kuliah? Apakah saya mampu mendapatkan pekerjaan dan membiayai diri sendiri tanpa bantuan orang tua?

Ketakutan seperti ini pun sepertinya menyerang beberapa anak kuliahan yang sedang mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Ada beberapa mahasiswa yang sengaja memperlambat tugas mereka karena ada rasa takut dalam diri dalam menghadapi keadaan setelah lulus kuliah. Bersyukur rasa takut itu perlahan hilang seiring dengan jiwa pejuang yang ada dalam diri.

Kisah pun berlanjut saat saya kuliah S2 beberapa tahun yang lalu. Banyak diantara teman satu kelas saya adalah lulusan S1 yang langsung melanjutkan ke jenjang S2. Alasan mereka sih sebenarnya bermacam-macam, tetapi ada satu jawaban mayoritas, yaitu mereka belum tahu apa yang akan mereka kerjakan setelah lulus S1. Oleh sebab itu mereka memilih untuk melanjutkan kuliah dengan biaya dari orang tua. Mereka pikir selama orang tua sanggup membiayai, why not?

Salah satu penyebab munculnya sindrom Peter Pan atau Cinderella adalah pola asuh yang kurang tepat pada masa kanak-kanak. Orangtua mungkin saja bersikap selalu menuruti keinginan anak, membela, dan turun tangan ketika anak melakukan kesalahan. Akibatnya, anak terbiasa dengan rasa nyaman yang diciptakan oleh orang tua mereka.

Permasalahan datang ketika anak-anak tersebut beranjak dewasa. Mereka akan merasa selalu membutuhkan perhatian, perlindungan, dan pembelaan dari orang tua mereka. Bahkan mereka akan mudah hancur saat dihadapkan pada masalah dimana mereka tidak terbiasa dalam mengatasinya.

Sering dengar perceraian yang terjadi karena suami atau istrinya tidak dewasa atau kekanak-kanakkan hingga orang tua mereka turut campur dalam urusan pernikahan anak-anak mereka, kan? Nah, sindrom Peter Pan dan Cinderella mungkin saja yang menjadi akar masalah dalam sebuah pernikahan.

Lalu bagaimana cara agar kita tidak terkena sindrom Peter Pan atau Cinderella? Atau bagaimana kita, sebagai orang tua seharusnya lakukan agar anak-anak kita tidak mengalami sindrom tersebut?

Sebagai orangtua, penting untuk menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan kemandirian pada anak sedini mungkin. Agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan siap menghadapi segala hal dalam kehidupannya kelak.

Kalau kita sudah terlanjur terkena sindrom Peter Pan atau Cinderella, sikap apa yang harus kita ambil? Hilangkan rasa takut menjadi dewasa. Kita harus lebih percaya pada diri kita sendiri bahwa kita bisa melakukannya. Gali jiwa pejuang yang ada dalam diri, karena saya yakin dalam setiap individu pasti memiliki daya juang. Hanya saja beberapa masih merasa takut dan khawatir kalau dirinya akan gagal.


Friday, 13 January 2023

Kutulis di Lembaran Baru

 


Tahun 2022 sudah berlalu dengan kisah manis dan kisah pahit yang membersamainya. Kisah manis yang terjadi sepanjang tahun 2022, biarlah menjadi kenangan indah tak terlupakan yang dapat kita ceritakan pada keturunan kita kelak. Sedangkan kisah pahit menjadi pembelajaran yang membuat kita semakin kuat dan dewasa.

 

Kepahitan, kekalahan, keterpurukan, ataupun kegagalan jangan sampai membuat Langkah kita terhenti. Jadikan itu sebagai penyemangat kita dalam menulis impian impian kita selanjutnya.

 

Tahun 2022 sudah berlalu, tahun 2023 di depan mata. Apa yang akan kita lakukan untuk menghiasi kehidupan kita di tahun 2023? Apakah akan mengulang kesalahan-kesalahan kita di masa lalu? Ataukah merancang impian baru demi kebahagiaan kita? Bagaimana dengan rancangan dan impian kita yang telah gagal di tahun sebelumnya? Apakah kita akan melupakannya begitu saja?

 

Saya pikir kita tidak harus membuang impian atau rencana kita yang gagal atau memang belum terlaksana di tahun-tahun sebelumnya. Kita bisa meneruskan rencana yang tidak dan belum berhasil tersebut dengan usaha dan do’a yang lebih keras lagi.

 

Impian saya pada setiap tahun adalah menikah. Namun hingga tahun 2022 berakhir, impian saya untuk menikah belum terwujud. Apakah saya akan melupakan impian saya untuk menikah karena berulang kali kegagalan yang saya alami? Tentu saja tidak. Impian untuk menikah akan terus ada pada setiap tahunnya terutama di tahun 2023 ini.

 

Bagi perempuan dengan usia yang sudah tidak muda, sedikit sulit untuk bertemu dengan pria dengan kriteria yang diinginkan. Bayangkan saja kriteria ideal jodoh yang kita inginkan ketika berusia 20 tahunan dimana kita memasang standar yang cukup tinggi untuk kriteria pasangan kita. Lanjut ke usia 30 tahunan. Usia yang berada di puncak-puncaknya. Usia 30 an adalah usia dimana sebagian besar perempuan yang memilih untuk menjadi wanita karier berada dalam puncak keemasannya. Pada usia ini, banyak perempuan yang terkadang lupa dengan kebutuhannya untuk menikah hingga usia terus merambat menuju angka 40.

 

Jangan sampai kegagalan kita di tahun sebelumnya mematikan Langkah kita di tahun berikutnya. Jangan takut untuk melangkah dan membuat rancangan dan rencana baru untuk menggapai impian-impian kita.

 

Gagal bertemu jodoh di tahun-tahun sebelumnya, bukan berarti kita jadi malas untuk ‘masih’ memiliki impian untuk menikah, kan?

 

Hari saya, saya mendapatkan chat dari adik saya yang masih duduk di bangku SMA. Dia menanyakan apakah saya seorang anti natalis. Bingung dong ditanya memakai istilah yang aneh. Saya langsung tanya arti dari anti natalis. Adik saya bilang anti natalis itu orang yang menunda pernikahan dan kelahiran. Tidak puas dengan makna yang diberikan, saya googling lah makna dari anti natalis.

 

Antinatalis atau anti-natalisme adalah pandangan etis yang menilai negatif atas reproduksi atau kelahiran. Kaum antinatalis berargumen bahwa manusia harus menghentikan reproduksi karena sifatnya salah secara moral (ada pula yang berpendapat bahwa reproduksi yang dilakukan makhluk berkesadaran lainnya pun salah). 

 

Walaupun belum menikah dan memiliki anak, saya sangat tegas menentang pandangan para anti natalis. Bagi saya pernikahan dan keturunan adalah berkah yang Tuhan berikan pada manusia.

 

Kembali lagi pada resolusi di tahun 2023. Ada baiknya resolusi yang kita buat tidak hanya berfokus pada diri sendiri saja. Resolusi yang kita buat harus memberikan banyak manfaat juga untuk orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan banyak manfaat. Bagaimana cara membuat resolusi yang memberikan manfaat untuk kita sendiri dan juga orang lain?

 

Jadilah manusia yang paripurna, yaitu menjadi individu yang memiliki watak mulia, positif, dinamis, progresif, dan responsif terhadap masalah yang ada di sekitarnya. Berbuat baik pada diri sendiri, kepada sesama, dan kepada alam semesta. Manusia yang paripurna melahirkan karya-karya baik yang membawa kebajikan dan kemaslahatan, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga membawa dan memberikan manfaat bagi semua makhluk.

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’, No. 3289).

 

 

 

 

 

 

 

 

Thursday, 12 January 2023

Terima Kasih Masa Lalu


Dalam setiap perjalanan hidup, pasti ada kisah menarik yang mengiringi baik itu kisah yang manis maupun kisah yang sangat pahit sekalipun.

Kisah yang manis tentu akan dikenang selamanya sebagai kebahagiaan yang pernah kita alami dalam kehidupan. Namun kisah yang pahit akan memberikan pelajaran yang berharga kepada kita agar kelak tidak kembali mengulangi kesalahan yang pernah diperbuat.

Masa lalu adalah masa yang pernah kita lalui. Untuk orang-orang yang berpikir, kisah yang terjadi di masa lalu dapat dijadikan pelajaran yang berharga.

Namun, jangan sampai kepahitan yang pernah kita lewati membekas dan bersemayan selamanya dalam diri kita. 

Ibarat kaca spion mobil atau motor yang kita lihat sekali-kali saja sebagai salah satu alat yang akan membantu kita dalam berkendaraan. 

Begitupun dengan masa lalu. Lihatlah masa lalu sekali-kali saja sebagai cermin yang akan membantu kita untuk menjalani masa yang ada di depan kita. Terkadang kepahitan di masa lalu menjadi petunjuk agar kita tidak terperosok ke dalam lubang yang sama. 

Dalam setiap fase kehidupan kita, pasti pernah mengalami kegagalan. Kegagalan menjadi momok yang sangat menakutkan dan aib yang harus dihindari. Banyak yang takut dengan kegagalan sehingga tidak berani untuk mencoba hal yang baru.

Kegagalan ialah hal yang niscaya terjadi dalam setiap fase kehidupan. Setiap orang pasti pernah gagal dalam hidupnya. Lihat saja seorang bayi yang baru belajar berjalan. Awal dia melangkahkan kakinya, ia tidak langsung berhasil melangkahkan kakinya. Setiap kali bayi kecil itu berusaha untuk melangkah dengan kaki kecilnya, secepat itu juga ia kembali terjatuh dan gagal dalam melangkah.

Apakah bayi itu menyerah untuk terus melangkah? Ternyata tidak. Bayi tersebut kembali bangkit dan mencoba kembali untuk melangkah. Sekali ia gagal melangkah, sekali lagi ia berusaha untuk melangkah. Dua kali ia gagal melangkah, dua kali pula ia berikan usahanya yang terbaik. Berulang-ulang bayi itu gagal melangkahkan kakinya, berulang-ulang pula ia berusa bangkit dan kembali berjuang untuk bisa berjalan.

Setelah kegagalan dan usaha yang berulang, akhirnya bayi tersebut dapat berjalan dengan kedua kaki mungilnya.

Bayangkan jika pada percobaan pertama ia gagal dan tidak mau berusaha kembali, mungkin bayi tersebut tidak akan bisa berjalan selamanya.

Kegagalan bukanlah sesuatu untuk ditakuti, melainkan diantisipasi dan dijadikan petunjuk untuk langkah selanjutnya saat kita menapaki masa depan. 

Ketika kegagalan itu benar-benar terjadi dalam hidup kita, yang perlu kita lakukan adalah bangkit kembali, satu kali lebih banyak dibandingkan jumlah kegagalan yang kita alami. Gagal satu kali bangkit dua kali. Saat itulah kita akhirnya akan meraih kesuksesan dalam hidup kita sendiri. Seperti kisah bayi yang sedang belajar berjalan. Kegagalannya dalam melangkah tidak menjadikan ia terpuruk tetapi menjadi pecut untuk memberikan usaha yang lebih.

Jadikan kepahitan dan kegagalan di masa lalu sebagai salah satu petunjuk untuk kita menapaki masa yang ada di depan kita. Buka lembaran buku yang baru untuk kita isi dengan sesuatu yang baik dan bermanfaat. 

Ibarat kaca spion yang kita lihat sekali-kali saja demi keselamatan kita dalam berkendaraan, begitupun dengan masa lalu kita. Lihatlah sekali-kali saja demi keselamatan kita dalam mengarungi bahtera masa depan.

Jangan sampai kita melihat kaca spion terus menerus hingga mengakibatkan kita celaka atau menabrak kendaraan lain yang ada di depan kita. Jangan sampai kita fokus pada kegagalan kita di masa lalu lalu melupakan tujuan kita di masa depan.

Jangan takut dengan kegagalan. Jangan takut dengan setiap kesulitan yang mungkin akan terjadi pada diri kita. Yakinlah bawa dalam setiap kegagalan, kesulitan, kemalangan, dan kesempitan akan diikuti oleh kesuksesan, kemudahan, kebahagiaan, dan kelapangan.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan; Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. As-Syarh: 5-6)

Wednesday, 11 January 2023

Kututup Tahun 2022 dengan Hamdalah


Banyak peristiwa terjadi di tahun 2022 dan beberapa tahun sebelumnya. Peristiwa yang paling menghebohkan jagat raya hingga lebih dari dua tahun apalagi kalau bukan virus yang keadaannya tidak terlihat tetapi dampaknya sangat dahsyat. 

Seluruh dunia terhenyak menghadapi virus yang kasat mata ini. Bahkan negara adidaya seperti Amerika Serikat kewalahan menghadapi serangan virus yang awalnya muncul di negara Cina. Gelombang kebencian terhadap orang-orang Cina memuncak, bahkan orang dari negara lain di Asia pun kena getahnya terkena gelombang kebencian yang disemburkan rakyat Amerika. 

Asia di tuding menjadi tempat penyebar virus berbahaya yang menggemparkan dunia. Inilah salah satu pemicu semakin besarnya kebencian terhadap bangsa Asia, khususnya Cina yang disebut sebagai negara pertama dengan kasus covid-19.

Pada tahun 2020, menurut data New York City Police Department (NYPD), ada 29 serangan bermotivasi rasial terhadap orang Asia-Amerika di New York City. Sebanyak 24 kasus di antaranya digambarkan memiliki "motivasi virus corona." 

Padahal orang Asia yang tinggal di negeri Paman Sam itu bahkan tidak pernah keluar dari Amerika Serikat ketika virus covid-19 mulai menyebar.

Begitulah sebagain bangsa barat yang seringkali memukul rata tanpa melihat logika. Kebencian mereka terhadap sesuatu seakan menutup akal dan logika mereka.

Ketika serangan virus covid-19 ini semakin masif, denyut kehidupan di dunia serasa terhenti. Tidak ada jadwal penerbangan, tidak ada aktivitas di luar rumah. Semua orang beraktivitas di dalam rumah. Bahkan ada kebiasaan baru saat virus ini merajai dunia, yaitu work from home atau bekerja dari rumah. PHK masal pun terjadi di berbagai belahan dunia. Perputaran uang terhambat menyebabkan krisis ekonomi. Banyak perusahaan yang terpaksa gulung tikar. 

Namun berkah pun di dapat dari peristiwa ini. Para produsen alat-alat kesehatan kebanjiran order sehingga secara otomatis pundi-pundi uang pun masuk ke dalam saku mereka.

Bukan hanya sisi ekonomi yang terdampak, pendidikan pun kena getahnya. Semenjak dilarangnya aktivitas di luar rumah, maka sekolah pun dilakukan di rumah. Kegiatan baru selain work from home adalah belajar secara online. 

Dampak belajar di rumah mulai terasa ketika awal tahun 2022 dimulai kembali belajar sekolah. Banyak siswa yang canggung kembali belajar di sekolah setelah dua tahun lebih belajar secara jarak jauh dari rumah. Terutama siswa baru yang belum pernah sekalipun belajar di sekolah. Beberapa adab pun terlihat menghilang. Banyak siswa yang kurang fokus ketika belajar di dalam kelas. Kebiasaan belajar menghadapi layar komputer, laptop atau smartphone sedikit banyak mempengaruhi kebiasaan belajar siswa. 

Di tahun 2022, untuk pertama kalinya umat muslim di seluruh Indonesia diperbolehkah untuk pulang kampung saat Idul Fitri setelah dua tahun pemerintah melarang tradisi mudik saat lebaran. 

Hampir seluruh umat Muslim di Indonesia berbondong-bondong menggunakan berbagai macam alat transportasi menuju kampung halamannya menuntaskan rasa rindu selama dua tahun tidak bersua dengan handai taulan di kampung halaman.

Namun, beberapa tradisi di saat Idul Fitri masih belum bebas dilakukan. Belum banyak aktivitas yang biasa dilakukan di perayaan Idul Fitri seperti. Prokes masih tetap dilakukan dengan keharusan menggunakan masker ketika salat Ied di lapangan.

Di tahun 2022 ini kemacetan pun kembali menyemarakan suasana pagi dan sore di kota-kota besar. Setelah kurang lebih dua tahun jalanan terbebas dari kemacetan, di tahun ini kemacetan sudah kembali menandakan denyut kehidupan sudah kembali normal. Ekonomi pun berangsur membaik walaupun di tengah ancaman krisis finansial di tahun depan. 

Tahun 2022 menjadi tahun istimewa bagi para pecinta sepak bola karena event 4 tahunan yang diselenggarakan di Qatar. Qatar merupakan negara Islam yang ditunjuk sebagai tuan rumah perhelatan akbar dan kasta tertinggi bagi olahraga sepak bola.

Banyak kontroversi atas ditunjuknya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Kontroversi semakin menjadi ketika tuan rumah Qatar menerapkan aturan-aturan yang dianggap melanggar hak asasi manusia oleh beberapa negara peserta. 

Qatar melarang kampanye kaum pelangi selama perhelatan Piala Dunia berlangsung. Tidak boleh ada simbol-simbol kaum pelangi masuk ke dalam kegiatan Piala Dunia. Qatar juga tidak memperbolehkan penggunaan minuman keras selama Piala Dunia berlangsung. 

Sebagian sangat menentang aturan yang diberlakukan oleh Qatar sebagai tuan rumah, namun sebagian besar tidak merasa dirugikan dengan aturan yang diberlakukan. 

Qatar memberikan sentuhan yang unik dan luar biasa pada perhelatan Piala Dunia sepanjang masa. Tidak ada yang menyangka negara kecil seperti Qatar sanggup mengadakan event internasional dengan hasil yang sangat mengagumkan.

Umat muslim patut berbangga dengan keberhasilan Qatar menggelar event 4 tahunan tersebut karena gaung keislaman semakin keras terdengar. Banyak penonton dari berbagai negara yang berkunjung ke Qatar mengenal Islam lebih jauh. Mereka diperdengatkan adzan sebanyak lima kali sehari sehingga terbiasa mendengar lantunan adzan ketika mereka tinggal di Qatar. 

Qatar melakukan penyambutan Piala Dunia 2022 dengan menyampaikan hadits-hadits Nabi, pembacaan Al Quran, pelarangan mabuk, seks dan LGBT sesuai Hukum Negara Qatar. Dakwah bagi umat Islam sendiri menjadi sesuatu yang harus diupayakan oleh setiap muslim. 

Dilaporkan bahwa tidak kurang dari 500 orang mengucapkan syahadat ketika Piala Dunia 2022 di Qatar masih berlangsung. Syekh Muhammad Jaber menyatakan bahwa Piala Dunia 2022 masuk sejarah sebab persiapan Qatar tidak hanya untuk sepak bola, tetapi juga mendakwahkan ajaran agama Islam.

Pendakwah tersebut juga menambahkan bahwa sebelum Piala Dunia 2022 bergulir sudah ada 585 orang yang masuk agama Islam.

Di penghujung Tahun 2022 juga menjadi duka bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat Cianjur. Gempa berkekuatan 5,6 skala richter dengan kedalaman 10 km mengguncang kota Cianjur dan meluluhlantakkan bangunan-bangunan dan gedung-gedung. Tidak ada yang menyangka gempa yang terjadi di siang hari itu mengakibatkan banyak korban meninggal dan luka-luka. 

Itulah suka duka yang terjadi sepanjang tahun 2022. Ada kabar gembira dan juga kabar duka. Semua musibah yang terjadi pada kita, kita anggap sebagai ujian yang Allah berikan kepada kita agar menjadi hamba yang lebih bersyukur dan bertawakal. 

Kita tutup lembaran di tahun 2022 dengan hati yang ikhlas. Berharap di tahun selanjutnya Allah semakin memberkahi semua derap langkah kita untuk mengisi tahun 2023 dengan amal-amal kebaikan.

Saturday, 24 December 2022

Wujud Cinta Allah

Apakah kita pernah menyadari bentuk cinta Allah kepada kita itu berupa berbagai ujian atau cobaan yang ditimpakan kepada kita di dunia ini?

Sejatinya ujian atau cobaan itu mencerminkan kasih sayang dan keadilan Allah Ta'ala kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Allah Swt "tidak ingin" menimpakan balasan yang tak terkira perih dan pedihnya di akhirat kelak hingga Dia menggantinya dengan memberikan ujian, cobaan, dan musibah di dunia yang ringan dan sedikit.

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155).

Hendaknya kita berhusnudzon atau berprasangka baik pada Allah bahwa semakin Allah cinta kepada kita, maka semakin berat juga ujian yang diberikan pada kita. Sesungguhnya ujian yang Allah berikan pada kita akan semakin menaikkan derajat dan kemuliaan kita di hadapan Allah, lebih lagi ujian, cobaan, dan musibah yang kita alami akan menggugurkan dosa-dosa yang pernah kita berbuat.

Bagaimana kita meyakini bahwa ujian, cobaan, dan musibah yang Allah berikan kepada kita itu manifestasi cinta Allah pada kita?

Jika kita senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala apa yang diharamkan-Nya, maka yakinlah segala ujian dan cobaan yang Allah timpakan ada kita adalah bentuk cinta-Nya pada kita.

Orang yang paling Allah cintai adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia-manusia yang paling berat dan banyak dalam menerima ujian dan cobaan semasa hidup mereka. 

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling keras ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya (ujiannya ringan). Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih).

Ujian yang Allah berikan pada para nabi sangat berat melebihi ujian yang diberikan kepada manusia lainnya. Contohnya Nabi Ayub as yang diuji oleh Allah dengan kemiskinan dan penyakit yang sangat berat selama berpuluh-puluh tahun, tapi ia tetap sabar dan semakin bertakwa pada Sang Pencipta.

Dalam Al Qur'an tertulis janji Allah, ''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta'' (Qs. Al Ankabut: 2-3).

"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari Kiamat'' (HR Imam Ahmad, At Turmidzi, Hakim, Ath Thabrani, dan Baihaqi).

Jadi, kecintaan Allah kepada kita di dunia tidak selalu diwujudkan dalam bentuk kesenangan atau kenikmatan lainnya. Kecintaan Allah bisa berbentuk ujian, cobaan, dan juga musibah. Semoga kesabaran kita semakin meningkat dengan berbagai ujian yang Allah timpakan kepada kita sehingga terangkat derajat kita di hadapan Allah Swt.

Wallahu'alam...

Sunday, 18 December 2022

Kata Jomblo Tentang Perceraian

Perceraian adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam agama tetapi dibenci Sang Pencipta bumi dan seisinya. Gak terbayangkan kan rasanya jika kita melakukan hal yang dibenci oleh Tuhan.
Walaupun dibenci toh banyak pasangan yang sangat paham agama tapi tetap saja bercerai. 

Alasannya sih beragam, mulai dari sudah tidak ada kecocokan sampai kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT.  Nah, alasan yang terakhir ini sih bisa jadi hukumnya malah 'wajib' untuk bercerai. Jika seorang istri terus-terusan mendapatkan perlakuan kasar dari si suami, ia sangat boleh untuk menggugat cerai dan bisa dipastikan juga pengadilan akan mudah untuk memberikan putusan cerai.

Maraknya kasus perceraian sedikit banyak mempengaruhi para jomblo terutama kaum perempuan. Tidak dipungkiri akan ada rasa cemas dan khawatir jika kelak perceraian akan terjadi dalam pernikahan. 

Mungkin, ini sih hanya kemungkinan kecil dan sepertinya belum ada riset mengenai korelasi antara jomblo dan perceraian. Salah satu alasan para jomblo, khususnya perempuan ini 'enggan' menikah karena khawatir mendapatkan perlakuan tidak baik dari pasangan hingga terjadi perceraian dalam pernikahan mereka.

Kalau memang bisa bahagia tanpa menikah, untuk apa menikah yang mungkin akan memberikan penderitaan dalam hidupnya.

Sebenarnya, pemikiran tersebut tidak bisa dibilang salah pun tidak bisa dibenarkan karena sebenarnya kebahagian ataupun kesedihan dalam pernikahan itu tergantung mindset kita. Kalau dari awal kita sudah memandang negatif pada sebuah pernikahan maka ia akan negatif tetapi sebaliknya jika kita berprasangka baik maka pernikahan kita pun akan baik. Kalaupun ada beberapa ganjalan dan hambatan dalam pernikahan itu sih wajar. 

Nabi Muhammad Saw mengabarkan bahwa Allah berfirman, "Aku sesuai persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau" (HR. Ahmad).

Jadi kita harus yakin dengan firman Allah di atas. Jika kita berprasangka baik, maka akan Allah beri kebaikan pada kita.

Buat para perempuan single di manapun berada, terkhusus bagi diri saya sendiri. Berprasangka baiklah pada Allah tentang jodoh dan pernikahan kita kelak. Yakinlah bahwa Allah akan memberikan jodoh yang baik pun pernikahan yang langgeng untuk kita. Berpikirlah positif dengan jodoh kita yang walaupun hanya sebentar berjodoh di dunia karena terpisahkan oleh ajal, tetapi bisa berjodoh selamanya di surga yang abadi.

Wednesday, 5 October 2022

Pro dan Kontra: Mengajarkan Calistung Pada Anak Usia Dini

 



Mengajarkan membaca, menulis dan berhitung pada anak usia dini masih jadi perdebatan. Pihak yang kontra dengan pembelajaran calistung pada usia dini berpendapat bahwa pada usia 3-6 tahun adalah usia anak-anak untuk bermain sehingga tidak boleh anak dibebankan untuk belajar calistung. Sejalan dengan ini, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listiyarti menyatakan bahwa pemaksaan belajar membaca dapat menghambat pertumbuhan otak kanan anak.

Pihak yang pro dengan pembelajaran calistung pada usia dini berpendapat bahwa semakin dini anak belajar calistung maka akan bagus untuk perkembangan kognitif mereka. Sejalan dengan ini Herbert Spencer menyatakan bahwa otak tidak boleh mengalami kelaparan. Pendidikan harus dimulai sejak masih bayi dalam suasana yang menarik. Anak yang memperoleh informasi melalui tugas-tugas yang melelahkan disertai ancaman hukuman tidak menjadi murid yang baik dikemudian hari, sedangkan yang menerima dengan cara yang alami pada saat yang tepat, biasanya akan terus belajar sendiri sepanjang hidupnya.

Jadi sebenarnya boleh saja mengajarkan calistung pada anak usia dini dengan syarat pembelajarannya harus menyenangkan. Jangan sampai anak merasa terbebani dalam proses pembelajarannya. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah seorang balita boleh diajarkan membaca atau tidak tetapi  ”Bagaimana mengajar anak balita membaca dengan cara yang menyenangkan sehingga mereka menganggap belajar calistung itu seperti bermain.

Nah, sekarang bagaimana cara untuk mengajarkan baca, tulis dan hitung dengan cara yang menyenangkan, sehingga anak-anak pada usia dini bisa belajar baca, tulis dan hitung dengan optimal tanpa merampas waktu mereka untuk bermain, menikmati masa usia dini mereka.

Kita harus membuat program belajar baca dan tulis pada anak usia dini dengan mengedepankan metode yang menyenangkan dalam belajar baca dan tulis serta tidak ada target pencapaian (pemaksaan) yang harus diraih oleh anak. Anak-anak yang belajar calistung harus diberikan metode belajar yang menyenangkan melalui video (multimedia), flashcard (kartu), permainan, lagu dan aktivitas-aktivitas kreatif lainnya yang menyenangkan. Dan yang terpenting adalah tidak memaksa anak untuk mencapai target ‘harus’ bisa membaca dan menulis pada waktu yang ditentukan. Anak akan dibiarkan secara natural melalui proses belajar yang menyenangkan sehingga dapat lebih mengoptimal anak dalam proses belajarnya. Seperti yang dinyatakan oleh Glenn Doman, bahwa anak yang senang belajar sejak usia dini maka dia akan terus belajar sendiri sepanjang hidupnya.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa digunakan untuk melakukan pembelajaran baca tulis pada anak usia dini:

1. Media

Menurut Glen Doman, seorang anak bisa dengan secara otomatis belajar membaca karena mereka melihat dan mendengar kata/ kalimat yang berulang-ulang dari sebuah iklah di televisi. Misalnya, seorang anak akan dapat membaca kata ‘honda’ karena sering melihat tulisan dan mendengar kata ‘honda’ pada sebuah iklan. Oleh karena alasan ini, penting dalam proses pembelajaran baca dan tulis dengan melibatkan media berupa video (multimedia).

2. Flashcard (Kartu)

Menurut Nora Nagy dalam Helblingreaders.com, penggunaan flashcard yang menarik dapat membantu anak-anak untuk belajar membaca.

3. ‘Move’ dan ‘Act’

Dalam ‘Move’ dan ‘Act’ ini anak-anak belajar membaca dengan bergerak. Mereka mengatraksikan kata yang mereka baca. Misalnya, ketika mereka membaca kata ‘tiup’  maka mereka melakukan gerakan meniup, atau ketika membaca kata ‘lompat’ maka mereka melakukan gerakan melompat, dan seterusnya.

4. Bermain ‘games’

Dalam belajar membaca dan menulis, anak-anak usia dini akan menyukainya jika dibarengi dengan kegiatan bermain. Anak-anak juga akan senang jika mereka diberi kesempatan untuk menciptakan permainan oleh mereka sendiri.

5. Lagu

Melalui lagu, anak-anak usia dini akan senang menjalani proses pembelajaran membaca.

6. Berkelompok

Anak-anak akan senang belajar ketika mereka berkelompok.

7. Kata Bermakna

Anak-anak akan belajar membaca kata yang bermakna. Contohnya, membaca kata ‘mata’ bermakna bagian tubuh yang berfungsi untuk melihat.